Suara Bandung - Apa yang terjadi tentang penemuan "bangkai" bansos Presiden Joko Widodo sangat menggemparkan. Bansos berupa beras tersebut ditemukan terkubur, dan saat penggalian sudah mengeluarkan bau tak sedap.
Siapa yang bertanggung jawab atas penguburan bansos-bansos yang jelas tertera tulisan Bansos Presiden Jokowi. Hal tersebut sangat mengiris hati, dimana rakyat sedang susah, negara sampai harus utang besar untuk sekadar bisa membantu masyarakat yang kesulitan.
Berikut adalah sederet fakta yang terangkum dalam penemuan beras bansos Jokowi yang dikubur dalam jumlah banyak.
Ada pihak ekspedisi cepat yang juga diduga ikut terseret dalam kasus tersebut. Hal itu diketahui setelah penggali tanah mengaku merasa dibodohi oleh perusahan ekspedisi cepat tersebut.
1. Merasa dibodohi JNE
Nanang Firmansyah merasa dibodohi pihak JNE karena diminta menggali lahan di Tugu Jaya, Kelurahan Tirta Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok. Lokasi tersebut adalah TKP untuk mengubur paket bantuan sosial (bansos).
Saat menerima pekerjaan itu, Nanang mengatakan jika diminta menggali lubang itu semula untuk dijadikan septic tank.
Proses penggalian lubang yang memiliki lebar 2 meter dan kedalaman 1,5 meter itu dilakukan pada 2020 silam.
Nanang saat itu mengaku menggali lubang bersama rekannya yang bernama Rusdi. "Ya iya (merasa dibodohi), kan awalnya minta buat septic tank. Mungkin kalau dia (JNE) bilang untuk itu (disuruh kubur bansos) ya saya enggak mau," ucap Nanang saat dijumpai di lokasi, Senin (1/8/2022).
Baca Juga: 4 Hal yang Kamu Rasakan setelah Sukses Menyelesaikan Tanggung Jawab
2. Pemberi order terbongkar
Sebelum proses penggalian, Nanang mendapat order yang menurutnya dari JNE, melalui pria bernama Dadung.
"Pihak JNE menghubungi Dadung untuk mencari tenaga menggali septic tank. Saya dikasih orderan dari Pak Dadung untuk gali septic tank, ya sudah," kata Nanang.
"Intinya minta cari tenaga. Saya nggak siap tenaga, saya cari teman. Dia (Nanang) mau," kata Dadung menambahkan.
3. Gali manual
Kemudian, Nanang melakukan penggalian bersama rekannya yang bernama Rusdi. Mereka berdua melakukan penggalian secara manual menggunakan pacul, pengki, dan garpu selama dua hari.