Aturan Baru Komdigi 2026: Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Akses Media Sosial

Dythia Novianty

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:06 WIB
Aturan Baru Komdigi 2026: Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Akses Media Sosial
Aturan Baru Komdigi 2026: Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Akses Media Sosial. [Suara.com/Syahda]
baca 10 detik
  • Kominfo memberlakukan Permen No. 9 Tahun 2026 per 6 Maret 2026 untuk mengawasi aktivitas anak di internet.
  • Platform digital wajib menerapkan batas usia minimum pengguna, verifikasi akun, penilaian risiko, dan fitur kontrol orang tua.
  • Regulasi ini bertujuan melindungi anak dari risiko digital, termasuk paparan konten seksual dan eksploitasi daring.

Suara.com - Pemerintah Indonesia mulai emperketat pengawasan terhadap aktivitas anak di internet. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), baru saja memberlakukan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permen Komdigi) Nomor 9 tahun 2026.

Regulasi ini menjadi aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas, yang menetapkan standar baru bagi perusahaan teknologi sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE).

Melalui aturan ini, platform digital diwajibkan menyediakan berbagai mekanisme perlindungan anak, mulai dari batas usia minimum pengguna, sistem verifikasi akun anak, penilaian risiko layanan digital, hingga fitur kontrol orang tua (parental control).

Permen Komdigi tersebut resmi berlaku sejak 6 Maret 2026, bersamaan dengan tanggal pengundangannya.

Platform Wajib Cantumkan Batas Usia Pengguna

Kewajiban yang dimaksud antara lain menyediakan informasi batasan minimum usia untuk layanannya, mekanisme verifikasi pengguna anak, melalukukan penilaian mandiri untuk tingkat risiko, hingga menyiapkan fitur kontrol orang tua.

Terkait dengan batasan usia, mengutip salinan Permen Komdigi Nomor 9 tahun 2026, PSE wajib menyediakan informasi mengenai batasan minimum usia anak yang dapat menggunakan produk atau layanannya dengan bahasa dan format yang mudah dipahami.

Pencantuman batas minimum usia anak untuk menggunakan layanan atau fitur digital tersebut dalam aturan ini dikelompokkan menjadi lima kategori rentang usia dengan batasan minimum berusia paling rendah tiga tahun.

Mengenai penilaian mandiri, PSE diwajibkan cukup banyak melakukan penilaian mandiri mulai untuk memastikan layanannya sesuai dengan batasan minimum usia anak hingga penilaian mandiri tingkat risiko.

baca juga

Ada dua kategori tingkat risiko yang diatur dalam Permen Komdigi ini yaitu risiko tinggi dan rendah.

Untuk PSE risiko tinggi harus memenuhi beberapa aspek anak berisiko berkontak dengan orang lain yang tidak dikenal.

Lalu aspek anak dapat terpapar konten pornografi, kekerasan, hingga konten yang tidak sesuai peruntukan anak.

Aspek lainnya yang menyebabkan sebuah layanan dikategorikan berisiko tinggi ialah layanan berpotensi mengeksploitasi anak sebagai konsumen, layanan berpotensi mengancam keamanan data pribadi anak, layanan menimbulkan adiksi, hingga layanan gangguan kesehatan psikologis anak, dan gangguan fisiologis anak.

Nantinya, hasil penilaian mandiri itu akan diverifikasi oleh Menteri Komunikasi dan digital, kewenangan verifikasi untuk hasil penilaian tersebut dapat diberikan ke Direktur Jenderal terkait dalam hal ini Dirjen Pengawasan Ruang Digital.

Apabila terdapat ketidaksesuaian, maka pihak Dirjen dapat melakukan konfirmasi ataupun klarifikasi kepada PSE. PSE harus memenuhi klarifikasi dalam jangka waktu yang ditetapkan Dirjen.

Nantinya apabila seluruh proses verifikasi selesai, Menteri akan menetapkan profil risiko PSE. Hal ini juga dapat didelegasikan kepada Dirjen terkait.

Khusus untuk PSE yang menawarkan fitur interaksi digital seperti jejaring dan media sosial, pemerintah telah secara otomatis menetapkan PSE tersebut memiliki profil risiko tinggi.

Untuk PSE yang mengharuskan pengguna memiliki akun khusus untuk mengakses layanannya, maka PSE wajib menjamin tersedianya teknologi agar orang tua atau wali anak dapat melakukan pengawasan atau dikenal juga sebagai fitur pendampingan orang tua.

PSE jenis ini wajib mengikuti batasan minimum usia anak sesuai ketentuan di Pasal 29 dalam aturan ini.

Selain mengatur kewajiban PSE, dalam aturan ini dijelaskan juga tata cara Pemerintah untuk menindaklanjuti laporan apabila terdapat laporan mengenai dugaan PSE melanggar kewajibannya melindungi anak di ruang digital.

Tidak hanya itu, aturan ini turut menyiapkan mekanisme PSE melakukan banding atau menyatakan keberatan terhadap sanksi administrasif.

Peraturan Menteri ini telah berlaku sejak 6 Maret 2026 tepat ditanggal yang sama saat aturan ini diundangkan.

Risiko Anak di Internet Semakin Mengkhawatirkan

Jumlah pengguna ruang digital yang masih anak-anak sangat berisiko besar.

Berdasarkan data dari UNICEF dikutip Antara, Selasa (10/3/2026), sekitar 50 persen anak Indonesia yang menggunakan internet pernah terpapar konten seksual di media sosial, sementara 42 persen anak mengaku merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman mereka di ruang digital.

Selain itu, Komdigi mencatatkan kasus eksploitasi anak secara daring mencapai sekitar 1,45 juta kasus.

Menteri Komdigi, Meutya Hafid pun menyampakan bahwa sekitar 229 juta pengguna internet di Indonesia, hamper 80 persen anak sudah terhubung.

Aturan Baru Komdigi 2026: Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Akses Media Sosial. [Suara.com/Syahda]
Aturan Baru Komdigi 2026: Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Akses Media Sosial. [Suara.com/Syahda]

"Ini angka yang sangat besar dan menjadi perhatian serius kita bersama," ujarnya.

Mirisnya lagi, dia mengungkapkan bahwa setengah anak Indonesia sudah pernah melihat konten seksual di internet.

"Platform digital harus ikut bertanggung jawab melindungi anak," tegas Meutya.

Pemberlakukan PP Tunas

Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan kehadiran Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) memberikan proteksi bagi anak dari platform digital berisiko tinggi.

“Melalui PP Tunas, pemerintah menunda usia akses anak ke platform digital berisiko tinggi hingga 16 tahun, dan untuk layanan dengan risiko lebih rendah mulai usia 13 tahun,” ujar Meutya.

Pemberlakuan PP Tunas menjadi penting menurutnya berkaca dari fakta jumlah anak yang aktif di internet di Indonesia sangat besar.

Ia menegaskan kebijakan ini bukan pembatasan internet bagi anak, melainkan pengaturan usia akses terhadap layanan digital yang memiliki potensi risiko tinggi.

Menurut Meutya, pengaturan ini juga mempertimbangkan berbagai bentuk risiko di ruang digital, mulai dari paparan konten berbahaya, interaksi dengan orang tidak dikenal, potensi eksploitasi anak, hingga risiko kecanduan penggunaan platform digital.

“Bahkan ketika kontennya tidak bermasalah, penggunaan platform digital yang berlebihan juga dapat menimbulkan adiksi yang berdampak pada kesehatan mental dan pertumbuhan anak,” ujarnya.

Ia menambahkan keberhasilan implementasi PP Tunas memerlukan kerja sama lintas kementerian dan lembaga, termasuk sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, serta penegakan hukum.

Pemerintah menargetkan implementasi penuh regulasi tersebut mulai berjalan setelah satu tahun peresmiannya yakni pada 28 Maret 2026.

“Dengan jumlah anak yang mencapai puluhan juta pengguna internet, tantangan implementasi di Indonesia tentu jauh lebih kompleks. Namun platform digital yang beroperasi di Indonesia harus menghormati hukum yang berlaku di Indonesia,” pungkas Meutya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Biaya Akses Data Biometrik di Dukcapil Naik 3 Kali Lipat, ATSI Keberatan

Biaya Akses Data Biometrik di Dukcapil Naik 3 Kali Lipat, ATSI Keberatan

Tekno | Jum'at, 06 Februari 2026 | 18:03 WIB

Registrasi Kartu SIM Biometrik Diterapkan, Isu Perlindungan Data Jadi Sorotan

Registrasi Kartu SIM Biometrik Diterapkan, Isu Perlindungan Data Jadi Sorotan

Tekno | Jum'at, 30 Januari 2026 | 10:14 WIB

Ketika Akses Ditutup, Risiko Tak Hilang: Pelajaran dari Larangan Media Sosial

Ketika Akses Ditutup, Risiko Tak Hilang: Pelajaran dari Larangan Media Sosial

Tekno | Selasa, 27 Januari 2026 | 12:45 WIB

Pakar Wanti-wanti Standar Keamanan Registrasi SIM Biometrik Komdigi

Pakar Wanti-wanti Standar Keamanan Registrasi SIM Biometrik Komdigi

Tekno | Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:26 WIB

Registrasi SIM via Biometrik, Warga Bisa Terancam Kehilangan Hak Komunikasi

Registrasi SIM via Biometrik, Warga Bisa Terancam Kehilangan Hak Komunikasi

Tekno | Kamis, 15 Januari 2026 | 21:22 WIB

Grok Resmi Diblokir Sementara di Indonesia, Komdigi Soroti Ancaman Deepfake Seksual

Grok Resmi Diblokir Sementara di Indonesia, Komdigi Soroti Ancaman Deepfake Seksual

Tekno | Sabtu, 10 Januari 2026 | 12:11 WIB

Terkini

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Dari Urusan Kerja hingga Menyusui, Teknologi Makin Dekat dengan Rutinitas Harian Perempuan

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:57 WIB

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Hashim Klaim Indonesia Negara Super Kaya, Sebut Mampu Biayai MBG & Kopdes Merah Putih

Bisnis | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet

Jawa Tengah | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:36 WIB

Nasib Bayi yang Ditemukan di Toilet Tol Terpeka: Sudah Boleh Pulang, 5 Keluarga Berminat Mengadopsi

Nasib Bayi yang Ditemukan di Toilet Tol Terpeka: Sudah Boleh Pulang, 5 Keluarga Berminat Mengadopsi

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:34 WIB

Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda

Bank Sumsel Babel Luncurkan Sultan Muda Corner, Perkuat Pembiayaan UMKM dan Wirausaha Muda

Sumsel | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:16 WIB

Dua Kata Justin Hubner Usai Jadi Algojo Penalti dan Bawa Fortuna Melaju di KNVB Cup

Dua Kata Justin Hubner Usai Jadi Algojo Penalti dan Bawa Fortuna Melaju di KNVB Cup

Bola | Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:10 WIB

Plot Twist! Identitas Gerombolan Beralmamater Bersama Raffi Ahmad Cs di Bundaran HI Terbongkar

Plot Twist! Identitas Gerombolan Beralmamater Bersama Raffi Ahmad Cs di Bundaran HI Terbongkar

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:59 WIB

PPAD Bekali Calon Wisudawan Purnawira 2026, Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

PPAD Bekali Calon Wisudawan Purnawira 2026, Tegaskan Pensiun Bukan Akhir Pengabdian

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:45 WIB

Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya

Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya

Jogja | Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:40 WIB

×