- Menkomdigi Meutya Hafid menyatakan Indonesia tetap memerlukan tambahan kapasitas komputasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.
- Pemerintah mengingatkan pembangunan pusat data tidak boleh mengorbankan pasokan energi serta air bersih yang dibutuhkan masyarakat umum dan pelayanan publik.
- Kawasan Jatiluhur menjadi perhatian khusus karena rencana operasional fasilitas kecerdasan buatan di sana membutuhkan pasokan air yang sangat besar.
Menurut Meutya, pemerintah harus mencari titik keseimbangan antara kebutuhan memperbesar kapasitas digital dan menjaga sumber daya yang dibutuhkan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi digital dan industri kreatif tetap perlu didorong. Tetapi, kebutuhan tersebut tidak boleh membuat pasokan air maupun energi untuk masyarakat dan pelayanan publik ikut tertekan.
Indonesia Masih Butuh Kapasitas Komputasi
Kekhawatiran terhadap konsumsi air dan energi bukan berarti Indonesia tidak membutuhkan pembangunan data center.
Meutya menilai kebutuhan Indonesia berbeda dengan negara yang sudah memiliki kapasitas komputasi sangat besar seperti Amerika Serikat. Indonesia masih berada dalam fase pertumbuhan ekonomi digital sehingga tambahan kapasitas komputasi tetap dibutuhkan.
“Karena kita memang masih membutuhkan computing capacity, karena ekonomi digital dan ekonomi kreatif kita tumbuh sangat cepat,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah tidak ingin mengambil pilihan ekstrem dengan menghentikan pembangunan. Yang perlu dilakukan adalah memastikan pertumbuhan infrastruktur AI tetap sejalan dengan kondisi wilayah.
Lokasi menjadi salah satu kuncinya. Data center membutuhkan konektivitas dan energi yang kuat, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mengganggu kebutuhan air, energi, maupun kepentingan publik di sekitarnya.
Jatiluhur Jadi Contoh Persoalan Air
Kekhawatiran mengenai penggunaan air dalam pembangunan data center juga terlihat dari rencana pembangunan fasilitas AI di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Proyek tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan air untuk operasional data center diperkirakan cukup besar. Berdasarkan kajian yang dibahas pemerintah daerah, kebutuhan air saat fasilitas beroperasi penuh dapat mencapai sekitar 384 liter per detik.

Angka tersebut memunculkan perhatian karena kawasan Jatiluhur juga berkaitan dengan kebutuhan air masyarakat dan pertanian.
Pemerintah daerah pun melakukan pembahasan mengenai ketersediaan air dan teknologi yang akan digunakan agar operasional data center tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.
Persoalan Jatiluhur menunjukkan bahwa pembangunan data center kini tidak bisa hanya dilihat sebagai proyek teknologi. Ketika skalanya semakin besar, kebutuhan terhadap air dan energi ikut menjadi bagian penting yang harus dihitung sejak awal.
Bagi pemerintah, pertumbuhan AI dan ekonomi digital tetap perlu dikejar. Namun, pembangunan data center harus ditempatkan pada lokasi yang tepat dan menggunakan sumber daya yang tidak mengganggu kebutuhan masyarakat.