Pembedahan Efektif Kurangi Kasus Kejang pada Penyandang Epilepsi

Ardi Mandiri, Firsta Nodia

Sabtu, 15 April 2017 | 16:16 WIB
Pembedahan Efektif Kurangi Kasus Kejang pada Penyandang Epilepsi
Ilustrasi epilepsi. (Shutterstock)

Suara.com - Mifta (17 tahun) tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya lepas dari gejala kejang dari penyakit epilepsi yang dideritanya sejak usia 11 tahun. Dulu, sebelum menjalani bedah epilepsi, setiap minggu Ia bisa merasakan kejang sekali hingga dua kali. Hal ini sangat mengganggu aktivitasnya sebagai pelajar.

"Sejak menjalani bedah epilepsi pada 8 Januari 2017 lalu, Alhamdulillah saya tidak merasakan kejang lagi. Padahal sebelumnya setiap seminggu 1-2 kali kambuh," ujar Miftah di sela-sela seminar awam 'Bedah Epilepsi' di RSU Bunda Jakarta, Sabtu (15/4/2017).

Menanggapi hal ini, Prof Zainal Muttaqin SpBS, PhD selaku pakar bedah epilepsi dari Epilepsi Center RSU Bunda mengatakan, jika dulu bedah menjadi jalan terakhir dari upaya penanganan epilepsi, maka kini semakin awal pembedahan dilakukan, hasilnya akan semakin baik.

"Bedah epilepsi bukan cara terakhir. Kalau semua upaya gagal lalu baru operasi itu bukan. Kita ingin kalau kita bisa temukan kasus layak untuk dilakukan tindakan epilepsi itu lebih baik," tambah dia.

Ada beberapa kriteria penyandang epilepsi yang sebaiknya menjalani pembedahan diantaranya penyandang epilepsi parsial yang sulit dikendalikan dengan pengobatan.

"Jika pasien sudah diobati dengan dua jenis atau lebih obat epilepsi selama 1-2 tahun namun kondisinya tidak membaik, dalam artian kejangnya sulit dikendalikan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan," ujarnya lagi.

Penanganan bedah epilepsi sendiri di Indonesia sebelumnya hanya mampu dilakukan oleh Prof Zainal di RSUP Dr Kariadi, Semarang. Kini Prof Zainal juga menjadi konsultan bedah saraf di Epilepsi Center RSU Bunda Jakarta.

Minimnya dokter spesialis bedah saraf yang mendalami bedah epilepsi ini, kata dia, disebabkan oleh tuntutan hasil yang sempurna dan tidak boleh meninggalkan dampak di otak paska operasi.

"Tantangan bedah epilepsi ini sangat tinggi, kalau hasilnya nggak baik maka yang disalahkan adalah tindakan operasinya. Secara kode etik angka kematian paska bedah plastik harus mendekati 0. Itu sebabnya masih belum banyak dokter bedah saraf yang berani melakukannya," ujar dia.

Setelah operasi, pasien akan dievaluasi selama kurun 1-2 tahun. Bagi pasien yang bebas kejang enam bulan hingga setahun paska operasi, pemberian obat anti epilepsi bisa dikurangi perlahan hingga akhirnya pasien bisa berhenti konsumsi obat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Awas, Epilepsi pada Anak Bisa Picu Keterbelakangan Mental

Awas, Epilepsi pada Anak Bisa Picu Keterbelakangan Mental

Health | Sabtu, 15 April 2017 | 14:46 WIB

Studi: Obesitas pada Ibu Hamil Berisiko Lahirkan Anak Epilepsi

Studi: Obesitas pada Ibu Hamil Berisiko Lahirkan Anak Epilepsi

Health | Rabu, 05 April 2017 | 14:45 WIB

Penderita Epilepsi Bisa Miliki Keturunan

Penderita Epilepsi Bisa Miliki Keturunan

Health | Minggu, 27 Maret 2016 | 10:10 WIB

Tak Semua Kejang Tanda Epilepsi

Tak Semua Kejang Tanda Epilepsi

Health | Rabu, 23 Maret 2016 | 17:13 WIB

Terkini

Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses

Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses

Health | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:36 WIB

Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat

Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat

Health | Rabu, 03 Juni 2026 | 22:17 WIB

World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu

World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu

Health | Rabu, 03 Juni 2026 | 21:34 WIB

2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit

2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit

Health | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:05 WIB

Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia

Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia

Health | Rabu, 03 Juni 2026 | 07:59 WIB

Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat

Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat

Health | Selasa, 02 Juni 2026 | 19:57 WIB

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup

Health | Senin, 01 Juni 2026 | 14:13 WIB

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Health | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:57 WIB

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB