alexametrics

Akurasi Capai 97 Persen, AI Dapat Terjemahkan Sinyal Otak Menjadi Teks

Dythia Novianty | Lintang Siltya Utami
Akurasi Capai 97 Persen, AI Dapat Terjemahkan Sinyal Otak Menjadi Teks
Ilustrasi otak. [Shutterstock]

Penelitian yang dilakukan ahli bedah saraf Edward Chang dari Chang Lab UCSF ini menggunakan metode baru untuk memecahkan kode electrocorticogram.

Suara.com - Ilmuwan menemukan cara membuat teknologi kecerdasan buatan (AI), dapat menerjemahkan sinyal otak manusia menjadi teks utuh, tanpa mendengar kata tunggal yang diucapkan.

Penelitian yang dilakukan ahli bedah saraf Edward Chang dari Chang Lab UCSF ini menggunakan metode baru untuk memecahkan kode electrocorticogram, jenis pemantauan elektrofisiologis menggunakan elektroda yang ditempatkan langsung, pada permukaan otak terpapar untuk merekam aktivitas listrik dari korteks serebral.

Penelitian tersebut melibatkan empat pasien epilepsi yang mengenakan implan untuk memantau kejang yang disebabkan oleh kondisi medis. Tim UCSF melakukan eksperimen dengan meminta pasien membaca dan mengulangi sejumlah kalimat dengan keras, sementara elektroda mencatat aktivitas otak pasien selama latihan.

Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam jaringan saraf yang menganalisis pola dalam aktivitas otak yang sesuai dengan tanda bicara tertentu, seperti vokal, konsonan, atau gerakan mulut.

Baca Juga: Hore! iPhone SE 2020 Resmi Dirilis, Ini Harga dan Spesifikasinya

Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). [Shutterstock]
Ilustrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). [Shutterstock]

Jaringan saraf lain mendekodekan representasi ini dan menggunakannya untuk mencoba memprediksi apa yang dikatakan. Tak hanya itu, sistem juga menghasilkan tingkat kesalahan kata (WER) dengan satu pasien hanya 3 persen dalam menerjemahkan sinyal otak menjadi teks.

Dalam penelitian yang diterbitkan di Nature Neuroscience, para ahli merincikan beberapa contoh kalimat referensi yang dikatakan para pasien, bersama dengan kata prediksi yang dihasilkan sistem. Meski tingkat kekeliruan hanya 3 persen, secara keseluruhan sistem ini dapat menjadi tolak ukur baru untuk penguraian aktivitas otak berbasis AI.

Dilansir laman Science Alert, Kamis (16/4/2020), penelitian di masa depan memungkinkan penggunaan AI seperti ini sebagai dasar prosthesis bicara, untuk membantu pasien yang kehilangan kemampuan atau kekuatan berbicara.

Komentar