Ini Rahasia Gurita Antartika Hidup di Bawah Titik Beku

Yusuf Abdillah Suara.Com
Rabu, 11 Maret 2015 | 17:18 WIB
Ini Rahasia Gurita Antartika  Hidup di Bawah Titik Beku
Ilustrasi gurita. [Shutterstock]

Suara.com - "Darah biru" acap digunakan untuk menyebut bangsawan atau kaum ningrat. Namun, buat gurita Antartika, darah biru adalah alasan mengapa mereka bisa tetap hidup di suhu yang membeku.

Sebuah penelitian mengungkap, gurita Antartika (Pareledone charcoti) yang hidup di air es menggunakan sebuah strategi unik untuk mengangkut oksigen dalam darahnya.

Penelitian tersebut menunjukkan pigmen khusus berwarna biru dalam darah membantu gurita lebih tahan terhadap perubahan cuaca daripada ikan Antartika dan spesies gurita lainnya.

"Ini adalah studi pertama yang memberikan bukti nyata bahwa darah berpigmen biru menambah pasokan oksigen ke organ pada temperatur di bawah nol derajat," ujar Michael Oellermann, peneliti dari Alfred-Wegener Intitute.

Hal ini penting karena menggarisbawahi reaksi yang sangat berbeda dibanding apa yang terjadi pada ikan Antartika pada kondisi dingin di Samedera Selatan.

Hasilnya juga menyiratkan karena asupan oksigen yang meningkat oleh haemocyanin pada suhu yang lebih tinggi, gurita jenis ini mungkin secara fisiologis bisa mengatasi pemanasan global lebih baik daripada ikan Antartika.

Samudera Antartika adalah rumah bagi berbagai fauna meski memiliki suhu tak ramah.

Meski sulit mengirim oksigen ke jaringan dalam keadaan dingin karena lebih rendahnya difusi oksigen dan naiknya kekentalan darah, air es dingin sudah mengandung oksigen larut dalam jumlah yang banyak.

Gurita memiliki tiga jantung dan pembuluh darah kontraktil yang memompa "haemolymph" yang sangat kaya dengan oksigen biru mengangkut protein haemocyanin, yang serupa dengan haemoglobin di hewan bertulang belakang.

Untuk menemukan rahasia yang membuat haemocyanin gurita Antartika bisa beradaptasi di air dingin, peneliti mengumpulkan dan meneliti haemolymph dari sekian banyak Pareledone charcoti.

Gurita Antartika (Pareledone charcoti) memiliki konsentrasi haemocyanin yang jauh lebih tinggi dalam darah, setidaknya 40 persen lebih banyak dibanding spesies lain.

Peneliti mengatakan konsentrasi pigmen darah yang tinggi tersebut kemungkinan kompensasi dari buruknya kemampuan haemocyanin untuk mengeluarkan oksigen ke jaringan saat di lingkungan yang dingin, dan bisa membantu menjamin pasokan oksigen yang cukup. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI