- PT ITSEC Asia Tbk resmi memperluas lini bisnis ke pengembangan perangkat lunak dan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
- Keputusan ekspansi strategis tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang diselenggarakan pada 30 Juni 2026.
- Langkah ini bertujuan mempercepat komersialisasi teknologi keamanan siber serta memperbesar kontribusi pendapatan berulang bagi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.
Dari sisi bisnis, model baru yang diusung ITSEC Asia juga dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.
![Patrick Dannacher, President Director ITSEC Asia dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Dythia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/27/94078-patrick-dannacher-president-director-itsec-asia.jpg)
Berdasarkan studi kelayakan independen, model bisnis berbasis recurring revenue diproyeksikan mampu menghasilkan rata-rata Gross Profit Margin (GPM) sebesar 74 persen dan Net Profit Margin (NPM) sebesar 55 persen selama periode 2026–2031.
Implementasi strategi tersebut didukung investasi awal senilai Rp11 miliar yang seluruhnya berasal dari kas operasional internal perusahaan.
ITSEC Asia juga akan memanfaatkan infrastruktur teknologi serta kapabilitas riset dan pengembangan yang telah dimiliki sehingga ekspansi dapat dilakukan tanpa mengganggu disiplin pengelolaan modal.
Dengan strategi tersebut, perusahaan menargetkan transformasi menjadi perusahaan teknologi keamanan siber yang tidak hanya menyediakan layanan, tetapi juga memiliki portofolio intellectual property dan software berbasis AI sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.
Patrick menegaskan bahwa AI bukan ditujukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat kemampuan para profesional keamanan siber dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
"Kami tidak melihat AI sebagai pengganti manusia dalam keamanan siber. Kami melihat AI sebagai pengganda kemampuan yang memungkinkan para ahli keamanan siber bekerja lebih cepat, mengambil keputusan lebih akurat dan melindungi lebih banyak organisasi. Masa depan keamanan siber bukan tentang manusia atau AI, tetapi bagaimana keduanya bekerja bersama untuk membangun ketahanan digital yang lebih kuat. Itulah masa depan yang sedang kami bangun di ITSEC Asia," tutup Patrick.