Hutan Dibabat Demi Biomassa: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan dari Krisis Iklim?

Agung Pratnyawan

Jum'at, 06 November 2026 | 11:52 WIB
Hutan Dibabat Demi Biomassa: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan dari Krisis Iklim?
Ilustrasi Kebakaran Hutan (Pexels/K)
baca 10 detik
  • Dampak Energi Biomassa berisiko memicu kerusakan ekosistem dan keanekaragaman hutan.
  • Dampak Energi Biomassa mengancam keberlangsungan hutan alam serta masyarakat setempat.
  • Dampak Energi Biomassa membutuhkan koreksi kebijakan demi pencegahan krisis iklim.

Suara.com - Dunia hari ini tengah menghadapi kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan bencana nyata yang terjadi di mana-mana.

Mulai dari gelombang panas ekstrem hingga banjir bandang yang datang tiba-tiba. Bumi kita jelas sedang tidak baik-baik saja.

Namun, di tengah kepanikan global ini, cara dunia mengatasi krisis iklim justru sering kali memicu ironi baru. Banyak negara terobsesi mengejar target angka net zero emission (nol emisi karbon) lewat cara-cara instan.

Celakanya, alih-alih menyembuhkan bumi secara tuntas, berbagai kebijakan ambisius tersebut justru menjadikan hutan alam sebagai korban utama.

Membakar Hutan Atas Nama “Energi Terbarukan”

Dikutip dari Forests News, dalam penelitian yang berjudul "Forests, climate change, and biodiversity: Win-win-win" karya Ewa Hermanowicz, ditekankan bahwa hutan yang sehat, beragam, dan dibiarkan hidup secara alami jauh lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

Selain itu, hutan jenis ini paling andal dalam menyerap karbon dioksida di udara.

Sayangnya, praktiknya di lapangan sering melenceng jauh. Demi mengejar target transisi energi terbarukan, banyak pihak yang membakar biomassa kayu untuk pembangkit listrik atau pemanas, lalu melabelinya sebagai "energi terbarukan".

Padahal, jika dinalar secara sederhana, membakar kayu sama saja melepaskan gas karbon dioksida kembali ke udara. Artinya, solusi ini sama sekali tidak mengurangi polusi, melainkan menciptakan masalah baru.

baca juga

Belum lagi, demi memenuhi pasokan kayu yang cepat tumbuh, lahan-lahan hutan disulap menjadi perkebunan monokultur (satu jenis pohon saja).

Padahal, IPCC sudah mewanti-wanti cara paling ampuh menekan emisi gas rumah kaca justru dengan menghentikan perusakan hutan dan merestorasi hutan yang sudah rusak, bukan malah menanam pohon sejenis secara besar-besaran demi kepentingan industri.

Hutan Monokultur yang Rentan Rusak

Selama ini, sektor kehutanan terlalu bernafsu mengejar profit cepat dari budidaya satu jenis pohon. Hal tersebut mengorbankan hutan alam yang lebat dan kaya hayati, menggantinya dengan deretan tanaman industri yang serba seragam.

Masalahnya, hutan monokultur ini sangat rapuh. Dari segi ketahanan cuaca, hutan alam asli yang kaya hayati yang lebih tahan dan resisten serta tahan terhadap guncangan cuaca ekstrem, sedangkan perkebunan monokultur industri jauh lebih rapuh dan mudah mati karena serangan hama, kekeringan, atau kebakaran.

Selain itu, dalam hal kemampuan menyerap dan menahan karbon, hutan alam mampu menyimpan karbon dalam jangka panjang di dalam tanah dan vegetasinya yang padat.

Sebaliknya, cadangan karbon pada perkebunan monokultur bersifat sementara dan mudah lepas begitu pohonnya ditebang atau dibakar.

Dampak terhadap lingkungan sekitar pun sangat kontras. Hutan alam berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem dan ruang hidup warga sekitar, sementara ekspansi perkebunan monokultur sering kali berisiko merusak kualitas tanah dan memicu konflik lahan dengan masyarakat lokal.

Jangan Sampai Solusi Iklim Malah Bikin Masalah Baru

Ambisi ini terkadang kebablasan di lapangan. Ada kalanya kawasan hutan asli justru dibabat habis hanya karena ingin dialihfungsikan dan dipasang dengan “sumber energi terbarukan”.

Padahal, fasilitas energi terbarukan itu bisa dibangun di lahan-lahan kosong bekas pertanian yang sudah terbengkalai, tanpa harus merusak ekosistem hutan yang masih asri.

Di sisi lain, jika memang harus ditebang demi pemanfaatan berkelanjutan, kayu sebaiknya dialihfungsikan sebagai material konstruksi pengganti semen atau baja (mass timber).

Lewat metode ini, struktur bangunan berfungsi sebagai tempat penyimpanan karbon jangka panjang, alih-alih berakhir sebagai abu dari pembakaran bahan bakar.

Saatnya Kembali ke Jalan yang Benar

Komitmen menyelamatkan bumi tidak boleh berhenti sebagai wacana. Agar penanganan krisis iklim berjalan tepat sasaran, ada beberapa perbaikan mendasar yang harus segera dilakukan:

  1. Lindungi Hutan Asli: Standar konservasi global dan harus ada sertifikasi yang mewajibkan sebagian besar kawasan hutan untuk benar-benar dilindungi demi menjaga kelestariannya.
  2. Koreksi Aturan Energi Biomassa: Hentikan subsidi untuk praktik pembakaran kayu yang selama ini salah kaprah dan merusak fungsi penyerapan karbon hutan.
  3. Libatkan Masyarakat Lokal: Transisi energi tidak boleh berjalan sendiri dengan mengabaikan hak-hak masyarakat di akar rumput yang selama ini paling peduli pada kelestarian alam.

Krisis iklim tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan cara-cara instan yang justru merusak alam itu sendiri. Menjaga alam berarti merawat kehidupannya secara utuh bukan sekadar mengejar angka-angka laporan di atas kertas.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Borok di Balik Net Zero Emission: Negara Dihijaukan, Rakyatnya Disingkirkan

Borok di Balik Net Zero Emission: Negara Dihijaukan, Rakyatnya Disingkirkan

Tekno | Kamis, 05 November 2026 | 11:53 WIB

Krisis Iklim Ancam Kesehatan Dunia, WHO Didesak Tetapkan Status Darurat

Krisis Iklim Ancam Kesehatan Dunia, WHO Didesak Tetapkan Status Darurat

Health | Selasa, 03 November 2026 | 19:01 WIB

Penyusutan Gletser Picu Ancaman Krisis Air di Masa Depan: Siapa Paling Terdampak?

Penyusutan Gletser Picu Ancaman Krisis Air di Masa Depan: Siapa Paling Terdampak?

News | Selasa, 03 November 2026 | 12:24 WIB

Terkini

Garena Tomb Busters Buka CBT November 2026, Ada La Llorona sampai Pocong

Garena Tomb Busters Buka CBT November 2026, Ada La Llorona sampai Pocong

Sumut | Jum'at, 06 November 2026 | 11:47 WIB

Persib Bandung Ukir Prestasi di Asia, Ferry Paulus Acungi Jempol

Persib Bandung Ukir Prestasi di Asia, Ferry Paulus Acungi Jempol

Bola | Jum'at, 06 November 2026 | 11:45 WIB

7 E-Reader Terbaik untuk Mencegah Mata Lelah, Andalan Pencinta Buku

7 E-Reader Terbaik untuk Mencegah Mata Lelah, Andalan Pencinta Buku

Tekno | Jum'at, 06 November 2026 | 11:43 WIB

Jadi Polemik di Sidang Ijazah Palsu Jokowi, Sejak Kapan Sebenarnya Font Times New Roman Ada?

Jadi Polemik di Sidang Ijazah Palsu Jokowi, Sejak Kapan Sebenarnya Font Times New Roman Ada?

Lifestyle | Jum'at, 06 November 2026 | 11:40 WIB

Mako Brimob dan Jejak Jenderal yang Ditahan: Dulu Ferdy Sambo, Kini Listyo Sigit

Mako Brimob dan Jejak Jenderal yang Ditahan: Dulu Ferdy Sambo, Kini Listyo Sigit

News | Jum'at, 06 November 2026 | 11:37 WIB

Wacana Pemakzulan Gibran Menguat, Tapi Elite Parpol Masih Main di Balik Layar

Wacana Pemakzulan Gibran Menguat, Tapi Elite Parpol Masih Main di Balik Layar

News | Jum'at, 06 November 2026 | 11:36 WIB

Cara Cek NIK Termasuk Penerima PKH atau Bukan, Bisa Dilakukan Lewat HP!

Cara Cek NIK Termasuk Penerima PKH atau Bukan, Bisa Dilakukan Lewat HP!

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 11:35 WIB

Presiden Mundur di Tengah Krisis Perbankan Paraguay, Ini Profil Santiago Pena

Presiden Mundur di Tengah Krisis Perbankan Paraguay, Ini Profil Santiago Pena

News | Jum'at, 06 November 2026 | 11:34 WIB

Rangkuman Lengkap Penyadapan Presiden Prabowo: Penangkapan Jenderal hingga Tersangka Baru

Rangkuman Lengkap Penyadapan Presiden Prabowo: Penangkapan Jenderal hingga Tersangka Baru

News | Jum'at, 06 November 2026 | 11:32 WIB

BPS Ungkap Tingkat Pengangguran RI Didominasi Kalangan Perempuan

BPS Ungkap Tingkat Pengangguran RI Didominasi Kalangan Perempuan

Bisnis | Jum'at, 06 November 2026 | 11:32 WIB

×