alexametrics

Jakarta Akan 1,4 Derajat Celcius Lebih Panas Karena Krisis Iklim

Liberty Jemadu
Jakarta Akan 1,4 Derajat Celcius Lebih Panas Karena Krisis Iklim
Suasana Monumen Nasional (Monas) di kawasan Medan Merdeka, Jakarta, Kamis (16/11).

Secara umum rata-rata suhu udara permukaan Indonesia lebih rendah dari rata-rata global, tetapi beberapa kota di Indonesia justru memiliki suhu lebih tinggi.

Suara.com - Krisis iklim yang melanda dunia akan juga terasa di Indonesia. Selain menyebabkan hujan dan kekeringan intens, suhu di perkotaan seperti Jakarta juga diperkirakan akan semakin panas.

Peneliti Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan bahwa suhu di kota besar Indonesia akan lebih panas dari biasanya. Ia mencontohkan Jakarta yang diramalkan akan 1,4 derajat Celcius lebih panas akibat krisis iklim.

"Kalau kita lihat kota per kota seperti Jakarta itu akan 1,4 derajat Celcius lebih tinggi, dibandingkan rata-rata global," kata Siswanto dalam diskusi tentang krisis iklim yang digelar Walhi, Senin (20/9/2021).

Siswanto menerangkan bahwa kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Medan, dan Surabaya akan memberi respons berbeda terhadap krisis iklim yang kini sedang berlangsung secara global.

Baca Juga: Pemanasan Global Capai Ambang Batas Jika Tak Ada Pengurangan Emisi Segera dan Masif

Meski secara umum rata-rata suhu udara permukaan Indonesia lebih rendah dari rata-rata global, tetapi jika dilihat secara spesifik per kota, maka beberapa kota di Indonesia justru memiliki suhu lebih tinggi ketimbang rata-rata dunia.

Siswanto mengaitkan ini dengan apa yang disebut sebagai fenomena panas perkotaan. Ia memberi contoh Jakarta yang suhunya lebih tinggi ketimbang rerata global. Karenanya tak heran jika krisis iklim tak diatasi, maka ibu kota akan 1,4 derajat Celcius lebih panas.

Sebelumnya Siswanto membeberkan bahwa salah satu dampak krisis iklim di Indonesia adalah peningkatan potensi terjadinya cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir dan kekeringan intens.

Ia mengatakan laporan terbaru Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) PBB menemukan bahwa perubahan iklim mengintensifkan siklus hidrologi atau air alam.

"Jadi akan sangat wajar kalau kita akan sering mendapatkan curah hujan ekstrem pemicu banjir namun di saat musim kemarau kita akan mendapatkan kekeringan yang lebih intens," kata Siswanto.

Baca Juga: Suhu Udara di Jawa Tengah Meningkat, Pemkab Karanganyar Waspadai Kebakaran Lahan Kosong

Selain itu, perubahan iklim juga akan menyebabkan pola curah hujan di wilayah tropis yang berubah pola dan intensitasnya tergantung dengan wilayah.

Daerah pesisir juga akan mengalami dampak dari kenaikan tinggi muka laut sepanjang abad ke-21 yang berkontribusi terhadap banjir pantai yang lebih sering di daerah pesisir serta menyebabkan erosi pantai. [Antara]

Komentar