Eko terkesiap. Dia tahu, suara menggelegar itu berasal dari senapan gas air mata yang biasa digunakan polisi kalau antarsuporter terlibat bentrok.
Tapi ia bimbang, karena hanya Aremania yang menonton di dalam stadion. Tak ada suporter Persebaya.
Eko sebenarnya sudah membeli tiket untuk menonton di dalam.
Tapi malam itu, ia memutuskan tidak melihat langsung di tribun, melainkan minum kopi di warung dekat gerbang nomor 10 stadion.
Rasa penasarannya bertambah, ketika dari pintu dekat warung kopi terdengar suara jeritan orang-orang meminta pertolongan.
Eko bergegas mendekat ke pintu tribun 10. Sosok pertama yang tertangkap matanya adalah seorang perempuan lemas.
Di tengah-tengah jeritan minta tolong, perempuan yang lemas itu jatuh pingsan.
“Mas… mas, tolong mas, kami tidak bisa keluar,” teriak seseorang dari dalam gerbang.
“Ada gas air mata,” teriak yang lain.
Baca Juga: Punggawa Persib U-16 Sukses Sumbangkan Gol untuk Kemenangan Telak Timnas U-17 Lawan Guam
Sejumlah Aremania bergegas menolong orang-orang yang terjebak tak bisa keluar dari pintu nomor sepuluh.
Lega karena sudah ada yang memberi bantuan, Eko mengajak teman-temannya yang lain memeriksa kondisi pintu lainnya.
Setibanya di pintu 13, Eko dihadapkan dengan pemandangan mengerikan.
Perempuan, lelaki, bahkan anak-anak yang kesemuanya Aremania berdesak-desakan terperangkap.
Pintu keluar terkunci rapat-rapat.
Dari arah lapangan, masih terdengar suara tembakan gas air mata yang ditujukan ke arah mereka.