Suara Sumatera- Pemerintah resmi menetapkan 1 Syawal 1444 hijriah pada tanggal 22 April 2023, yang jatuh pada hari Sabtu. Hal ini berbeda dengan Muhammadiyah yang sudha lebih dahulu menetapkan 1 Syawal pada 21 April 2023.
Pada Kamis (21/4/2023) malam, umat muslim Muhammadiyah sudah melaksanakan takbir yang menjadi penanda sebagai masuk 1 Syawal 1444 hijriah. Perbedaan ini pun dinilai pendakwah asal Sumatera, Ustaz Abdul Somad atau UAS agar disesuaikan pada apa yang dianggap benar.
UAS-panggilan populer Ustaz Abdul Somad, mencontohkan bagaimana negara Mesir melakukan upaya agar satu suara dalam penetapan 1 Syawal. Di YouTube Goto Islam pada Sabtu, (15/4/2023), ia menggungkapkan soal ketaatan kepada Ulil Amri.
Siapa sosok Ulil Amri yang dimaksud, tentu akan sesuai dengan pemikiran yang dirasa benar. UAS pun kemudian menekankan jika Ulil Amri yang dimaksud bukan pemimpin melainkan ulama.
"Datang dari kelompok ini 'ati'ullaha wa ati rasul wa ulil amri minkum' taatlah kepada Ulil Amri. Kemudian kata yang Muhammadiyah Ulil Amri itu Din Syamsuddin, bukan Jokowi. Karena ini kan tidak diangkat berdasarkan suroh, coba tengok tafsirnya, Ulil Amri itu ulama bukan pemimpin ini demokrasi kata dia, kata yang satu lagi kamu kalau engga mau ikut presiden bakar aja KTP-mu, pergi tinggal di hutan sana, akhirnya berkelahinya," ujar Ustaz Abdul Somad.
Di Mesir, juga terjadi perbedaan pandangan dalam menetapkan 1 Ramadhan atau 1 Syawal dilakukan dengan cara kombinasi dua sistem.
"Itu yang terjadi di Mesir, antara hisab ilmu astronomi dengan rukyat dikombinasikan, jadi keduanya bukan dikonfrontir ditabrakan, tapi dikombinasikan, jadi harusnya keluar satu suara," ungkapnya.
UAS pun menyarankan untuk meyakini apa yang dipikir benar. "Saya pribadi menyarankan, ikutlah apa yang engkau yakini benar menurut engkau, walaupun seribu orang berfatwa memberikan fatwa kepadamu. Fatwa yang dikeluarin oleh Muhammadiyah benar. Fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) benar," papar UAS.
Perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama terletak pada angka minimal.
Baca Juga: Ahmad Dhani Ketar Ketir Mama Lauren Beri Kode ke Maia Estianty, Mulan Jameela Ikut Gugup?
"MUI dan NU menetapkan angka dua derajat, jika dua derajat dia dapat dikatakan hilal, bila kurang bukan hilal. Tapi Muhammadiyah dia mengatakan 0,5 derajat pun kalau sudah itu hilal, maka dia adalah hilal, maka boleh, di situ letak persimpangannya," ungkap UAS yang menjelaskan mengapa Muhammadiyah dan NU berbeda menetapkan 1 Syawal 1444 hijriah.
UAS pun menilai, pertentangan lebih terjadi karena sidang isbatnya dibahas ke publik. Sidang isbat sebaiknya dilakukan di ruangan tertutup, sehingga jika NU sama Muhammadiyah kelahi, maka terjadi di ruang tertutup itu
"Tapi satu suara yang keluar," pungkas UAS.