Kisah Penyelamat Gajah di Kuil India: Penyiksa Teteskan Air Mata Buaya

BBC

BBC

Senin, 17 Agustus 2020 | 23:30 WIB
Kisah Penyelamat Gajah di Kuil India: Penyiksa Teteskan Air Mata Buaya
[BBC].

Suara.com - Selama tujuh tahun terakhir, Sangita Iyer mengemban misi untuk menghentikan eksploitasi gajah atas nama agama.

"Dewa macam apa yang bisa mentolerir penyiksaan terhadap ciptaannya sendiri? Ini benar-benar menyayat hati," katanya kepada BBC.

Pembuat film dokumenter ini lahir di negara bagian Kerala, India (dia sekarang tinggal di Toronto). Dia mengatakan bahwa seperti kebanyakan anak-anak, dia juga senang melihat gajah ketika kecil.

"Saya melihat gajah diarak ketika saya masih kecil dan saya pikir mereka sangat cantik," kata Sangita Iyer.

Dia baru mengetahui kemudian tentang hal mengerikan yang dialami gajah-gajah itu.

Luka yang mengerikan

Setelah tinggal di Kanada selama bertahun-tahun, dia kembali ke India pada 2013 untuk memperingati setahun kematian ayahnya.

Dalam perjalanan itu, Sangita melihat gajah-gajah tanpa ornamen dan baju upacara mereka. Dia sangat terkejut.

"Begitu banyak gajah memiliki luka mengerikan di pinggul mereka, dengan tumor besar dan darah mengalir dari pergelangan kaki karena rantai telah melukai daging mereka - dan banyak dari mereka yang buta."

Kondisi hewan pekerja dan pertunjukan (seperti yang ada di sirkus) didokumentasikan dengan baik. Film dokumenter Sangita, Gods in Shackles, mengungkap penderitaan gajah kuil.

baca juga

"Mereka sangat tidak berdaya dan rantainya sangat berat. Sungguh memilukan bagi saya untuk menyaksikan ini."

Reputasi yang langgeng

Tradisi Hindu dan Budha memberikan status yang lebih tinggi kepada gajah. Selama berabad-abad, kuil dan biara telah menggunakannya untuk melakukan tugas suci. Para umat bahkan mencari berkah dari mereka.

Beberapa gajah tetap terkenal meski mereka telah lama mati.

Di dekat Kuil Guruvayur yang terkenal di Kerala, Anda akan menemukan patung seukuran gajah betulan, yang disebut Kesavan. Patung itu sangat dicintai masyarakat sekitar. Gadingnya menghiasi pintu masuk kuil.

Kemunafikan

Menurut cerita setempat, Kesavan mengitari kuil sebelum jatuh dan mati pada 1976, pada usia 72 tahun.

Sangat umum untuk melihat orang-orang berkumpul dan berduka atas kematian gajah kuil - meskipun mereka tidak terlalu terkenal.

"Mereka menyiksa gajah-gajah itu sampai mati, dan setelah hewan itu mati, mereka menyalakan lampu dan meneteskan air mata buaya, seolah-olah mereka sangat sedih dengan kematian gajah-gajah tersebut," kata Sangita.

Dia menggambarkan dirinya sebagai seorang Hindu taat yang berupaya menghapus praktik gajah kuil secara bertahap.

India memiliki 2.500 gajah di penangkaran, hampir seperlima di antaranya berada di Kerala. Gajah-gajah itu dimiliki oleh kuil serta individu.

Sangita memahami simbolisme budaya dan agama dengan gajah.

Namun, sebagai lulusan biologi dan ekologi, dia tahu bahwa gajah adalah satwa yang sangat cerdas, emosional dan memilliki kemampuan sosial, yang terbiasa melintasi jarak jauh di alam liar untuk mencari makanan dan air.

Kembang api

Kaki mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan jalanan dari beton dan batu, yang sangat panas selama musim panas.

Mereka terprovokasi oleh alat musik yang menggelegar, suara keras, kerumunan massa dan pertunjukan kembang api, yang menandai mulainya festival.

Mereka dipukuli hingga tunduk dan menjadi tontonan.

"Satwa-satwa ini disiksa dengan menggunakan senjata keras seperti alat pemukul gajah bullhooks (yang di ujungnya memiliki kait logam yang tajam), rantai berduri, dan tongkat panjang dengan paku yang menusuk- yang digunakan untuk menusuk sendi gajah untuk menimbulkan rasa sakit yang parah," kata Sangita.

Belalai lumpuh

Dia berhasil merekam 25 jam video gajah dan mendokumentasikan banyak kasus kekejaman terhadap satwa langka itu.

"Saya benar-benar hancur dan jiwa saya hancur. Saya berkata pada diri sendiri bahwa saya tidak bisa berpaling dari satwa-satwa cantik ini."

Dia menjadi emosional dan suaranya pecah saat menggambarkan contoh perilaku tidak berperasaan terhadap gajah jantan bernama Ramabadran, yang dimiliki oleh otoritas Kuil Thiruvambadi.

"Sungguh menyedihkan menyaksikan gajah ini mencelupkan belalainya yang lumpuh ke dalam tangki air. Ia tidak bisa mengambil air."

Kondisinya semakin memburuk sehingga Dewan Kesejahteraan Hewan India menyarankan gajah itu dibunuh dengan belas kasihan. Namun, gajah itu tetap digunakan dalam upacara kuil sampai akhir.

Darah menetes

Dia mengamati gajah jantan lain yang berbau nanah.

"Rantai itu telah menembus jauh ke dalam dagingnya dan darahnya menetes. Saya tidak tahu bagaimana manusia bisa melakukan ini?"

Pawang gajah - dikenal sebagai mahout - membuat gajah merasa sakit, tetapi pemiliknya tetap tidak peduli demi keuntungan finansial.

Bisnis yang menguntungkan

"Kelompok lobi gajah adalah kelompok yang kuat karena ada begitu banyak uang dalam praktik itu. Beberapa gajah menghasilkan lebih dari US$ 10.000 (Rp147 juta) per festival."

Thechikkottukavu Ramachandran adalah salah satu gajah yang menghasilkan pendapatan besar.

Ia dianggap sebagai gajah tertinggi di Asia.

Dia menjadi daya tarik utama selama parade gajah tahunan di Thrissur dan bahkan profilnya ditulis di sebuah laman Wikipedia.

Ramachandran sekarang berusia 56 tahun dan buta sebagian. Dia mengamuk beberapa kali karena stres dan telah menewaskan sedikitnya enam orang. Namun, upaya otoritas satwa liar untuk membuatnya pensiun menemui hambatan.

Dia masih dipaksa untuk memukau orang banyak.

"Gajah-gajah ini tidak diciptakan untuk melayani keinginan manusia yang tak terpuaskan," protes Sangita.

Dia mengatakan festival-festival baru diadakan untuk menghasilkan lebih banyak uang.

Di antara gajah-gajah Asia, hanya gajah jantan yang memiliki gading--yang disukai oleh otoritas kuil di Kerala. Tetapi gajah betina banyak digunakan di bagian lain India selatan.

Jatuh cinta

Pada 2014, Sangita melihat gajah betina dan terpesona olehnya. "Saat pertama kali melihat Lakshmi, itu adalah cinta pada pandangan pertama."

"Saya menyentuhnya. Saya meletakkan tangan saya di bawah lehernya dan menyentuh dadanya. Begitu saya melakukannya, dia meletakkan belalainya di tangan saya untuk mencium bau saya. Mereka sangat sensitif terhadap bau."

Sangita menyemprotkan air padanya dan memberinya nanas dan pisang. Ikatan di antara mereka semakin kuat. Setahun kemudian dia kaget saat bertemu Lakshmi.

"Saya sangat terpukul melihat matanya mengeluarkan air mata. Dia menyentuh ujung belalainya, menggosok, dan memijat dirinya sendiri."

Pukulan yang membutakan

Rupanya Lakshmi telah mengambil makanan mahout, sehingga mahout yang marah itu menyerang gajah itu tanpa ampun. Salah satu pukulan dengan bullhook mendarat di matanya dan membutakannya.

"Mata coklat madunya yang indah, yang pernah saya lihat, sekarang menjadi bekas luka yang berwarna putih. Ini hanya satu contoh bagaimana mereka menyalahgunakan dan mengeksploitasi hewan."

Sangita yakin Lakshmi pasti sangat lapar.

"Di kuil mereka tidak memberi makan gajah, karena mereka takut gajah akan buang air besar di dalam kuil."

Sangita mengajukan keluhan dan mahout itu dipecat. Itu memperburuk keadaan Lakshmi.

Menjadi zombie

Untuk membuat gajah patuh, pawang mereka memaksa gajah melewati rutinitas yang menyiksa.

Gajah jantan sering menjalani latihan ulang yang kejam selama periode yang disebut masth - yang membuat kadar testosteron mereka meningkat 60 kali lipat.

"Mereka mengikat dan memukuli gajah selama 72 jam atau sampai semangat mereka hancur dan mereka akhirnya mematuhi apa pun yang dikatakan para mahout."

"Mereka seperti zombie. Banyak gajah yang hanya kerangka hidup. Rasanya sangat sulit."

Penangkapan ilegal dan pembiakan paksa

Di negara-negara Buddha seperti Sri Lanka dan Thailand, gajah melakukan tugas keagamaan serupa.

Sangita khawatir permintaan terhadap gajah akan memicu penangkapan ilegal, seperti yang dilaporkan terjadi beberapa tahun lalu di Sri Lanka, dan terjadinya pembiakan paksa.

"Pada dasarnya, seekor gajah betina akan diikat dan seekor gajah jantan akan dipaksa untuk menaikinya. Ini hampir seperti memperkosa seorang perempuan."

Anak gajah yang lahir akan digunakan untuk menghibur wisatawan--mungkin seumur hidupnya.

Thailand tengah menangani praktik ini. Sangita mengatakan upaya Thailand baru-baru ini untuk memindahkan gajah yang ditangkap ke tempat perlindungan layak untuk ditiru.

Sangita telah meraih penghargaan tertinggi untuk perempuan berprestasi dari pemerintah India. Di negara asalnya, reaksinya beragam.

"Beberapa orang menyangkal apa yang terjadi. Lebih mudah untuk menyangkal dari pada menerima bahwa kita telah salah dan mengatakan bahwa kita bersedia memperbaiki kesalahan."

Dia mengatakan otoritas kuil enggan mengirim gajah mereka ke kamp pemulihan, tempat gajah-gajah diberi makanan, perawatan, dan istirahat yang layak.

Suara yang semakin kuat

Dia menghadapi ancaman dari seorang yang mengatakan dirinya adalah pemelihara kebudayaan.

"Saya diintimidasi di media sosial. Kami (aktivis) telah diejek seperti orang gila."

"Tapi jika mereka mengira dapat membungkam kami dengan intimidasi, mereka salah besar. Suara kami semakin kuat dan nyaring."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sinopsis The Vvaan, Film Terbaru Tamannaah Bhatia dan Sidharth Malhotra

Sinopsis The Vvaan, Film Terbaru Tamannaah Bhatia dan Sidharth Malhotra

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 10:10 WIB

Delhi Diteror Geng Pemerkosa India, Korbannya Cewek 17 Tahun

Delhi Diteror Geng Pemerkosa India, Korbannya Cewek 17 Tahun

News | Kamis, 24 September 2026 | 15:26 WIB

Sekolah Negeri Didemo Orangtua Murid, Kepala Sekolah Diciduk Polisi Usai Lecehkan Banyak Siswi SMP

Sekolah Negeri Didemo Orangtua Murid, Kepala Sekolah Diciduk Polisi Usai Lecehkan Banyak Siswi SMP

News | Kamis, 24 September 2026 | 13:27 WIB

Kebakaran Hutan Kepung Habitat Gajah Sumatra, Populasinya Kian Kritis

Kebakaran Hutan Kepung Habitat Gajah Sumatra, Populasinya Kian Kritis

News | Rabu, 23 September 2026 | 10:55 WIB

Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya

Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya

Your Say | Selasa, 22 September 2026 | 08:25 WIB

Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta

Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 18:50 WIB

Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan

Karhutla Kepung Pusat Konservasi Gajah Padang Sugihan

Foto | Jum'at, 18 September 2026 | 09:00 WIB

Patroli Titik Rawan Karhutla, Pesawat Khusus Disiagakan Amankan Habitat Gajah Sumatra di Jambi

Patroli Titik Rawan Karhutla, Pesawat Khusus Disiagakan Amankan Habitat Gajah Sumatra di Jambi

News | Selasa, 15 September 2026 | 18:04 WIB

Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar

Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 19:50 WIB

Perhutanan Sosial Dinilai Minim Evaluasi, Aktivis Soroti Pemberian Izin

Perhutanan Sosial Dinilai Minim Evaluasi, Aktivis Soroti Pemberian Izin

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:17 WIB

Terkini

Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?

Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 12:20 WIB

Gegara Nikel dan Emas, MDKA Balik Untung USD102 Juta di Semester I 2026

Gegara Nikel dan Emas, MDKA Balik Untung USD102 Juta di Semester I 2026

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 12:18 WIB

Wasit Ginanjar Disebut Lontarkan Umpatan, Pelatih PSPS: Sangat Tidak Respect!

Wasit Ginanjar Disebut Lontarkan Umpatan, Pelatih PSPS: Sangat Tidak Respect!

Riau | Minggu, 27 September 2026 | 12:16 WIB

Inhealth Perluas Jaringan Layanan, Gandeng 8.000 Provider hingga Luar Negeri

Inhealth Perluas Jaringan Layanan, Gandeng 8.000 Provider hingga Luar Negeri

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 12:13 WIB

Penari Lengger Tanpa Sampur

Penari Lengger Tanpa Sampur

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 12:06 WIB

Uang Tunai Makin Jarang Dipakai, Transaksi QRIS Tembus Rp1,12 Kuadriliun

Uang Tunai Makin Jarang Dipakai, Transaksi QRIS Tembus Rp1,12 Kuadriliun

Bisnis | Minggu, 27 September 2026 | 12:03 WIB

Jurang Humor Milenial vs Gen Z: Saat Plesetan Cerdas Kalah dari Meme Pisang Tanpa Konteks

Jurang Humor Milenial vs Gen Z: Saat Plesetan Cerdas Kalah dari Meme Pisang Tanpa Konteks

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 12:00 WIB

Kawat Medis Tertinggal Dalam Jantung, Dugaan Malpraktik di RSUD Samarinda

Kawat Medis Tertinggal Dalam Jantung, Dugaan Malpraktik di RSUD Samarinda

Kaltim | Minggu, 27 September 2026 | 12:00 WIB

Didukung Kai EXO, Atlet Ini Tepati Janjinya Raih Emas Asian Games 2026

Didukung Kai EXO, Atlet Ini Tepati Janjinya Raih Emas Asian Games 2026

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 11:50 WIB

Akibat Pasokan Seret, Harga Cabai di Banyumas Tembus Rp80 Ribu!

Akibat Pasokan Seret, Harga Cabai di Banyumas Tembus Rp80 Ribu!

Jawa Tengah | Minggu, 27 September 2026 | 11:46 WIB

×