alexametrics

Jokowi Disarankan Tak Pakai WhatsApp, Hindari Intaian Pegasus Software Buatan Israel

Liberty Jemadu
Jokowi Disarankan Tak Pakai WhatsApp, Hindari Intaian Pegasus Software Buatan Israel
Presiden Joko Widodo atau Jokowi sedang menelepon. (instagram/@jokowi)

Beberapa pemimpin dunia, termasuk Presiden Prancis, telah jadi korban spyware Pegasus buatan perusahaan Israel, NSO.

Suara.com - Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha menyarankan agar Presiden Joko Widodo dan pejabat negara tidak memakai WhatsApp untuk menghindari serangan software pengintai besutan Israel, Pegasus.

Pratama Persadha melalui keterangannya diterima Antara, di Semarang, Sabtu malam (24/7/2021) menjelaskan bahwa Pegasus merupakan malware berbahaya yang bisa masuk ke gawai seseorang dan melakukan kegiatan surveillance atau mata-mata.

Menurut Pratama, Pegasus sebenarnya merupakan sebuah trojan yang begitu masuk ke dalam sistem target dapat membuka pintu bagi penyerang untuk dapat mengambil informasi yang berada di target.

"Lebih spesifik boleh dikatakan bahwa Pegasus merupakan sebuah perangkat pengintai (spyware)," kata Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) ini.

Baca Juga: Khawatir Jadi Target Spyware Pegasus, Emmanuel Macron Ganti Ponsel

Pratama mengemukakan hal itu terkait dengan Pegasus yang ramai menjadi perbincangan setelah laporan Amnesty Internasional menyebutkan ada sejumlah presiden, perdana menteri, dan raja yang menjadi target dari malware buatan NSO, perusahaan teknologi Israel.

Salah satu yang menjadi perhatian internasional, kata dia, adalah info bahwa salah satu yang menjadi korban Pegasus adalah Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Laporan dari Amnesty International dan Citizen Lab menyusul dugaan kebocoran data pada 50.000 target potensial alat mata-mata Pegasus NSO, termasuk di dalamnya adalah 10 perdana menteri, tiga presiden, dan seorang raja menjadi target Pegasus.

Dijelaskan pula bahwa software pengintai seperti ini banyak juga dijual bebas di pasaran, bahkan ada beberapa yang bisa didapatkan dengan gratis. Namun, yang membedakan adalah teknik atau metode yang digunakan agar malware tersebut untuk dapat menginfeksi korban.

"Selain itu, teknik untuk menyembunyikan diri agar tidak dapat terdeteksi oleh antivirus maupun peralatan security dan juga teknik agar tidak dapat di-tracking," katanya.

Baca Juga: Kepala Satpol PP Seluruh Indonesia Dikumpulkan Dalam Grup WhatsApp

Saat ini, kata dia, sangat sulit untuk menghindari kemungkinan serangan malware. Pegasus sendiri hanya membutuhkan nomor telepon target. Ponsel bisa jadi terhindar dari Pegasus jika nomor yang digunakan tak diketahui oleh orang lain.

Komentar