Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Dwi Bowo Raharjo | Suara.com

Rabu, 04 Februari 2026 | 19:05 WIB
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker
Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua FKBI (Forum Konsumen Berdaya Indonesia), Tulus Abadi. (Suara.com/Foto dok. pribadi)
  • Empat penyakit katastropik dominan di Indonesia meliputi kanker, yang kasus kematiannya mencapai 59,24% berdasarkan data 2022.
  • Faktor risiko utama kanker di Indonesia adalah konsumsi rokok (35,5%), kurang aktivitas fisik (21,5%), serta pola diet tidak seimbang.
  • Pemerintah dinilai lamban dalam merealisasikan regulasi pengendalian GGL dan tembakau, sementara masyarakat perlu mitigasi mandiri.

Suara.com - Di Indonesia, bahkan di dunia, terdapat 4 (empat) jenis penyakit tidak menular berkarakter katastropik, yakni jantung koroner, kanker, stroke dan diabetes melitus.

Keempat jenis penyakit itu menjadi mesin pembunuh yang mengerikan, dan tragisnya ke-4 jenis penyakit katastropik itu kini telah menyasar generasi muda, usia di bawah 40 tahun.

Terkait dengan fenomena tersebut, salah satu jenis penyakit katastropik yang mengerikan itu adalah kanker (cancer). Oleh sebab itu menjadi isu krusial jika pada 04 Februari 2024 diperingati sebagai World Cancer Day alias Hari Kanker Sedunia.

Sebagai bentuk _public warning/, peringatan Hari Kanker se-Dunia, adalah sangat penting. Musababnya, saat ini di seluruh dunia, terdapat 8,2 juta manusia meninggal dunia akibat kanker setiap tahunnya, dan tragisnya empat juta di antaranya meninggal prematur (berusia 30 sampai 69 tahun).

Lalu bagaimana terkait penyakit kanker di Indonesia?

Berdasar data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan data Globocan pada 2022, terdapat 408.661 kasus kanker dan total kematian 242.099.

"Artinya, tingkat kematian penderita kanker di Indonesia mencapai 59,24 persen."

Prevalensi kanker di Indonesia pada 2023 berdasarkan data Kemenkes tersebut, berada di angka 1,2 per 1000 penduduk pada 2013, menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada 2018.

Terdapat 5 (lima) jenis penyakit kanker yang dominan di Indonesia, yakni: kanker paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker kolokteral dan kanker hati.

Prevalensi kanker paru di Indonesia mencapai 8,8% dan menempati posisi ketiga sebagai jenis kanker paling banyak ditemukan di Indonesia, setelah kanker payudara (16,6%), kanker serviks (9,2%), kanker payudara: 16,6% dan kanker serviks: 9,2%

Kanker paru (lung cancer) merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita oleh laki-laki di Indonesia, dengan rata-rata usia diagnosis 58 tahun, yaitu 10 tahun lebih muda dibandingkan rata-rata global (68 tahun).

Ilustrasi kanker saluran cerna. (Freepik)
Ilustrasi kanker saluran cerna. (Freepik)

Fenomena tersebut dengan mudah bisa ditebak musababnya, yakni mayoritas laki laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Konkretnya dua dari tiga laki laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif. Alamaak.

Lalu apa faktor pemicu tingginya prevalensi penyakit kanker di Indonesia?

Secara general, gaya hidup dan pola konsumsi yang tidak sehat dari masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan generasi Z, menjadi pencetus utamanya.

Wujud gaya hidup tidak sehat itu antara lain: malas bergerak/berjalan kaki atau malas berolahraga. Bahkan menurut survei, orang Indonesia termasuk orang yang paling malas di dunia untuk berjalan kaki.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Beda Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut, Begini Penjelasannya

Beda Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut, Begini Penjelasannya

Lifestyle | Minggu, 01 Februari 2026 | 12:05 WIB

Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an

Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 07:00 WIB

Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks

Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 21:37 WIB

Wamenkes Ungkap Kondisi Menyedihkan di Indonesia Akibat Kanker Serviks: 50 Persen Pasien Meninggal

Wamenkes Ungkap Kondisi Menyedihkan di Indonesia Akibat Kanker Serviks: 50 Persen Pasien Meninggal

News | Selasa, 27 Januari 2026 | 17:56 WIB

Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara

Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara

Health | Jum'at, 23 Januari 2026 | 18:25 WIB

Terkini

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Opini | Rabu, 29 April 2026 | 07:36 WIB

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Opini | Jum'at, 30 Januari 2026 | 16:35 WIB

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 19:05 WIB