Kasus Penganiayaan Mario Dandy Ungkap Keluarga Pejabat yang Doyan Flexing, Kok Bisa sih?

tasikmalaya Suara.Com
Sabtu, 11 Maret 2023 | 08:21 WIB
Kasus Penganiayaan Mario Dandy Ungkap Keluarga Pejabat yang Doyan Flexing, Kok Bisa sih?
Potret Kepala Badan Pertanahan Jakarta Timur, Sudarman Harja Saputra dan istrinya, Vidya Piscarista yang sedang flexing di sosial media (Twitter/Partaisocmed)

SuaraTasikmalaya.id – Belakangan ini, jaga media sosial diramaikan dengan kasus penganiayaan yang dilakukan oleh anak pejabat pajak, Mario Dandy

Diketahui, Mario Dandy kerap berlaku flexing, atau memamerkan gaya hidup mewah. Hal ini yang kemudian menjadi pemantik publik untuk mendalami sosok keluarga pejabat lain yang gemar flexing. 

Beberapa sosok mulai terungkap, seperti anak dari kepala Bea Cukai Makassar, Istri dari kepala BPN Jakarta Timur, dan masih banyak lainnya. 

Gaya hidup ini tentu menimbulkan pertanyaan bagi publik, kok bisa sih mereka gemar memamerkan flexing atau gaya hidup mewah? Berikut penjelasannya. 

Flexing adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang memamerkan kekayaan atau kemampuan mereka secara berlebihan. Biasanya, flexing dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. 

Tren flexing semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di kalangan anak muda. Berikut beberapa alasan orang gemar flexing.

1. Kebutuhan untuk mendapatkan perhatian

Menurut Dr. Kaitlyn Harger, seorang psikolog klinis, flexing adalah cara seseorang mencari perhatian atau pengakuan dari orang lain. Orang yang melakukan flexing biasanya merasa kurang percaya diri dan membutuhkan konfirmasi dari orang lain bahwa mereka baik dan cukup hebat.

2. Kebutuhan untuk memperbaiki citra diri

Baca Juga: Asyik Bener! AGH Nonton Penganiayaan Sambil Nyebat, Kayak Nongkrong Aja, Sekalian Tambah Kopi Gak Tuh

Flexing juga bisa menjadi cara untuk memperbaiki citra diri seseorang. Menurut Dr. Carla Marie Manly, seorang psikolog klinis, orang yang merasa tidak bahagia atau kurang puas dengan diri sendiri mungkin akan mencoba untuk meningkatkan kepercayaan diri dengan memamerkan kekayaan atau kemampuan mereka.

3. Kebutuhan untuk memperoleh status sosial

Seringkali, orang yang melakukan flexing menganggap bahwa memiliki banyak uang atau keahlian tertentu dapat memberikan mereka status sosial yang lebih tinggi di masyarakat. Menurut Dr. Ryan T. Howell, seorang profesor psikologi di Universitas San Francisco, seseorang yang memiliki banyak uang dan kekayaan bisa dianggap lebih sukses dan lebih berpengaruh di masyarakat.

Namun, perlu diingat bahwa flexing bisa memiliki dampak negatif, seperti menciptakan perasaan iri atau tidak nyaman pada orang lain. Selain itu, kesenjangan antara kenyataan dan gambaran yang dibuat dapat menyebabkan tekanan psikologis pada orang yang melakukan flexing. (*)

Sumber: Dr. Kaitlyn Harger, Clinical Psychologist at Detroit Medical Center.
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI