Suara.com - Salah satu perusahaan game terbesar di China, Tencent, bekerja sama dengan polisi berhasil menangkap pembuat cheat game kelas kakap. Kelompok pembuat game tersebut terdiri dari 10 orang dan menjual cheat untuk game populer seperti Overwatch dan Call of Duty Mobile.
Dilaporkan tindakan ilegal itu menghasilkan sekitar 76 juta dolar AS atau Rp 1,1 triliun dengan menagih pengguna yang berlangganan.
Ditangkap di Kota Kunshan, polisi setempat menyita aset senilai 46 juta dolar AS atau sekitar Rp 669 miliar, termasuk beberapa mobil mewah.
Situs web yang menjual cheat game ilegal itu disebut "Chicken Drumstick". Pembuat menagih antara 10 dolar AS per hari hingga 200 dolar AS sebulan dari penggunanya.
Menurut media China, pengguna cheat game tersebut tersebar di ratusan negara dan wilayah di dunia. Dilansir dari Gizchina pada Minggu (4/4/2021), penangkapan ini adalah upaya untuk mengekang kecurangan dalam game online.
Hal ini mungkin tampak tidak berbahaya bagi sebagian orang, tetapi merugikan bisnis yang menghasilkan jutaan dolar dalam hadiah turnamen e-Sports dan siaran langsung.
Survei yang dilakukan pada tahun 2019 mengungkapkan sekitar sepertiga pemain game menggunakan cheat. Karena alasan itu, beberapa pemain tingkat tinggi meninggalkan platform game karena meningkatnya kecurangan.
Di sisi lain, Activision telah melakukan banned pada lebih dari 70.000 pengguna karena melakukan kecurangan. Salah satu kecurangan yang paling umum adalah penggunaan "aimbot", sebuah sistem yang memungkinkan penembakan yang lebih akurat dari pesaing tanpa perlu membidik secara manual.
Trik cheat populer lainnya adalah "wallhack", yang memungkinkan pengguna melihat lokasi pemain lain dalam game dan menyerang melalui objek buram seperti dinding.
Cheat tersebut sudah banyak digunakan di game kompetitif seperti PUBG dan Free Fire. Para penerbit dan pengembang game ini terus mengembangkan alat untuk meningkatkan keamanan dan mendeteksi calon pemain yang berbuat curang.