Jenengku Sri Dewi, Aku Miss Supranational Suriname

Reza Gunadha, Risna Halidi

Selasa, 12 Maret 2019 | 08:05 WIB
Jenengku Sri Dewi, Aku Miss Supranational Suriname
Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat ditemui Suara.com pada Minggu (10/3/2019). (Suara.com/Dendi Afriyan)

Suara.com - Indonesia dan Suriname dipisahkan oleh dua benua, Asia dan Amerika. Namun, kedua negara masih tersangkut-paut karena sejarah Jawa.

Berdasarkan sensus penduduk Suriname tahun 2004 misalnya, warga yang berdarah Jawa di sana terbilang banyak, yakni mencapai 14,6 persen dari total 534 ribu jiwa.

Identitas "Ke-Jawa-an" Suriname juga lekat pada nama-namanya. Seperti Sri-Dewi Martomamat, Miss Supranational Suriname 2019 yang pekan lalu berkunjung ke Indonesia dalam perhelatan kontes kecantikan Puteri Indonesia.

Jeng Sri adalah gadis berusia 22 tahun yang lahir di Paramaribo, Ibu Kota Republik Suriname.

Nama ibu dan ayah Sri-Dewi juga kental bernuansa Jawa: Alice Ronodiryo dan Sanimin Martomamat.

"Jenengku Sri Dewi," tuturnya kepada Suara.com dalam sesi wawancara eksklusif di hotel, Jakarta, Minggu (10/3) akhir pekan lalu.

Ia meraih gelar sebagai Miss Tropical Beauties Suriname 2018, dan akan memperebutkan gelar Miss Supranational 2019 di Polandia nanti.

Semasa kecil, Sri masih mengingat dirinya mempelajari seni dan kebudayaan Jawa seperti Tari Srimpi—tari klasik khas Keraton Kesultanan  Mataram.

Sri mampu memikat penonton Suriname dengan Tari Srimpi yang dipamerkannya di atas panggung saat malam final penganugerahaan Miss Tropical Beauties Suriname 2018, Jumat 8 Maret 2019.

baca juga

"Saat kecil dulu, saya ingin belajar tarian Srimpi. Jadi saya bilang kepada ibu saya: 'Ibu, saya ingin belajar tarian Srimpi. Itu pula yang membuat saat malam final, saya juga melakukan tarian Srimpi," ungkap Sri, bangga.

Tak hanya melestarikan tari Jawa, Sri menuturkan masyarakat keturunan Jawa di Suriname juga masih sering memasak makanan tradisional seperti soto, gulai sampai pecel.

"Nenek saya juga masih membuat makanan-makanan manis khas Jawa seperti ireng-ireng dan lapis. Saya suka makan makanan itu, bahkan saya makan langsung memakai tangan," ceritanya diselingi tawa.

Lantas, bagaimana orang-orang keturunan Jawa di Suriname kekinian? Bagaimana pula sikap kaum milenial Suriname mengenai pertauran sejarah mereka dengan Indonesia?

Simak wawancara khusus Risna Halidi, Jurnalis Suara.com, dengan Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat

Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat menghadiri Malam Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (8/3/2019). (Suara.com/Risna Halidi)
Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat menghadiri Malam Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (8/3/2019). (Suara.com/Risna Halidi)

Apa Anda tahu arti nama Anda sendiri, Sri-Dewi?

Ibu saya bercerita bagaimana ia mendapatkan nama Sri-Dewi. Dia selalu menyukai nama-nama Indonesia. Dia menemukan nama Sri dan juga Dewi. Jadi dia menyatukan keduanya dan jadilah Sri-Dewi. Nama itu aku tahu artinya: Dewi Padi.

Menjadi seorang Miss Tropical Beauties Suriname, apakah ini hal yang Anda inginkan?

Ya. Ini sesuatu di luar kemampuan saya. Saya ingin mencobanya. Ini adalah keputusan yang sangat besar, tapi saya ingin keluar dari zona nyaman. Jadi saya bilang pada diri sendiri, "Oke Sri, ini adalah waktunya. Majulah" dan ini yang saya dapatkan.

Menyandang predikat itu, apa dampaknya bagi diri Anda dan orang di sekitar?

Di Suriname, Saya adalah orang keturunan Jawa pertama yang memenangkan gelar kontes kecantikan ini, Miss Tropical Beauties Suriname.

Sewaktu kontes, finalis tiga besar pesaing saya juga juga semuanya memiliki darah Jawa. Pemenang kedua setengah Jawa, dan pemenang ketiga keturunan Jawa tulen. Ini kali pertama terjadi.

Ini adalah sesuatu yang baik bagi para keturunan Jawa di Suriname. Orang –orang keturunan Jawa di Suriname menjadi tahu bahwa mereka bisa keluar dari zona nyaman, dan mencobanya juga.

Di Indonesia Anda dikenal sebagai Mbak Jowo. Tapi bisa jadi Anda lebih dari itu, apa yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat Indonesia tentang diri Anda?

Orangtua saya lahir di Suriname, tapi kakek buyut saya berasal dari Jawa. Itu juga kenapa banyak memanggil saya Mbak Jawa, karena wajah saya juga sama seperti orang Jawa pada umumnya. Ini adalah bagian dari diri saya. Saya tidak berpikir bahwa sebutan itu adalah hal yang buruk.

Karena saat saya datang ke sini, mereka semua sangat hangat, sangat sopan, sangat senang rasanya.

Bisa Anda ceritakan sejarah tentang orangtua Anda?

Nama ibu saya adalah Alice Ronodiryo. Dia datang dari keluarga sangat besar. Dia memiliki banyak saudara laki-laki maupun perempuan. Ayah saya juga datang dari keluarga besar, dia memiliki banyak saudara kandung.

Ibu saya memiliki kulit yang lebih cerah, tapi kulit ayah saya lebih gelap dari saya. Saat saya menunjukkan foto keluarga kepada orang lain, mereka seperti, "Oh mungkin kamu berdarah Jawa Tengah atau Jawa Barat, campuran".

Saya tidak tahu asal-usul keluarga, jadi saya tidak yakin. Jadi mungkin, suatu saat, saya akan mencoba mencari tahu, lalu kembali ke Indonesia dan mengeksplorasi Jawa.

Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat ditemui Suara.com pada Minggu (10/3/2019). (Suara.com/Dendi Afriyan)
Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat ditemui Suara.com pada Minggu (10/3/2019). (Suara.com/Dendi Afriyan)

Pernah bertanya kepada orangtua mengenai asal-usul?

Saya tidak pernah bertanya. Saat di rumah, Anda tidak memikirkan tentang ini semua. Anda tidak menganggapnya apa-apa, sampai akhirnya sekarang orang-orang di Indonesia bertanya, dan saya tidak tahu apa-apa. Tapi itu pertanyaan penting.

Apakah remaja keturunan Jawa di Suriname masih menjalankan tradisi dan budaya Jawa?

Tidak banyak, sejujurnya. Saya tahu beberapa anak-anak remaja keturunan Jawa yang menari Serimpi, Pencak Silat, Jaran Kepang (kuda lumping) tapi tidak banyak.

Bagaimana dengan orang-orang tua keturunan Jawa di sana?

Kami di sana masih membuat makanan Jawa yang manis-manis seperti lapis, gulai, soto, rujak, lotis. Dan ada juga ludruk, gamelan.

Kami masih memiliki hal-hal tersebut. Tapi hanya di kalangan anak muda, hal tersebut sedikit luntur. Tapi orang-orang tua masih tahu.

Nenek saya juga masih membuat makanan-makanan manis khas Jawa seperti ireng-ireng dan lapis. Saat akhir pekan, kadang-kadang, dia membuat gulai, soto, pecel.

Apakah Anda menyukainya?

Ya, saya menikmati makanan itu. Bahkan saya makan langsung memakai tangan.

Pernah ke Indonesia sebelumnya?

Tidak. Ini adalah kali pertama saya ke sini. Tapi tentu saya ingin kembali. Ada banyak tempat cantik yang bisa saya lihat di sini. Kalau bisa kembali, pertama saya ingin pergi ke Jawa Tengah atau Jawa Barat. Dan saya juga ingin ke Bali.

Ke Jawa lebih untuk mengulik sejarah, dan Bali untuk lebih menjelajah budaya, bangunan dan candi-candinya. Saya mendengar adanya Hinduisme di sana, jadi saya ingin melihat Indonesia yang bercampur dengan Hinduisme.

Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat ditemui Suara.com pada Minggu (10/3/2019). (Suara.com/Dendi Afriyan)
Miss Supranational Suriname 2019, Sri-Dewi Martomamat saat ditemui Suara.com pada Minggu (10/3/2019). (Suara.com/Dendi Afriyan)

Jadi Anda tidak tahu kalau Anda masih memiliki kerabat di sini?

Sejauh yang saya tahu, tidak.

Apakah sejarah kedatangan masyarakat Jawa diajarkan di sekolah-sekolah di Suriname?

Orang-orang Jawa datang ke Suriname Agustus 1891. Tapi di sana juga banyak orang Afrika, India dan kemudian orang-orang Jawa.

Jadi ya kami belajar sedikit tentang kedatangan orang-orang Jawa, dan sekarang menjadi satu bagian komunitas di sana.

Jadi budaya Jawa semakin memudar di sana?

Sedikit. Tapi di keluarga kami, belajar Jawa Ngoko. Jadi semua belajar hal itu di rumah. Kadang, kami diminta memilih apakah Anda mau atau tidak belajar hal itu.

Misalnya saya, saya ingin belajar tarian Serimpi. Jadi saya bilang kepada ibu saya, "Ibu, saya ingin belajar tarian Srimpi". Untuk malam final kontes, saya melakukan tarian Srimpi.

Apa yang Anda harapkan untuk generasi keturunan Jawa di Suriname dan Indonesia?

Saya harap dapat meningkatkan kepedulian satu sama lain. Berkat gelar saya sebagai Miss Tropical Beauties Suriname, saya bisa memulainya.

Seperti sekarang, saya berada di Indonesia, dan saya berinteraksi dengan masyarakat Indonesia.

Warga Indonesia melihat saya. Saat mereka berinteraksi dengan saya, mereka memilih kata-kata dari Bahasa Indonesia dan dicampur Boso Jowo.

Saya akan sampaikan di Suraname, bahwa untuk tahu, belajar, atau memakai bahasa Jawa itu tidak memalukan. Kita semua seharusnya bangga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kala Miss Supranational Suriname Boso Jowo: Jenengku Sri-Dewi Martomamat

Kala Miss Supranational Suriname Boso Jowo: Jenengku Sri-Dewi Martomamat

Lifestyle | Senin, 11 Maret 2019 | 08:42 WIB

Terkini

Cara Membuat Tabel Microsoft Word dengan Mudah, Cocok untuk Pemula

Cara Membuat Tabel Microsoft Word dengan Mudah, Cocok untuk Pemula

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:13 WIB

Heboh PPN Pembalut 11 Persen, 14 Negara Ini Malah Gratiskan Pembalut untuk Warganya!

Heboh PPN Pembalut 11 Persen, 14 Negara Ini Malah Gratiskan Pembalut untuk Warganya!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:13 WIB

Strategi Daihatsu Bidik Pembeli Mobil Pertama hingga Pelosok Daerah

Strategi Daihatsu Bidik Pembeli Mobil Pertama hingga Pelosok Daerah

Otomotif | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:10 WIB

MBG: Jangkau 57,8 Juta Penerima, Pembenahan Radikal Tata Kelola

MBG: Jangkau 57,8 Juta Penerima, Pembenahan Radikal Tata Kelola

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:10 WIB

Lama Terpinggirkan dari Timnas Indonesia, Rafael Struick Kirim Sinyal ke John Herdman

Lama Terpinggirkan dari Timnas Indonesia, Rafael Struick Kirim Sinyal ke John Herdman

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:09 WIB

Lampu Hijau dari Balai Kota: Ribuan SPD Terbit, Rapelan Gaji PJLP Mulai Dibayar

Lampu Hijau dari Balai Kota: Ribuan SPD Terbit, Rapelan Gaji PJLP Mulai Dibayar

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:08 WIB

Cuaca Panas dan El Nino Jadi Berkah bagi Industri Minuman

Cuaca Panas dan El Nino Jadi Berkah bagi Industri Minuman

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:06 WIB

Mahasiswa Trisakti Tuntut Evaluasi Total Satgas PKH yang Hobi Pamer Duit Sitaan, Ini Alasannya

Mahasiswa Trisakti Tuntut Evaluasi Total Satgas PKH yang Hobi Pamer Duit Sitaan, Ini Alasannya

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:03 WIB

Novel Uang Gawat Darurat: Ketika Niat Menabung Diserbu Kebutuhan Mendadak

Novel Uang Gawat Darurat: Ketika Niat Menabung Diserbu Kebutuhan Mendadak

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 11:00 WIB

Tes Kejujuran Polisi, Mahasiswa Selipkan Uang ke Barikade Aparat, Duit Rp 50 Ribu Disikat

Tes Kejujuran Polisi, Mahasiswa Selipkan Uang ke Barikade Aparat, Duit Rp 50 Ribu Disikat

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 10:59 WIB

×