PBSI Berharap Kasus Wahyu Nayaka Jadi Pembelajaran bagi Atlet Pelatnas

Reky Kalumata | Arief Apriadi
PBSI Berharap Kasus Wahyu Nayaka Jadi Pembelajaran bagi Atlet Pelatnas
Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti. (Suara.com/Arief Apriadi)

PBSI telah memberikan hukuman skorsing enam bulan kepada Wahyu.

Suara.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI, Susy Susanti, berharap diskorsingnya Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira bisa menjadi pembelajaran. Susy meminta atlet penghuni pelatnas lainnya untuk tak mengulangi kesalahan pebulutangkis 24 tahun tersebut.

Sebagaimana diketahui, PBSI memberikan hukuman skorsing enam bulan kepada Wahyu. Pebulutangkis spesialis ganda putra itu dianggap melanggar peraturan PBSI terkait larangan bermain di liga bulutangkis profesional.

PBSI menyebut nama Wahyu kedapatan tercantum dalam salah satu klub yang berlaga di liga bulutangkis profesional Malaysia pada Desember 2018 lalu. Padahal, secara aturan, PBSI sangat melarang para pemainnya berlaga di luar pelatnas.

Pelatih ganda putra pelatnas PBSI, Herry Iman Pierngadi sendiri sudah memberi penjelasan bahwa anak didiknya itu tak bermain di Malaysia. Namun, Herry menyebut Wahyu secara terang-terangan mengetahui jika namanya 'dipinjam' oleh salah satu klub.

Pasangan ganda putra Indonesia, Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso, takluk dari kompatriotnya, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, di babak pertama Cina Open 2018, Selasa (19/9). The Minions—julukan Kevin/Marcus—menang 17-21, 21-13 dan 21-13. [Humas PBSI]
Pasangan ganda putra Indonesia, Wahyu Nayaka Arya Pangkaryanira/Ade Yusuf Santoso, takluk dari kompatriotnya, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, di babak pertama Cina Open 2018, Selasa (19/9). The Minions—julukan Kevin/Marcus—menang 17-21, 21-13 dan 21-13. [Humas PBSI]

Menurut Susy, kasus yang melibatkan Wahyu Nayaka tak bisa dianggap enteng. Sebab, dirinya khawatir, jika tak ditindak tegas, kasus-kasus seperti itu bakal marak terjadi pada atlet pelatnas lainnya.

"Sekarang begini, kalau seumpama (kasus Wahyu ini) kita diamkan, yang namanya Kevin (Sanjaya), Jonatan Christie, bisa saja dicatut juga di liga (bulutangkis) China. Kalau itu terjadi terus bagaimana?," ujar Susy Susanti saat dihubungi Suara.com, Kamis (17/1/2019).

Menurut Susy, peraturan terkait larangan para pemain pelatnas mengikuti liga bulutangkis profesional adalah mutlak. Bahkan, saat para penyelenggara liga profesional seperti Premier Badminton League (PBL India) memberikan undangan agar atlet pelatnas turut berpartisipasi, PBSI langsung menolak.

Susy menyebut, PBSI naik pitam karena menganggap Wahyu sebenarnya tahu dan justru membiarkan jika namanya dicatut salah satu klub Malaysia.

"Sekararang, kalau memang namanya dicatut tanpa persetujuan, Wahyu harusnya bisa menuntut loh. Tapi kan tidak, sudah begitu dia (juga) tidak memberitahu kita," beber Susy geram.

"(Lalu) dimana wajah PBSI kalau seperti itu? Seenaknya dipermainkan negara lain, mau? Padahal dalam aturan PBSI sebelumnya sudah jelas mereka (penyelenggara liga bulutangkis profesional) meminta izin pun kita sudah tolak. Jadi (pemain pelatnas) tidak bisa seenaknya," tukasnya.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS