Jutaan Lobster Mati, Pantai Otago Memerah Darah

Liberty Jemadu
Jutaan Lobster Mati, Pantai Otago Memerah Darah
Jutaan ekor lobster mati di Pantai Otago. Ilustrasi pantai. (Antara)

Jutaan lobster itu terdampar dan mati karena mereka tak bisa berkembang biak di dasar laut yang dikuasai oleh lobster-lobster dewasa.

Suara.com - Pantai Otago di selatan Selandia Baru berubah menjadi merah darah setelah jutaan ekor lobster mati di sana, demikian diwartakan The Guardian, Jumat (29/5/2020).

Warga dari dua komunitas lokal, Broad Bay dan Edwards Bay, melaporkan fenomena aneh itu ke media-media lokal pada pekan ini. Mereka terkejut melihat pantai kini berubah menjadi merah.

John Zeldis, pakar ekologi kelautan pada Pusat Ilmu Pengetahuan Perairan dan Atmosfer Nasional Selandia Baru mengatakan warna merah di pantai disebabkan oleh bangkai lobster bernama Latin munida gregaria tersebut.

Ia mengatakan bahwa binatang-binatang laut itu terdampar di darat saat laut pasang dan saat air laut kembali surut mereka terdampar, kemudian mati.

Meski demikian Zeldis mengatakan bahwa populasi lobster merangkak ini masih aman dan bahwa jumlah yang mati di pantai Otago ini hanya sebagian kecil dari total populasi mereka.

"Mereka memiliki banyak aspek menarik dalm kehidupannya... muncul di pantai merupakan bagian yang paling menonjol yang disaksikan oleh publik," jelas dia.

Menurut Zeldis jutaan lobster itu terdampar dan mati karena mereka tak bisa berkembang biak di dasar laut yang dikuasai oleh lobster-lobster dewasa. Artinya sebagian besar lobster yang mati di pantai adalah lobster remaja yang tak menemukan tempat untuk berkembang biak.

Selama beberapa dekade terakhir, Zeldis mengaku beberapa kali melihat hamparan bangkai lobster merangkak - dengan ketebalan hingga 30 cm - membentang di pantai selatan Selandia Baru hingga berkilo-kilometer ke utara.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS