- Hubert Lee menyatakan bahwa desain perangkat Samsung dirancang agar terasa natural dan nyaman bagi tubuh manusia.
- Samsung merancang Galaxy Z Fold8 terinspirasi dari paspor untuk memberikan kenyamanan penggunaan dengan satu tangan.
- Samsung menggunakan lebih dari 100 juta data pergelangan tangan untuk menyempurnakan kenyamanan desain Galaxy Watch.
Suara.com - Di balik bodi yang makin tipis, layar yang dapat dilipat, dan smartwatch yang dipakai sepanjang hari, ada persoalan yang tidak kalah penting dari spesifikasi, yakni bagaimana membuat teknologi terasa natural di tangan dan tubuh manusia.
Seperti yang dihadirkan pada rangkaian perangkat terbaru Samsung dirancang dengan filosofi yang sama, yaitu menghadirkan pengalaman yang semakin nyaman bagi pengguna.
Executive Vice President sekaligus Head of Design Team, Mobile eXperience (MX) Business Samsung Electronics, Hubert Lee, mengatakan desain bagi Samsung bukan hanya sesuatu yang dilihat, tetapi juga harus dapat dirasakan.
“Di era yang dipengaruhi oleh perkembangan AI, pendekatan yang berpusat pada pengguna menjadi semakin penting. Bagi kami, desain bukan hanya sesuatu yang dilihat, tetapi juga harus dapat dirasakan,” ujar Hubert.
Ketika Desain Tak Lagi Sekadar Estetika
Perangkat dengan performa semakin tinggi biasanya membutuhkan komponen dan sistem yang semakin kompleks. Tantangannya adalah bagaimana teknologi tersebut tetap dikemas dalam perangkat yang nyaman digunakan.
Karena itu, Samsung menempatkan aspek tipis dan ringan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengembangan Galaxy Z Series terbaru.
Bukan sekadar mengejar angka ketebalan, desain diarahkan agar perangkat terasa lebih natural ketika dibuka, digenggam, dan digunakan dalam berbagai aktivitas.
Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui konsep “Emotive Geometry”, yang memberikan sentuhan lebih humanis pada karakter desain Galaxy yang sederhana dan premium.
Filosofinya adalah menciptakan keseimbangan antara performa teknologi dengan pengalaman emosional pengguna. Dengan kata lain, perangkat tidak hanya harus terlihat canggih, tetapi juga harus terasa nyaman ketika menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Galaxy Z Fold8 Terinspirasi dari Paspor
Salah satu contoh paling menarik terlihat pada desain Galaxy Z Fold8. Samsung menggunakan paspor sebagai salah satu inspirasi desain karena benda tersebut dirancang untuk mudah dibawa, nyaman digenggam dengan satu tangan, sekaligus memungkinkan penggunanya melihat informasi dengan cepat.
Prinsip ergonomi tersebut kemudian diterapkan ke dalam perangkat foldable. Saat dilipat, Galaxy Z Fold8 menggunakan rasio layar 16:10 yang dirancang untuk penggunaan satu tangan. Ketika dibuka, layar utama menghadirkan rasio 4:3 dengan proporsi yang lebih seimbang dan simetris.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inspirasi desain tidak selalu berasal dari perangkat teknologi lain. Benda yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari pun dapat menjadi referensi untuk menemukan bentuk perangkat yang lebih natural.
Pada Galaxy Z Fold8 Ultra, filosofi tersebut berkembang melalui konsep “Emotive Slim”.
Pendekatan ini tidak hanya mengejar bodi yang lebih tipis, tetapi juga bagaimana perangkat terlihat dan terasa ramping ketika digunakan.
![Samsung Galaxy Z Fold8. [Samsung]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/20/53322-samsung-galaxy-z-fold8.jpg)
Lekukan pada frame dibuat lebih halus agar perangkat lebih mudah dibuka. Sementara itu, siluet bagian luar dibuat lebih melengkung untuk meningkatkan kenyamanan genggaman dan profil samping dibuat lebih minimalis.
Samsung juga melihat bahwa perkembangan foldable selama tujuh generasi telah mengubah cara pengguna memandang perangkat tersebut.
“Seiring berkembangnya kategori foldable, kebutuhan dan ekspektasi pengguna pun menjadi semakin beragam. Dari situ kami menyadari bahwa satu perangkat tidak bisa memenuhi kebutuhan semua orang, one size does not fit all,” kata Hubert.
Karena itu, Galaxy Z Series terbaru hadir dengan portofolio yang lebih beragam. Galaxy Z Fold8 Ultra, Galaxy Z Fold8, dan Galaxy Z Flip8 dirancang untuk menjawab kebutuhan serta gaya hidup pengguna yang berbeda.
Galaxy Watch: Nyaman Dipakai Seharian
Filosofi serupa juga diterapkan Samsung pada Galaxy Watch Ultra2 dan Galaxy Watch9. Namun, karena smartwatch bersentuhan langsung dengan tubuh sepanjang hari, fokus desainnya sedikit berbeda.
Jika smartphone harus nyaman digenggam, smartwatch harus nyaman dikenakan dalam waktu lama.
Samsung karena itu memilih pendekatan penyempurnaan ketimbang mengubah identitas Galaxy Watch secara menyeluruh.
Salah satu elemen yang dipertahankan adalah cushion design, yang menjadi karakter visual sekaligus bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara tampilan tegas dan kenyamanan.
Pada Galaxy Watch Ultra2, layar, bezel, dan cushion body dibuat lebih menyatu untuk menghasilkan profil yang lebih seamless.
Samsung juga mengatur kembali jarak dan pemisahan antar tombol.
Tujuannya sederhana, pengguna dapat membedakan tombol melalui sentuhan sehingga pengoperasian bisa dilakukan lebih presisi tanpa harus selalu melihat layar.
100 Juta Data Pergelangan Tangan
Salah satu bagian paling menarik dari filosofi desain Galaxy Watch terbaru adalah bagaimana Samsung menggunakan data untuk menguji kenyamanan.
Samsung memanfaatkan computational design untuk memvalidasi kesesuaian strap berdasarkan lebih dari 100 juta data pergelangan tangan pengguna dan 10 ribu simulasi.
Data tersebut digunakan untuk menyempurnakan desain strap agar lebih ringan, tipis, dan breathable melalui struktur air pocket. Samsung juga menyesuaikan keseimbangan antara bodi jam dan strap agar perangkat terasa lebih stabil ketika dikenakan.
Artinya, kenyamanan yang terlihat sederhana ternyata melibatkan proses desain berbasis data dalam skala besar.
Desain tidak lagi hanya ditentukan oleh bagaimana sebuah perangkat terlihat di atas meja, tetapi juga bagaimana perangkat tersebut berinteraksi dengan tubuh penggunanya.
Dari Data Kembali ke Faktor Manusia
Pendekatan Samsung memperlihatkan satu paradoks menarik dalam pengembangan perangkat di era AI. Ketika teknologi semakin kompleks, desain justru semakin diarahkan untuk membuat pengalaman pengguna terasa sederhana.
![Galaxy Watch9 dan Galaxy Watch Ultra2. [Samsung]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/20/32378-galaxy-watch9-dan-galaxy-watch-ultra2.jpg)
AI, computational design, simulasi, dan data dalam jumlah besar digunakan di balik layar. Namun, hasil akhirnya justru diharapkan tidak terasa rumit bagi pengguna.
Pengguna hanya perlu merasakan bahwa Galaxy Z Fold8 lebih nyaman dibuka dan digenggam, sementara Galaxy Watch lebih nyaman dipakai sepanjang hari.
Hubert mengatakan, seluruh proses tersebut berawal dari pemahaman mengenai cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan teknologi.
“Agar sebuah desain benar-benar terasa dekat dengan pengguna, semuanya harus berawal dari pemahaman yang mendalam tentang bagaimana orang hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan teknologi setiap hari,” ujarnya.
Pada akhirnya, filosofi desain Galaxy Z Fold8 dan Galaxy Watch terbaru bukan sekadar tentang membuat perangkat terlihat lebih tipis, premium, atau modern. Samsung mencoba menjadikan desain sebagai penghubung antara kemampuan teknologi dengan kebiasaan manusia.