Pemakaian Ventilator Pasien Covid-19 Dikaji Ulang, Kenapa?

Dythia Novianty | Tivan Rahmat
Pemakaian Ventilator Pasien Covid-19 Dikaji Ulang, Kenapa?
Ilustrasi ventilator yang sangat dibutuhkan para pasien Covid-19. [Shutterstock]

Northwell Health tengah mengkaji ulang penggunaan ventilator.

Suara.com - Northwell Health tengah mengkaji ulang penggunaan ventilator di tengah tingginya angka kematian akibat Covid-19.

Jaringan rumah sakit terbesar di New York itu sedang melakukan analisis menyeluruh terhadap penggunaan ventilator, sembari merawat pasien Covid-19 yang diprediksi mulai masuk fase puncak pandemi.

Studi ini bermula ketika para ahli mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penanggulangan pasien Covid-19 yang selalu dipasangi ventilator karena akan memakan biaya yang sangat besar.

Bagi begitu banyak pasien virus corona, pemasangan ventilator mekanik seperti sebuah harga mati. Kendati sudah menggunakan ventilator, lebih dari dua pertiga pasien Covid-19 yang dirawat di fasilitas Kesehatan Northwell dinyatakan meninggal dunia dari Maret hingga awal April. Artinya, ventilator dinilai kurang efektif untuk dipakai oleh semua pasien Covid-19.

Padahal di awal pandemi, para ahli kesehatan mengkhawatirkan adanya kekurangan ventilator untuk mengintubasi pasien Covid-19 lantaran virus ini menyerang sistem pernapasan dan paru-paru.

Tetapi setelah melakukan beberapa diskusi medis, mereka justru takut jika ventilator digunakan secara berlebihan justru akan berkontribusi pada tingkat kematian akibat virus corona menjadi lebih tinggi.

“Satu teori adalah jika Anda memasangi beberapa pasien dengan ventilator, kemungkinan adanya iritasi paru-paru menjadi lebih besar. Itu adalah teori yang sedang kita bahas saat ini," kata Dr. Thomas McGinn, Wakil Kepala Dokter di Northwell Health, sebagaimana dikutip dari New York Post, Minggu (31/5/2020).

Saat ini, Northwell Health yang mengelola rumah sakit Lenox Hill, Long Island Jewish, dan Staten Island University, serta rumah sakit regional lainnya, sedang memeriksa 12.000 pasien Covid-19 yang dirawat pada Maret dan awal April. Sekitar 2.000 diantaranya menggunakan ventilator.

Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)
Ilustrasi pasien covid-19 mengalami koma. (Shutterstock)

“Kami mencoba melakukan tinjauan retrospektif. Perdebatannya adalah, haruskah kita mencoba intervensi non-invasif lainnya? Sebuah pertanyaan besar adalah, bisakah Anda menunda memasangkan ventilator pada pasien atau bahkan tidak pernah memakainya?" jelas McGinn.

McGinn mengatakan, petugas medis Northwell sudah melakukan percobaan dengan ventilasi alternatif atau non-invasif, seperti memberikan oksigen kepada pasien melalui wajah atau hidung ketimbang ventilator mekanik dengan tabung invasif yang dimasukkan ke tenggorokan.

Cara seperti ini juga tidak ada jaminan kesembuhan dan membawa banyak risiko penyebaran virus kepada staf rumah sakit, jika napas pasien menyebarkan virus ke udara.

"Ini menempatkan perawat dan terapis pernapasan ke dalam risiko yang cukup tinggi," kata McGinn.

McGinn juga mengatakan, penelitian ini akan mengamati kasus-kasus pasien yang menggunakan ventilator hanya beberapa hari dan mereka yang menggunakan untuk jangka waktu yang lama.

Ilustrasi kebutuhan ventilator. (Shutterstock)
Ilustrasi kebutuhan ventilator. (Shutterstock)

Dia mengatakan bahwa pasien Covid-19 dengan usia lebih muda cenderung sembuh hanya dalam beberapa hari setelah dibantu ventilator. Sementara pasien yang lebih tua yang sudah membawa masalah jantung atau ginjal, sulit lepas dari ventilator karena menyakiti pernapasan mereka.

Intinya, McGinn meyakini bahwa ventilator digunakan sebagai pilihan terakhir bagi orang yang kesulitan bernafas.

“Ventilator tidak menyebabkan kematian. Mereka menyelamatkan hidup. Jika kita tidak memasangnya, mereka semua akan mati. Pertanyaan yang kami tanyakan adalah, pendekatan apa yang terbaik bagi mereka," pungkasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS