Ketika menerima dan membaca pesan tersebut, Suharso Monoarfa mengaku tidak mengerti tentang "meninggalkan sesuatu".
Hingga akhirnya, Suharso Monoarfa bertemu dengan orang yang mengirimkan pesan tersebut.
"Oh enggak, ada sesuatu, oh nanti saja, maka sampailah setelah keliling itu ketemu lalu dibilang pada saya," kata Suharso Monoarfa mengisahkan.
"'Gini Pak Plt, kalau datang ke beliau-beliau (kiai) itu meski ada tanda mata yang ditinggalkan'," kata Suharso Monoarfa mengulang ucapan si pemberi saran.
"'Wah saya ndak bawa, tanda matanya apa? Sarung, peci, Alquran atau apa," kata dia mengatakan hal itu pada si pemberi pesan.
Setelah lama dipikir, Suharso Monoarfa baru menyadari yang dimaksud si pemberi pesan adalah meninggalkan amplop yang sudah lebih dahulu diisi uang.
Setelah itu, Suharso Monoarfa baru menyadari jika hal tersebut masih terjadi apabila bertemu dengan para tokoh agama.
"Kayak enggak ngerti saja Pak Harso ini, gitu Pak. I've provited one, every week. Dan bahkan sampai saat ini, kalau kami ketemu di sana, itu kalau salamannya, enggak ada amplopnya, pak, itu pulangnya, sesuatu yang hambar," kata Suharso.
Didesakan mundur
Baca Juga: NOAH Rayakan Momen 10 Tahun Berkarya dengan Gelar Konser Megah
Rupanya kejujuran Suharso Monoarfa soal "amplop kiai" ini menuai kecaman.
Kalangan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) langsung angkat suara dan meminta Suharso Monoarfa meminta maaf.
Desakan minta maaf juga datang dari Wakil Ketua Umum PPP yang juga Ketua MPR, Arsul Sani.
"Kami memohon maaf yang setulus-tulusnya kepada para kiai dan berjanji bahwa jajaran PPP lebih berhati-hati atau ikhtiyat dalam berucap dan bertindak ke depan agar tidak terulang lagi," ujar Arsul dalam keterangannya.
Namun, meski sudah meminta maaf, gelombangan desakan agar Suharso Monoarfa mundur dari posisi ketua umum terus terjadi.