Jelang GP Jepang 2018: Kenangan Emosional Leclerc Atas Suzuka

RR Ukirsari Manggalani
Jelang GP Jepang 2018: Kenangan Emosional Leclerc Atas Suzuka
Charles Leclerc (kanan) berfoto bersama juara dunia F1 dua kali, Mika Hakkinen sebelum mengikuti balap Riviera Water Bike Challenge yang mendukung badan amal Princess Charlene, di Monako, Juni 2018 [AFP/Eric Gaillard/Pool].

Ia menyatakan tidak tampil mengenakan benda khusus untuk mengenang sahabatnya.

Suara.com - Balap Formula One (F1) GP Jepang 2018 bakal berlangsung di Sirkuit Suzuka pekan ini (7/10/2018). Bila ditanya pilot jet darat mana yang merasakan suasana emosional, salah satunya adalah driver tim Sauber, Charles Leclerc. Pendatang baru yang siap membalap bersama tim besar, Scuderia Ferrari pada 2019.

Bukan persoalan teknis di trek, termasuk peluang untuk menang (mengingat dia adalah driver papan tengah saat ini serta belum pernah turun di sini), namun kenangan pebalap berjuluk Harry Potter atau Daniel Radcliffe ini atas Sirkuit Suzuka yang bakal membuat emosinya bakal campur aduk. Demikian dilansir kantor berita Antara dari Reuters.

Pada 2014, Jules Bianchi turun membela tim Marussia di GP Jepang yang dipentaskan di bawah cuaca buruk karena terjadinya Topan Phanfone, dan membawa dampak terhadap kondisi visual serta trek.

Tragis, ia menabrak pagar pembatas serta mengalami cedera kepala parah, yang membuatnya berada dalam kondisi koma sampai di akhir hayatnya, di 2015.

Bagi Charles Leclerc, nama Jules Bianchi tak ubahnya keluarga sendiri. Ayah kedua driver;  Herve Leclerc dan Philippe Bianchi adalah teman baik sejak kecil. Hal itu menurun kepada anak-anak mereka.

Selain teman bermain, Charles Leclerc dan Jules Bianchi berlatih bersama di trek yang berlokasi tak jauh dari kediaman Bianchi di Perancis. Setelah Leclerc mengasah talenta balap di Ferrari Driving Academy, Leclerc pun menyusul di angkatan berikutnya. Tak heran, saat keluarga Bianchi bertolak ke Jepang untuk menjemput Jules pasca tragedi Suzuka 2014, salah satu saudara Charles turut dalam rombongan.

Tribute yang diberikan kepada Jules Bianchi saat berlangsung F1 GP Suzuka 26 September 2015 [Yuriko Nakao/AFP].
Tribute yang diberikan kepada Jules Bianchi saat berlangsung F1 GP Suzuka 26 September 2015 [AFP/Yuriko Nakao].

Kenangan tragis itulah yang mesti dihadapi Leclerc pekan ini. Driver muda yang saat turun berlaga di GP Monako 2018 mengenakan helm berdesain khusus mengenang ayahnya, mantan driver di Formula 3 dan wafat sekitar tahun lalu.

"Saya belum pernah ke Jepang sebelumnya, dan trek di Suzuka rasanya cukup emosional. Ini adalah akhir pekan yang sangat sulit," tutur Charles Leclerc yang lahir di Monte Carlo, Monako, Kamis lalu (4/10/2018).

Driver yang tahun depan akan turun bersama Sebastian Vettel sebagai mitra satu tim ini menambahkan, "Jules telah membantu saya agar balap di sini, ia lebih dari sekadar teman saat balap. Dia sudah seperti keluarga sendiri."

Toh ia menyatakan kemudian, bahwa ia tak akan mengenakan benda khusus untuk mengenang Jules Bianchi.

"Saya benar-benar memikirkan tentang desain helm untuk tahun depan, dan Anda pasti tahu, ada peraturan di F1 yang menyatakan dibolehkan satu kali mengenakan helm khusus," tandasnya.

"Tahun ini temanya adalah untuk ayah saya, dan tahun depan inginnya lebih banyak, satu sisi untuk Jules, satu untuk ayah saya," tutup Charles Leclerc.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS