-
Perkembangan AI yang sangat cepat menimbulkan ancaman terhadap kreativitas generasi muda, sehingga perlu dikendalikan dengan nilai, nalar, dan etika manusia.
-
Manipulasi digital seperti deepfake menjadi tantangan serius, sehingga literasi digital dan integritas akademik harus diperkuat agar AI tidak merugikan ruang publik.
-
AI harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia, dengan pemanfaatan yang bijak, etis, dan bertanggung jawab demi kepentingan masyarakat dan bangsa.
Begitu pula dengan pendapat dari Tim Analisis Isu Publik Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Satya Bilal. Menurutnya, teknologi kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama bagi generasi muda.
“AI membuka peluang besar bagi kesuksesan anak muda jika dimanfaatkan dengan bijak. Jadikan teknologi sebagai jalur sukses, bukan ancaman,” sambung Satya.
Melalui IGtC, Kemkomdigi berharap kampus bisa menjadi garda depan dalam membangun ekosistem digital nasional yang kreatif, kritis, dan beretika.
“Indonesia harus kreatif sekaligus etis. AI harus jadi alat untuk membangun komunikasi publik yang sehat dan bermanfaat,” pungkas Nursodik.