Perbedaan Penyakit Rabun Jauh Miopi dan Rabun Dekat Hipermetropi Beserta Jenis Lensanya

Yasinta Rahmawati

Rabu, 30 September 2026 | 17:17 WIB
Perbedaan Penyakit Rabun Jauh Miopi dan Rabun Dekat Hipermetropi Beserta Jenis Lensanya
Ilustrasi kacamata, gangguan penglihatan. (Freepik)
baca 10 detik
  • Rabun jauh atau miopi menyebabkan objek jauh tampak kabur akibat cahaya jatuh di depan retina, sehingga memerlukan lensa cekung negatif.
  • Rabun dekat atau hipermetropi menyebabkan objek dekat tampak buram karena cahaya jatuh di belakang retina, sehingga memerlukan lensa cembung positif.
  • Penderita gangguan penglihatan disarankan segera melakukan pemeriksaan refraksi mata ke dokter spesialis guna mendapatkan resep kacamata atau lensa kontak.

Suara.com - Rabun jauh (miopi) dan rabun dekat (hipermetropi) merupakan kondisi gangguan penglihatan yang paling sering dijumpai.

Meski sama-sama memengaruhi kemampuan mata dalam melihat objek, rabun jauh miopi dan rabun dekat hipermetropi memiliki perbedaan, baik dari objek yang sulit dilihat maupun jenis lensa yang digunakan untuk mengoreksinya.

Berikut adalah pembahasan lengkap mengenai perbedaan miopi dan hipermetropi beserta jenis lensa korektif yang digunakan.

Rabun Jauh (Miopi)

Miopi atau rabun jauh adalah kondisi ketika seseorang dapat melihat objek yang berada di dekatnya dengan lebih jelas, tetapi kesulitan melihat objek yang letaknya jauh.

Kondisi ini terjadi ketika bentuk bola mata terlalu panjang atau kornea terlalu melengkung sehingga cahaya yang masuk ke mata jatuh di depan retina, bukan tepat pada retina.

Gejala Umum:

  • Kesulitan membaca papan tulis, tanda jalan, atau layar TV dari jarak jauh.
  • Sering memicingkan mata saat melihat objek jauh.
  • Sakit kepala atau mata lelah setelah fokus melihat benda jauh dalam waktu lama.

Rabun Dekat (Hipermetropi)

Berbeda dengan miopi, hipermetropi atau rabun dekat membuat seseorang lebih sulit melihat objek yang berada pada jarak dekat. Objek yang jauh biasanya dapat terlihat lebih jelas dibandingkan objek yang dekat.

Hipermetropi dapat terjadi ketika bola mata terlalu pendek atau bentuk kornea terlalu datar. Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata akan difokuskan di belakang retina.

Gejala Umum:

baca juga
  • Kesulitan membaca buku, menggunakan ponsel, atau melakukan pekerjaan dari jarak dekat.
  • Objek dekat terlihat kabur atau buram.
  • Sensasi pegal atau tegang pada mata (eyestrain) setelah membaca atau menjahit.

Jenis Lensa Korektif yang Digunakan

Untuk mengembalikan ketajaman penglihatan, penderita gangguan refraksi memerlukan kacamata atau lensa kontak khusus yang disesuaikan dengan jenis kelainannya.

Lensa Cekung (Minus / Divergen) untuk Miopi

Penderita miopi membutuhkan lensa cekung (lensa negatif/minus).

Cara Kerja: Lensa ini bersifat menyebarkan cahaya (divergen) sebelum masuk ke dalam mata. Dengan membiaskan cahaya sedikit ke luar, titik fokus yang tadinya jatuh di depan retina akan digeser tepat ke permukaan retina.

Tanda Dioptri: Pada resep kacamata, nilainya ditandai dengan tanda minus (contoh: -1.50 D).

Lensa Cembung (Plus / Konvergen) untuk Hipermetropi

Penderita hipermetropi membutuhkan lensa cembung (lensa positif/plus).

Cara Kerja: Lensa ini bersifat mengumpulkan cahaya (konvergen). Lensa cembung membiaskan cahaya ke dalam sebelum masuk ke mata, sehingga titik fokus yang tadinya jatuh di belakang retina dapat ditarik maju tepat ke permukaan retina.

Tanda Dioptri: Pada resep kacamata, nilainya ditandai dengan tanda plus (contoh: +2.00 D).

Kesimpulannya, miopi dan hipermetropi disebabkan oleh perbedaan bentuk fisik bola mata dan letak pembentukan titik fokus cahaya terhadap retina. Miopi membuat objek jauh menjadi kabur dan diatasi menggunakan lensa cekung (minus), sedangkan hipermetropi membuat objek dekat menjadi kabur dan diatasi menggunakan lensa cembung (plus).

Jika Anda mengalami gejala pandangan kabur atau sering merasa lelah pada mata, disarankan untuk melakukan pemeriksaan refraksi mata ke optometris atau dokter spesialis mata untuk mendapatkan resep lensa yang tepat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini

Katarak Kongenital pada Anak dan Pentingnya Deteksi Sejak Dini

Health | Senin, 24 Agustus 2026 | 22:08 WIB

Pandangan Masih Buram Meski Ganti Kacamata? Bisa Jadi Bukan Sekadar Mata Minus Biasa

Pandangan Masih Buram Meski Ganti Kacamata? Bisa Jadi Bukan Sekadar Mata Minus Biasa

Health | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:53 WIB

Bukan Sekadar Pakai Kacamata, Ini Cara Memperlambat Perkembangan Mata Minus pada Anak

Bukan Sekadar Pakai Kacamata, Ini Cara Memperlambat Perkembangan Mata Minus pada Anak

Health | Kamis, 23 Juli 2026 | 14:20 WIB

Analis Sebut Prabowo Alami Miopi Politik: Hanya Tahu yang Baik-baik Saja

Analis Sebut Prabowo Alami Miopi Politik: Hanya Tahu yang Baik-baik Saja

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 17:14 WIB

Terkini

Perempuan Jatuh Cinta Setelah Usia 35, Mengapa Dianggap Terlambat?

Perempuan Jatuh Cinta Setelah Usia 35, Mengapa Dianggap Terlambat?

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 17:13 WIB

DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran

DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran

Jogja | Rabu, 30 September 2026 | 17:10 WIB

Gelombang Mobil Listrik China Paksa Suzuki Pangkas Durasi Pengembangan Kendaraan

Gelombang Mobil Listrik China Paksa Suzuki Pangkas Durasi Pengembangan Kendaraan

Otomotif | Rabu, 30 September 2026 | 17:10 WIB

7 Rekomendasi Pantai Gunungkidul yang Lagi Viral, Surga Tersembunyi di Selatan Jawa

7 Rekomendasi Pantai Gunungkidul yang Lagi Viral, Surga Tersembunyi di Selatan Jawa

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 17:10 WIB

Heboh Dugaan Pungli Rp250 Juta di Rutan Pondok Bambu, Ketua KPK Buka Suara

Heboh Dugaan Pungli Rp250 Juta di Rutan Pondok Bambu, Ketua KPK Buka Suara

News | Rabu, 30 September 2026 | 17:09 WIB

Tak Ditemukan Alkohol dan Sianida dalam Jasad serta Tanah Makam Sutrimo

Tak Ditemukan Alkohol dan Sianida dalam Jasad serta Tanah Makam Sutrimo

News | Rabu, 30 September 2026 | 17:03 WIB

5 Penyebab Kulkas Tidak Dingin dan Cara Mengatasinya, Jangan Langsung Panggil Teknisi!

5 Penyebab Kulkas Tidak Dingin dan Cara Mengatasinya, Jangan Langsung Panggil Teknisi!

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 17:03 WIB

Centang Biru Mati dan Slow Reply: Menjaga Batasan atau Ruang Manipulasi Chat?

Centang Biru Mati dan Slow Reply: Menjaga Batasan atau Ruang Manipulasi Chat?

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

Dear Kemenlu! Ada Nota Diplomatik dari Malaysia, Tolong Dibalas: Mau Dibantu Gak Atasi Karhutla?

Dear Kemenlu! Ada Nota Diplomatik dari Malaysia, Tolong Dibalas: Mau Dibantu Gak Atasi Karhutla?

News | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

Jokowi Disebut Mulai Beri Sinyal Pisah dengan Prabowo, Benarkah?

Jokowi Disebut Mulai Beri Sinyal Pisah dengan Prabowo, Benarkah?

Video | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

×