Arema FC buka suara perihal kericuhan suporter di Stadion Brawijaya dalam pertandingan melawan Persik Kediri, Sabtu (15/7).
Pihak manajemen Arema FC mengaku sangat menyayangkan terjadinya kericuhan yang terjadi di pekan ke-3 BRI Liga 1 2023-2024 tersebut.
Dalam pernyataannya, pihak Arema yang diwakili oleh manajer tim, Wiebie Dwi Andriyas menyebut soal hati nurani. Menurutnya, kehadiran suporter yang diduga pendukung Arema itu berdasarkan hati nurani untuk berikan dukungan kepada Singo Edan.
Disampaikan oleh Wiebie, terkait larangan suporter datang ke laga away, ia menyebut bahwal hal tersebut masih dalam proses adaptasi para suporter.
“Mungkin berlebihan jika mereka disebut demikian, namun jika memang pendukung Arema FC kami memohon maaf, kami masih sangat menghargai karena murni kedatangan mereka lantaran hati nurani mereka yang ingin murni memberikan dukungan kepada tim kesayangannya untuk memberikan dukungan langsung ke tribun,” ungkapnya seperti dikutip, Minggu (16/7).
Terkait regulasi, Wiebie menyebutkan bahwa jika melihat kultur suporter dalam sepak bola Indonesia hal itu tidak bisa dilakukan secara instan, bahkan ada hal-hal yang harus diadaptasi dan diproteksi oleh sistem.
Namun pernyataan dari pihak Arema FC ini langsung mendapat reaksi keras dari publik di laman sosial media. Sejumlah netizen kemudian menyebut tragedi Kanjuruhan yang tewaskan 135 suporter.
"Hati nurani? Suportermu mati 135 mbok nengke wae raono keadilan," tulis salah satu netizen.
"hati nurani matamu a, edan tenan c**," ungkap akun lainnya.
"Bisa bisanya ngomongin hati nurani wkwwkk," unggah akun @alf***
"Bahasanya hati nurani mulu udah kaya punya hati aja,"