Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shlat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS Al-Ahzab: 33)
Artinya, pakaian atau perhiasan yang dipakai tidak berlebihan, apalagi ditambah dengan dandanan wajah yang sangat mencolok mata.
Selain itu, memperhatikan pakaian juga harus dilakukan. Jangan sampai termasuk dalam pakaian yang disebut oleh Rasulullah SAW dengan ‘berpakain tapi telanjang’.
Yakni pakaian transparan yang tembus pandang sehingga nampak jelas warna kulit dan lekuk tubuh terutama untuk perempuan. Hal ini akan mengundang kejahatan serta memancing hawa nafsu.
3. Bersyukur
Dengan bercermin, seseorang dapat melihat apa yang tampak di cermin. Misalnya kondisi badannya secara keseluruhan, hingga bentuk rupanya.
Melalui bayangan dalam cermin, umat Islam dapat memetik hikmah bahwa Allah SWT telah menciptakan seseorang dalam kondisi yang terbaik dan harus disyukuri.
Seseorang yang menghadapkan wajahnya ke depan cermin untuk berhias, haruslah diniatkan untuk mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT yang telah memberi pakaian dan perhiasan serta kesempurnaan wajah.
Di samping itu, setiap hendak berhias, awali dengan doa agar terhindar dari ketercelaan akhlak. Sebab, setiap perbuatan yang dilandasi dengan perasaan syukur kepada Allah SWT, akan menghindarkan diri dari keburukan moral dan akhlak.
Demikian juga dalam hal bercermin untuk berhias, sebab sedikit saja salah niat, maka apa yang tadinya bisa jadi amal, justru akan menjadi laknat baginya.
4. Tetap Rendah Hati
Keutamaan rendah hati atau tawadhu dalam Islam dapat menghindarkan seseorang untuk berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain, seperti merundung orang lain dan lain sebagainya.
Memiliki tubuh dan rupa yang menawan harus diimbangi dengan rasa syukur yang besar sehingga yang akan tumbuh adalah sikap rendah hati dan bukan sebaliknya.
Dari Iyadh bin Himar RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, Allah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ (rendah hati), sampai seseorang tidak membanggakan diri kepada orang lain dan seseorang tidak sewenang-wenang kepada orang lain.” (HR. Muslim)
5. Jangan Sombong
Kondisi fisik yang sempurna dan seimbang yang telah diberikan oleh Allah SWT hendaknya tidak menjadikan alasan seseorang untuk sombong dan membanggakan diri sendiri.
Sebab, sifat sombong dalam Islam sangat dilarang dan merupakan sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Hal ini juga diterangkan dalam Al-Qur'an:
(Wa l tua''ir khaddaka lin-nsi wa l tamsyi fil-ari mara, innallha l yuibbu kulla mukhtlin fakhr)
Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka Bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)