Ironi 'Wakil Tuhan': Gaji Selangit Tapi Masih Rakus, Mengapa Hakim Terus Terjaring OTT?

Bangun Santoso, Faqih Fathurrahman

Senin, 09 Februari 2026 | 21:19 WIB
Ironi 'Wakil Tuhan': Gaji Selangit Tapi Masih Rakus, Mengapa Hakim Terus Terjaring OTT?
Ketua Pengadilan Negeri Depok I Wayan Eka Mariarta terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. (Dok. Suara.com)
baca 10 detik
  • KPK melakukan enam kali OTT sepanjang 2026, termasuk penangkapan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok pada 5 Februari 2026.
  • Kesejahteraan hakim yang meningkat tidak signifikan memperbaiki integritas; motif korupsi diduga kuat karena keserakahan gaya hidup.
  • Kewenangan absolut hakim tanpa pengawasan ketat serta ancaman imunitas dalam KUHAP baru memperparah celah korupsi peradilan.

Suara.com - Sepanjang tahun 2026, genderang perang terhadap korupsi di sektor peradilan terus ditabuh. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tercatat telah melancarkan sedikitnya enam kali Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menyasar berbagai level pejabat.

Fenomena ini memicu keresahan publik, mengingat target operasi bukan lagi sekadar birokrat biasa, melainkan mereka yang menyandang gelar sakral sebagai 'Wakil Tuhan' di meja hijau.

Kasus terbaru yang mengguncang publik terjadi pada Kamis (5/2/2026), di mana KPK menetapkan lima orang tersangka pasca-operasi senyap di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Depok.

Ironisnya, dari daftar tersangka tersebut, terselip nama Ketua dan Wakil Ketua PN Depok.

Penangkapan itu menambah daftar panjang corengan di wajah peradilan Indonesia, menyusul kasus tiga hakim yang sebelumnya terjaring Kejaksaan terkait vonis bebas Ronald Tannur.

Kesejahteraan Tinggi Tak Menjamin Integritas

Salah satu poin yang menjadi sorotan utama dalam rentetan kasus ini adalah tingkat kesejahteraan para hakim. Pemerintah sebelumnya telah melakukan upaya signifikan untuk meningkatkan upah dan tunjangan para hakim guna meminimalisir celah korupsi.

Namun, data di lapangan menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan tidak berbanding lurus dengan penguatan integritas.

Pakar hukum Universitas Tarumanegara, Hery Firmansyah, menyoroti bahwa secara ekonomi, para hakim sebenarnya sudah berada di posisi yang sangat mapan.

baca juga

"Tidak kesulitan memperoleh gaji tinggi, bahkan sudah di atas rata-rata," ujar Hery.

Hal ini menegaskan bahwa motif di balik tindakan koruptif para hakim tersebut bukan lagi didasari oleh kebutuhan ekonomi mendasar untuk bertahan hidup.

Sebaliknya, fenomena ini lebih mengarah pada sifat tamak dan gaya hidup yang tidak terkontrol. Hery menilai bahwa kesejahteraan yang diberikan negara sudah sangat kompetitif.

"Kesejahteraan mereka sudah lebih dari cukup dibanding aparat hukum lain," tegasnya.

Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi namun aksi suap tetap berjalan, maka faktor mentalitas dan keserakahan menjadi terdakwa utama.

Tekanan Gaya Hidup dan Lingkungan Sosial

Gaya hidup mewah di kota-kota besar seringkali menjadi jebakan bagi para penegak hukum. Lingkungan pergaulan sesama pejabat atau kolega di luar jam kantor disinyalir turut memengaruhi pola konsumsi dan kebutuhan finansial para hakim.

Hery mencontohkan bagaimana pertemuan di tempat-tempat eksklusif, seperti lapangan golf, dapat mengubah cara pandang seseorang terhadap uang.

Tekanan untuk tampil setara dengan rekan sejawat yang mungkin memiliki sumber penghasilan lain menjadi pemicu tindakan melanggar hukum.

Jika seorang hakim tidak memiliki benteng integritas yang kuat, godaan untuk mencari "pendapatan tambahan" secara instan melalui perkara menjadi sangat besar.

"Membuat mereka mencari cara melakukan tindak pidana korupsi," ungkap Hery saat menjelaskan dampak dari gaya hidup yang tidak ditopang penghasilan legal.

Celah Kewenangan dan Minimnya Pengawasan

Kronologi penangkapan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok yang terjaring OTT KPK. (Dok. Suara.com)
Kronologi penangkapan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok yang terjaring OTT KPK. (Dok. Suara.com)

Selain faktor internal individu, sistem pengawasan di lembaga peradilan juga dianggap masih memiliki banyak lubang. Hakim memiliki kewenangan yang sangat luas sebagai pemutus akhir dalam sebuah perkara.

Kewenangan absolut ini, jika tidak dibarengi dengan mekanisme kontrol yang ketat, akan menciptakan peluang bagi praktik transaksional.

Menurut Hery, posisi hakim sebagai penentu nasib sebuah perkara menjadikannya target empuk bagi pihak-pihak yang ingin membeli keadilan.

"Kewenangan tanpa pengawasan melekat menjadi titik celah korupsi," jelasnya.

Ruang-ruang gelap dalam proses pengambilan keputusan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh oknum hakim untuk menerima gratifikasi dari pihak yang berperkara.

Tanpa adanya pengawasan internal dan eksternal yang terintegrasi, proses peradilan hanya akan menjadi ajang tawar-menawar kepentingan.

Hery memperingatkan bahwa jika sistem ini dibiarkan tanpa evaluasi total, maka integritas peradilan akan terus merosot.

"Ruang gelap yang dapat dimanfaatkan oknum secara transaksional," tambahnya.

Ancaman 'Imunitas' dalam Regulasi Baru

Kekhawatiran publik semakin meningkat seiring dengan pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru.

Regulasi ini dinilai memberikan perlindungan berlebih atau imunitas bagi hakim yang diduga melakukan pelanggaran hukum.

Dalam aturan tersebut, proses penegakan hukum terhadap seorang hakim harus mendapatkan izin atau 'restu' dari Ketua Mahkamah Agung (MA).

Prosedur birokrasi ini dianggap dapat menghambat kecepatan gerak aparat penegak hukum seperti KPK dalam menindak dugaan korupsi di lingkungan peradilan.

"KUHAP baru memberikan ruang besar bagi ‘imunitas’ hakim," tandas Hery.

Hal ini dikhawatirkan akan membuat para oknum hakim merasa semakin "tak tersentuh" oleh hukum, meskipun mereka sendiri adalah bagian dari sistem tersebut.

Jika mekanisme pertanggungjawaban tidak diperketat, maka upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan hakim hanya akan menjadi pemborosan anggaran negara tanpa hasil nyata pada perbaikan moralitas peradilan.

Publik kini menanti langkah konkret dari Mahkamah Agung dan lembaga terkait untuk membersihkan institusi mereka dari praktik-praktik yang merusak marwah 'Wakil Tuhan' di Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Noel Cibir OTT Ketua PN Depok: Operasi Tipu-tipu, KPK Itu Bocil!

Noel Cibir OTT Ketua PN Depok: Operasi Tipu-tipu, KPK Itu Bocil!

News | Senin, 09 Februari 2026 | 14:28 WIB

MA Lepas Tangan, Hakim Korup PN Depok Tak akan Dibela, Bantuan Hukum Ditolak Mentah-mentah

MA Lepas Tangan, Hakim Korup PN Depok Tak akan Dibela, Bantuan Hukum Ditolak Mentah-mentah

News | Senin, 09 Februari 2026 | 14:08 WIB

Kecewanya Ketua MA Sunarto Pimpinan PN Depok Kena OTT KPK, Padahal Tunjangan Hakim Baru Naik

Kecewanya Ketua MA Sunarto Pimpinan PN Depok Kena OTT KPK, Padahal Tunjangan Hakim Baru Naik

News | Senin, 09 Februari 2026 | 13:42 WIB

Sempat Kabur, Otak Dugaan Suap Impor Barang KW di Bea Cukai Akhirnya Pakai Rompi Oranye KPK

Sempat Kabur, Otak Dugaan Suap Impor Barang KW di Bea Cukai Akhirnya Pakai Rompi Oranye KPK

News | Minggu, 08 Februari 2026 | 12:55 WIB

KPK Hattrick Gelar OTT, Yudi Purnomo: Bukti Gaji Besar Tak Cukup Bendung Kerakusan Koruptor

KPK Hattrick Gelar OTT, Yudi Purnomo: Bukti Gaji Besar Tak Cukup Bendung Kerakusan Koruptor

News | Minggu, 08 Februari 2026 | 09:11 WIB

Sengketa Lahan di Depok, Ini Penampakan Uang Rp 850 Juta di dalam Ransel Hitam

Sengketa Lahan di Depok, Ini Penampakan Uang Rp 850 Juta di dalam Ransel Hitam

Video | Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:15 WIB

KPK Sampai Kejar-kejaran, Terungkap Nego Suap Sengketa Lahan di PN Depok dari Rp1 M Jadi Rp850 Juta

KPK Sampai Kejar-kejaran, Terungkap Nego Suap Sengketa Lahan di PN Depok dari Rp1 M Jadi Rp850 Juta

News | Sabtu, 07 Februari 2026 | 07:10 WIB

Terkini

Dilema Memburu Pemangsa: Eksekusi Jurnalisme Investigasi yang Tergilas Bumbu Supranatural

Dilema Memburu Pemangsa: Eksekusi Jurnalisme Investigasi yang Tergilas Bumbu Supranatural

Your Say | Jum'at, 25 September 2026 | 06:15 WIB

Bulu Tangkis Sumbang Emas Perdana Indonesia di Asian Games 2026

Bulu Tangkis Sumbang Emas Perdana Indonesia di Asian Games 2026

Foto | Jum'at, 25 September 2026 | 06:00 WIB

Petani Rumput Laut Takalar Naik Kelas! Catat Usaha Lewat HP, Akses Modal Makin Gampang

Petani Rumput Laut Takalar Naik Kelas! Catat Usaha Lewat HP, Akses Modal Makin Gampang

Sulsel | Jum'at, 25 September 2026 | 05:41 WIB

Program 1 Polis 1 Mangrove Generali Tembus 20.000 Pohon

Program 1 Polis 1 Mangrove Generali Tembus 20.000 Pohon

Foto | Jum'at, 25 September 2026 | 05:00 WIB

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 23:37 WIB

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 23:31 WIB

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 23:11 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

×