Khofifah: Hasil Riset Peneliti Belum Dihargai Bangsa Sendiri

Arsito Hidayatullah

Senin, 04 April 2016 | 01:30 WIB
Khofifah: Hasil Riset Peneliti Belum Dihargai Bangsa Sendiri
Salah satu peserta di acara Indonesia Science Expo. [suara.com/Ummi Hadyah Saleh]

Suara.com - Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menilai bahwa riset dan pengembangan (development) hasil kerja para peneliti Indonesia belum dihargai bangsa sendiri. Hal itu menurutnya setidaknya terbukti dari kecilnya anggaran pemerintah dan swasta untuk mengapresiasi penelitian anak negeri.

"Riset dan pengembangan hasil riset peneliti Indonesia masih belum dihargai bangsa sendiri. Hasilnya, penelitian yang strategis itu dibeli oleh negara lain," kata Khofifah, ketika menjadi pembicara utama dalam wisuda ke-85 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (3/4/2016).

 
Mensos mengatakan, dana riset dan pengembangan di Indonesia belum sampai 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang membutuhkan dana sekitar Rp110 triliun. Tepatnya, dana riset di Indonesia hanya mencapai 0,08 persen.

Khofifah mengatakan, penghargaan terhadap hasil riset tidak hanya mengandalkan dana APBN, tetapi dibutuhkan peran serta sektor swasta. Dia membandingkan bahwa Cina, Malaysia, maupun beberapa negara lain misalnya, mewajibkan sektor privat menyediakan anggaran tertentu untuk penguatan penelitian.

"Sektor privat masih terus kami dorong, karena mereka yang bisa memberikan perbaikan dari seluruh produk-produk kita ketika berkompetisi di lini mana pun. Kondisi ini berbeda jauh dari capaian Pemerintah Malaysia yang sudah mengalokasikan dana riset 5 persen dari PDB yang tidak hanya dari pemerintah, namun juga banyak perusahaan," tuturnya.

Menurut Khofifah, sekitar 16 tahun lalu, Cina sudah mencapai 10 persen pendapatan dari produk hasil penelitian dan pengembangan anak negerinya. Sementara, dia sering menemukan banyak elemen bangsa ini belum siap berkompetisi, dan ketika produk penelitian ditawarkan ke instansi tidak ada respons.

Mensos mengungkapkan, produk riset itu akhirnya dibeli luar negeri, karena penghargaan Indonesia pada keilmuan, sains murni maupun terapan, masih belum ada, sehingga riset belum menjadi referensi berbagai kebijakan. Makanya menurutnya, seluruh kementerian, lembaga, maupun sektor swasta, harus didorong memberi apresiasi terhadap produk keilmuan.

Lebih jauh, Mensos menyinggung soal Trans Pacific Partnership Agreement (TPPA) yang pada prinsipnya lebih luas lagi dibandingkan dengan MEA. Indonesia menurutnya, harus berpikir bagaimana menjadi bagian penguatan dari seluruh proses interaksi yang tidak hanya melingkupi ASEAN.

"Hal ini mengharuskan bangsa Indonesia melakukan persiapan terus-menerus. Tidak hanya secara kualitas sumber daya manusia (SDM), namun dari investasi yang masuk. Kita harus berpikir bagaimana menjadi bagian penguatan dari seluruh proses interaksi, tidak hanya (di) lingkup ASEAN maupun Pasifik, melainkan ke tingkat global," tandasnya. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Presiden Jokowi Hadiri Forum Rektor Indonesia 2016

Presiden Jokowi Hadiri Forum Rektor Indonesia 2016

News | Sabtu, 30 Januari 2016 | 03:24 WIB

Terkini

Surya Paloh Desak RUU Pemilu Dikebut: Jangan Tunggu Sampai Tahun Depan

Surya Paloh Desak RUU Pemilu Dikebut: Jangan Tunggu Sampai Tahun Depan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 23:45 WIB

Emil Audero Jadi Penyelamat Rayo Vallecano, 2 Kali Gagalkan Peluang Emas Osasuna

Emil Audero Jadi Penyelamat Rayo Vallecano, 2 Kali Gagalkan Peluang Emas Osasuna

Bola | Sabtu, 19 September 2026 | 23:10 WIB

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

News | Sabtu, 19 September 2026 | 23:00 WIB

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jawa Tengah | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:35 WIB

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:29 WIB

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:15 WIB

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:05 WIB

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:34 WIB

×