- Ilmuwan Tiongkok berhasil meningkatkan kinerja reaktor fusi EAST, melampaui batas stabilitas plasma yang sulit ditembus.
- Masalah utama diatasi dengan mengendalikan partikel logam, khususnya tungsten, yang mencemari plasma superpanas reaktor.
- Pencapaian ini merupakan kemajuan signifikan menuju realisasi energi fusi yang bersih, aman, dan hampir tak terbatas.
Suara.com - China kembali membuat terobosan besar di bidang sains. Para ilmuwan berhasil meningkatkan kinerja “matahari buatan” mereka hingga melewati batas yang selama ini dianggap sulit ditembus.
Eksperimen ini dilakukan di reaktor bernama EAST, sebuah mesin raksasa yang dirancang untuk meniru cara Matahari menghasilkan energi.
Tujuannya adalah menciptakan energi fusi, sumber energi bersih yang sangat besar dan hampir tidak menghasilkan limbah berbahaya.
Di dalam EAST, para ilmuwan memanaskan gas hingga menjadi plasma superpanas, lalu menahannya dengan medan magnet yang sangat kuat.
Semakin padat plasma tersebut, semakin besar energi yang bisa dihasilkan, sebagaimana melansir dari laman IThome, Sabtu (3/1/2026).
Masalahnya, selama puluhan tahun, saat plasma dibuat terlalu padat, reaktor justru menjadi tidak stabil.
![EAST, sebuah mesin raksasa yang dirancang untuk meniru cara Matahari menghasilkan energi. [IThome]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/03/48720-east-sebuah-mesin-raksasa-yang-dirancang-untuk-meniru-cara-matahari-menghasilkan-energi.jpg)
Plasma bisa “lepas kendali” dan menyentuh dinding mesin, sehingga eksperimen harus dihentikan.
Batas ini sudah lama menjadi penghalang utama dalam riset energi fusi.
Tim peneliti China menemukan bahwa penyebabnya bukan hanya karena plasma terlalu padat, tetapi juga karena partikel logam dari dinding reaktor ikut masuk ke dalam plasma. Salah satu logam yang paling mengganggu adalah tungsten.
Baca Juga: Dominasi Dua Dekade Berakhir Mobil China Diprediksi Lampaui Penjualan Mobil Jepang di Tahun 2025
Untuk mengatasi hal ini, para ilmuwan mengembangkan cara baru agar interaksi antara plasma dan dinding reaktor bisa dikendalikan dengan lebih baik.
Mereka juga menggunakan teknik pemanasan dan pengaturan gas yang lebih cermat.
Hasilnya, plasma bisa tetap stabil meski berada pada kepadatan yang lebih tinggi dari biasanya. Dengan kata lain, reaktor berhasil bekerja di luar batas lama tanpa mengalami gangguan.
Temuan ini menjadi kabar baik bagi pengembangan energi fusi di masa depan.
Meski listrik dari fusi belum bisa digunakan secara komersial dalam waktu dekat, penelitian ini menunjukkan bahwa para ilmuwan semakin dekat untuk mewujudkan sumber energi bersih, aman, dan hampir tak terbatas.