Sukabumi.suara.com - Bogor, 2 Juli 2023 - Pada malam Senin, tanggal 2 Juli 2023, acara Nyawang Bulan Purnama Series 04 digelar dengan sukses di Katumbiri Resort, Desa Cibalung, Cijeruk, Bogor.
Malam mengayun cuaca tidak terlalu dingin. Ekspektasi bahwa peserta kegiatan yang dilakukan di malam senin akan sedikit ternyata menyalahi. Puluhan peserta hadir dalam kegiatan tersebut dari mulai anak-anak sampai dengan orang tua.
Dengan tema "Purnamasari di Katumbiri, Ngaruwat Bumi, Sastra Jendra Pangruwating Diyu," acara ini menghadirkan berbagai kegiatan yang mempromosikan kekayaan budaya Sunda dan Nusantara. Berikut adalah rangkaian acara yang terjadi dalam Nyawang Bulan Series 04 Ngaruwat:
Acara dimulai pukul 19.30 dengan acara registrasi dan ramah tamah antara peserta. Suasana hangat dan akrab tercipta sejak awal acara. Terlihat puluhan orang dengan pakaian adat berbaur sambil ngopi dan berbincang. Menu makan malam yang disajikan pun nasi liwet dengan lauk pauk tradisional. Pertemuan nila, ikan air tawar dengan ikan asin dari laut.
![Nyawang Bulan Menampilkan Gendis [Dok. Sutanandika]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2023/07/03/1-nyawang-bulan1.jpg)
Pembukaan acara ditandai dengan penampilan Etno Musik yang memukau. Lagu Bubuka, Katumbiri, dan Wangsit Siliwangi mengalun memukau para hadirin. Penampilan Agung, Emin dan kawan-kawan memukau para peserta. Alat musik bambu celempung, karinding, kacapi dan yang lainnya tidak hanya mengiringi pembukaan namun juga diseluruh perjalanan kegiatan.
Kemudia Rajah Pantun Pamuka yang dilantunkan membawa peserta pada keheningan spiritual. Kemudian ditutup dengan para peserta diajak untuk mengikuti alunan musik.
Acara dilanjutkan dengan penampilan Seniman cilik Gendis dan Satria yang menyanyikan lagu Sunda yang berjudul Manuk Dadali. Penampilan ini mendapat apresiasi yang baik dari para penonton.
Pembukaan disampaikan oleh Kang Yudi GM dari Katumbiri Resort. Sambutan ini berisi bahwa Katumbiri Resort memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian budaya lokal dan memperkenalkan peran penting komunitas dalam melestarikannya. Dibahas pula perjalanan kegiatan Nyawang bulan sudah sampai dengan edisi keempat.
Sambutan dari Perwakilan Komunitas Lembur Urang, Kampung Kita Nusantara disampaikan oleh Kang Asep Kabayan. Beliau mengapresiasi sekali komitmen para pelaku budaya dan pihak Katumbiri Resort. Kegiatan ini menghadirkan generasi Sunda dan Nusantara yang masagi, Nyantri, Nyunda, Nyakola... Beragama, Berbudaya, Berpendidikan, Pungkasnya.
![Diskusi tentang Budaya Sesajen [Dok. Sutanandika]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2023/07/03/1-sesajen.jpg)
Rajah Pantun dan Tarawangsa menjadi sorotan. Rajah Pamuka adalah lantunan doa meminta ijin berlangsungnya kegiatan. Selanjutnya Peserta diajak untuk menari bersama dalam mengapresiasi seni tarawangsa dan menikmati sastra tradisional Sunda melalui rajah pantun.
Setelah Pembukaan, diberikan materi kaulinan barudak, permainan anak-anak. Peserta yang memang berasal dari beragam budaya dan latar belakang sangat antusias mempraktekan permainan, heuheulangan, paparahuan, dan babalonan.
Acara dilanjutkan dengan Ngopi Budaya dan Ngobrol Filosofi Budaya Sunda dan Nusantara. Peserta diajak untuk berdiskusi tentang kearifan lokal, adat istiadat, sastra Jendra Pangruwating Diyu, ngertakeun bumi, pesan kuliner warisan leluhur, dan pilosofi musik.
Khusus dalam hadir dalam acara diskusi. Pemateri Pak Sulaiman Datuk yang membahas secara filosofis tema sesajen. Sesajen adalah produk budaya yang merupakan implementasi manusia untuk berdamai dengan alam dan kekuatan yang diyakininya.
Sesajen tidak hanya berada dalam budaya Indonesia, tapi ada di berbagai belahan dunia lain. Contoh yang paling nyata ada dalam kultur masyarakat agraris dan masih bisa disaksikan sampai saat ini.
![Permainan Anak-anak dengan media sarung [Dok. Sutanandika]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2023/07/03/1-screenshot-2023-07-03-110727.png)
Pria yang pernah mengenyam pendidikan dan tinggal di Belgia ini menutup diskusi dengan bahwa sesajian atau sesajen adalah produk budaya. Jika memang tidak suka tidak usah dibenturkan dengan nilai-nilai yang lain seperti agama. Karena ketenangan masing-masing individu berbeda sesuai dengan keyakinan masing-masing dan tidak usah saling memaksakan.
Hadir pula dalam kegiatan ini Ibu Kinara Kejora. Seorang Lulusan cumlaude Fakultas Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya ini adalah seorang Tenaga Ahli Sosial Ekonomi Perikanan sebuah kantor konsultan di Jakarta ini lebih menyukai disebut sebagai writerpreneur. Beliau Telah menulis 172 buku solo, baik fiksi maupun nonfiksi.
Novel best seller yang diangkat ke film, Air Mata Terakhir Bunda terpilih sebagai: Best Feature Movie Balinale International Film Festival 2013. Nominasi FFI 2013 (Pemeran Utama Wanita, Penata Artistik, Skenario Film). Film Inspiratif Kemdikbud 2013.
Dalam diskusi ia menyampaikan bahwa perjalanan spiritualnya hasil berkeliling Indonesia membuktikan bahwa sesajen ada dalam berbagai aspek budaya masyarakat Indonesia dan memberikan pengaruh positif terhadap perilaku para pelakunya.
Di sela-sela ngobrol, peserta juga dapat menikmati musik ngejams yang mengiringi suasana. Pukul 23.00 hingga 24.00, acara ditutup dengan Ngaruwat Bumi, Hening, dan Doa Bersama. Para peserta menyatu dalam keheningan dan berdoa bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan harapan.
Acara Nyawang Bulan Purnama Series 04 Ngaruwat di Katumbiri Resort ini memberikan pengalaman yang berharga dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya Sunda dan Nusantara. Peserta acara meninggalkan tempat dengan rasa kagum akan kekayaan budaya Indonesia dan semangat untuk terus mempromosikan warisan leluhur.
Penutupan acara ini juga menandai keberhasilan penyelenggara dalam menciptakan acara yang berkesan dan bermakna bagi semua peserta. Semoga acara semacam ini dapat terus dilaksanakan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia yang kaya dan beragam.