facebook

Ilmuwan BRIN Temukan 14 Spesies Baru Curut di Sulawesi

Liberty Jemadu
Ilmuwan BRIN Temukan 14 Spesies Baru Curut di Sulawesi
Para ilmuwan BRIN menemukan 14 spesies baru curut di Sulawesi. [Antara]

Penemuan 14 spesies baru curut itu merupakan yang terbesar dari kelompok mamalia yang terpublikasikan sejak 1931.

Suara.com - Sebanyak 14 spesies baru curut ditemukan di Sulawesi melalui penelitian yang dilakukan kurang lebih satu dekade oleh Pusat Riset Biologi Badan Riset Nasional dan Inovasi (BRIN) bersama mitra luar negeri.

Penelitian itu dilakukan oleh peneliti Pusat Riset Biologi BRIN Anang S Achmadi bersama dengan ahli mamalia dari Lousiana State University (LSU) Amerika Serikat Jake Esselstyn dan ahli mamalia dari Museum Victoria Australia Kevin C Rowe.

"Penemuan ini terungkap saat kami bersama tim memeriksa hampir 1.400 spesimen celurut secara intensif," kata Anang yang juga merupakan Pelaksana tugas Kepala Pusat Riset Biologi BRIN, Senin (20/12/2021).

Penemuan tersebut merupakan penemuan terbesar dari kelompok mamalia yang terpublikasikan sejak 1931.

Baca Juga: BRIN: Fasilitas Nuklir Akan Terpusat di Puspitek Serpong

Melalui konfirmasi data molekular dan morfologi spesimen baru yang dikoleksi sejak 2010 dan 2018 dengan spesimen lama yang dikoleksi sejak 1916, Anang bersama rekannya berhasil mengidentifikasi sekitar 21 jenis celurut dari Sulawesi, yang mana 14 celurut diantaranya termasuk jenis baru.

"Penemuan ini menambah keanekaragaman celurut Sulawesi menjadi tiga kali lebih banyak daripada yang diketahui dari pulau lain mana pun," ujar Anang.

Penemuan itu menambah informasi dan inventarisasi jenis fauna, khususnya mamalia di Indonesia. Penelitian lanjutan tentu perlu dilakukan untuk mengungkapkan lebih banyak kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia.

Anang menuturkan saat ini peneliti masih terus melakukan penelitian dan mendeskripsikan jenis baru dari kelompok mamalia.

Penemuan tersebut juga menjadi tonggak utama dalam penelitian Professor Jake Esselstyn dari Departemen Ilmu Biologi LSU. Ia tertarik untuk menguji hipotesis secara ekologi dan evolusi yang mungkin dapat menjelaskan keragaman celurut di Indonesia.

Baca Juga: Peneliti BRIN: Gempa Larantuka Bukan Perulangan Dari Gempa-Tsunami di Flores 1992

Bersama dengan Anang, Esselstyn memulai penelitian kelompok tikus di Pulau Sulawesi sejak 2010. Ternyata mereka menyadari terlalu banyak jenis yang belum terungkap untuk menguji hipotesis tersebut.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar