alexametrics

Atlet Korea Tuduh Peraih Medali Emas Iran di Cabor Menembak Olimpiade Tokyo Adalah Teroris

Rauhanda Riyantama | Arif Budi
Atlet Korea Tuduh Peraih Medali Emas Iran di Cabor Menembak Olimpiade Tokyo Adalah Teroris
Javad Foroughi, atlet Iran yang disebut teroris oleh penembak Korea Selatan, Jin Jong-oh. (Tauseef MUSTAFA / AFP)

Atlet Korea Selatan, Jin Jong-oh sebut kontingen Iran adalah teroris.

Suara.com - Atlet Korea Selatan, Jin Jong-oh, menuding peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 asal Iran di cabor menembak 10 meter Air Pistol putra, Javad Foroughi adalah seorang teroris.

Jin Jong-oh dan Javad Foroughi sama-sama bertanding di cabor menembak 10 meter Air Pistol putra. Namun, kedua atlet itu bernasib beda. Foroughi berhasil meraih medali emas, sedangkan Jing Jong-oh gagal lolo di kualifikasi.

Setelah kemenangan Javad Foroughi, Jing Jong-oh yang pernah mencicipi empat medali emas Olimpiade kemudian menyatakan protes kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Bahkan Jin Jong-oh mengeluarkan tuduhan serius dengan menyebut atlet asal Iran itu sebagai teroris karena merupakan anggota Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Baca Juga: Penonton Bulutangkis Kecewa Terhadap Komentator Indosiar

"Bagaimana bisa seorang teroris memenangkan tempat pertama? Itu adalah hal aneh dan konyol," ucap Jin Jong-ih dikutip dari laporan Korean Times.

Javad Foroughi, atlet Iran yang disebut teroris oleh penembak Korea Selatan, Jin Jong-oh. (Tauseef MUSTAFA / AFP)
Javad Foroughi, atlet Iran yang disebut teroris oleh penembak Korea Selatan, Jin Jong-oh. (Tauseef MUSTAFA / AFP)

Bukan hanya itu, kritikan yang sama juga datang dari pembela HAM (Hak Asasi Manusia), United for Navid. Organisasi itu meminta IOC membatalkan medali yang diraih oleh Foroughi karena terlibat dalam organisasi yang disebut teroris.

"Kami menilai medali emas Olimpiade Javad Foroughi bukan hanya malapetaka bagi olahraga Iran, tapi juga untuk komunitas internasional dan reputasi IOC," tulis pernyataan United for Navid.

"Foroughi yang berusia 31 tahun saat ini masih jadi anggota organisasi teroris. IRGC punya riwayat kekerasa dan pembunuhan tidak hanya kepada orang Iran dan demonstran, tapi orang tak bersalah di Suriah, Irak, dan Lebanon. Amerika Serikat juga menganggapnya (IRGC) adalah organisasi teroris asing," imbuhnya.

Di sisi lain, Foroughi mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang bekerja sebagai perawat. Kemampuan menembaknya didapat ketika berlatih di sela-sela waktu luangnya bekerja.

Baca Juga: Olimpide Tokyo: Jumpa Chen Long di Semifinal, Ginting Punya Rekor Mentereng!

Komentar