Sukabumi.Suara.Com - Pembunuhan berantai di Banjarnegara dilakukan oleh seorang dukun pengganda uang membuat geger seluruh Indonesia. Diketahui, dukun tersebut menghabisi nyawa 12 orang dan mengubur jenazah mereka hingga beberapa di antaranya sulit teridentifikasi.
Mbah Slamet mempromosikan dirinya sebagai dukun pengganda uang melalui aplikasi Facebook. Dalam menjalankan aksinya, Mbah Slamet dibantu oleh seseorang berinisial BS yang bertugas mempromosikan pelaku yang disebut bisa menggandakan uang.abumi.Com -
"Jadi pelaku ini memiliki tangan kanan yakni BS yang bertugas mengunggah di Facebook. Dalam unggahannya ini BS menyebut jika pelaku ini orang pintar yang bisa menggandakan uang," kata Kapolres Banjarnegara AKBP Hendri Yulianto.
Setelah membuat postingan, BS membuat jadwal untuk mempertemukan korban dengan Mbah Slamet. Namun, karena uang yang dijanjikan oleh dukun tersebut tidak kunjung ada, korban kembali mendatangi pelaku untuk menagih.
"Korban ini menginginkan penggadaan uang. Jadi pelaku mengaku bisa menggandakan uang," ungkap Hendri.
"Korban sudah memberikan mahar berkali-kali. Kemudian korban berusaha menagih karena yang katanya bisa menggandakan uang tapi tidak diberikan," tambahnya
Selain mengaku sebagai dukun pengganda uang, ternyata Mbah Slamet pernah ditangkap polisi karena transaksi uang palsu (upal) di Pekalongan, Januari 2019 lalu. Ia tertangkap saat akan melakukan transaksi di sebuah minimarket di Wiradesa, Pekalongan.
hasil pemeriksaan, polisi menemukan 10 jenazah dalam makam massal di kebun milik pelaku di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara. Dari kesepuluh jenazah, hanya satu yang berhasil teridentifikasi, yaitu PO (53), pria asal Sukabumi, Jawa Barat.
Sembilan korban Mbah Slamet masih belum bisa teridentifikasi karena tinggal kerangka. Ia mengaku lupa dengan nama-nama korban dan hanya mengingat daerah asalnya.
Baca Juga: Indonesia Terhindar dari Sanksi Berat FIFA, Erick Thohir: Hanya Dapat Kartu Kuning
"Dari tersangka belum bisa mengingat nama-nama korban. Tetapi kalau asalnya mana saja masih ingat. Yakni ada yang dari Tasikmalaya, Palembang, Jogja, dan Jakarta. Untuk Tasikmalaya ada 2 korban," ungkap Kapolres Banjarnegara AKBP Hendri Yulianto, Selasa (4/4/2023).
Setelah penemuan 10 jenazah, polisi kembali menemukan dua korban lainnya di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara pada Selasa (4/4/2023). Pelaku mengatakan kedua korban pembunuhan berantai di Banjarnegara itu merupakan pasangan suami istri.
"Yang ditemukan hari ini pelaku masih ingat. Namanya Ersyad. Dan satu korban lagi itu istrinya. Tetapi pelaku ini tidak mengenalinya," sambungnya.
Dalam melakukan aksinya, korban dibawa ke kebun dengan dalih ritual. Sebelum membunuh pelaku mengaku memberi racun jenis Potasium dan dicampur obat penenang. Selang 5 menit usai meminum racun tersebut korban langsung muntah dan tak bisa teriak untuk meminta tolong.
Pelaku juga mengaku bahwa mengubur korban setelah nadinya tak berdetak.
Sembilan jenazah korban pembunuhan berantai di Banjarnegara akhirnya dikebumikan. Kesembilan jenazah itu dimasukkan ke dalam sembilan peti putih tanpa nama karena mereka tidak teridentifikasi.