Cara Unik Perusahaan di Cina Awasi Emosi Karyawannya

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Senin, 07 Mei 2018 | 13:57 WIB
Cara Unik Perusahaan di Cina Awasi Emosi Karyawannya
Ilustrasi helm. [Shutterstock]

Suara.com - Tidak pernah habis cerita dari negeri Tirai Bambu ini. Saat ini, beberapa perusahaan telah menggunakan teknologi baru berupa helm yang mampu memonitor emosi dari para pekerjanya. Hangzhou Zhongheng Electric adalah salah satu dari banyak perusahaan yang mengandalkan teknologi tersebut.

Dilansir dari South China Morning Post, teknologi canggih itu bekerja dengan menempatkan sensor nirkabel pada topi atau helm karyawan yang dikombinasikan dengan algoritme kecerdasan buatan. Tujuannya, antara lain untuk meningkatkan keuntungan dan produktivitas para karyawan.

Hangzhou Zhongheng Electric sendiri telah memakai teknologi ini sejak tahun 2014 dan kini keuntungan perusahaan melonjak hingga 315 juta dolar atau sekitar Rp 4,4 triliun.

Jin Jia, seorang profesor ahli dalam bidang ini, mengungkapkan meskipun pada awalnya teknologi ini menimbulkan ketidaknyamanan karena para karyawan berpikir bahwa helm ini semacam benda untuk membaca pikiran. Namun, pada kenyataannya alat ini hanya bekerja dengan sensor tertentu.

"Ketika sistem mengeluarkan peringatan, manajer perusahaan yang bersangkutan akan meminta karyawan untuk libur sehari atau pindah ke bagian yang mudah dikerjakan. Beberapa pekerjaan membutuhkan konsentrasi tinggi, tidak ada ruang untuk membuat kesalahan," jelasnya.

Tak hanya itu, kini helm pengawas gelombang otak tersebut sudah dipakai di bidang militer hingga digunakan oleh perusahaan kereta api dan pesawat terbang. Sensor pada helm ini dapat memicu alarm jika masinis atau pilot tertidur saat melakukan perjalanan jarak jauh.

Program yang dikembangkan di Universitas Ningbo dan didanai oleh pemerintah ini memang memiliki kegunaan untuk memantau gelombang otak karyawan perusahaan, baik swasta maupun milik negara. Namun, ada beberapa pihak yang merasa khawatir tentang pelanggaran privasi dan penggunaan data yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu.

"Sayangnya, tidak ada hukum atau peraturan untuk membatasi penggunaan alat semacam ini di Cina. Para pejabat memiliki kuasa memutuskan menggunakan teknologi tersebut demi keuntungan lebih. Sementara itu, para karyawan berada dalam posisi yang terlalu lemah untuk menolak," ucap Qiao Zhian, seorang profesor psikologi manajemen di Beijing Normal University. [SCMP/Odditycentral/BusinessInsider]

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dunia Terkejut, Mulyoto Temukan Teknologi Murah Pembekuan Sperma

Dunia Terkejut, Mulyoto Temukan Teknologi Murah Pembekuan Sperma

Tekno | Rabu, 02 Mei 2018 | 18:30 WIB

Demi Cari Udara Segar, Lelaki Ini Buka Pintu Darurat Pesawat

Demi Cari Udara Segar, Lelaki Ini Buka Pintu Darurat Pesawat

Tekno | Rabu, 02 Mei 2018 | 11:40 WIB

Tenaga Kerja Asing Asal Cina Banyak di 10 Daerah Ini

Tenaga Kerja Asing Asal Cina Banyak di 10 Daerah Ini

News | Kamis, 26 April 2018 | 20:59 WIB

YouTuber Ini Berikan Biskuit Berisi Pasta Gigi ke Gelandangan

YouTuber Ini Berikan Biskuit Berisi Pasta Gigi ke Gelandangan

Tekno | Minggu, 22 April 2018 | 16:30 WIB

Ketimpangan Teknologi Jadi Hambatan Tim SDM MRT

Ketimpangan Teknologi Jadi Hambatan Tim SDM MRT

News | Kamis, 19 April 2018 | 05:28 WIB

32 Jadi Mahasiswi, Nenek 97 Tahun Ini Tak Mau Lulus Kuliah

32 Jadi Mahasiswi, Nenek 97 Tahun Ini Tak Mau Lulus Kuliah

Lifestyle | Senin, 16 April 2018 | 11:11 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×