SuaraBandungBarat.id - Berikut ini merupakan profil lengkap dari seorang Aktivis Widji Thukul.
Widji Widodo atau yang lebih dikenal dengan Widji Thukul merupakan seorang sastrawan dan aktivis hak asasi manusia berkebangsaan Indonesia yang lahir pada 25 Maret 1963 di Surakarta. Tukul merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui adanya dimana, dan dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer.
Widji Thukul merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia lahir dari keluarga Katolik dengan keadaan ekonomi sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai penarik becak, sementara ibunya terkadang menjual ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.
Thukul kecil sudah terbiasa menulis, ia mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel. Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Mbak Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh.
Pasangan Thukul - Sipon dikaruniai anak pertama yang diberi nama Fitri Nganthi Wani, kemudian Fajar Merah yang merupakan anak kedua lahir pada tanggal 22 Desember 1993.
Pada kerusuhan Mei 1998 telah menyeret beberapa nama aktivis kedalam daftar pencarian aparat Kopassus Mawar. Diantara para aktivis itu adalah aktivis Partai Rakyat Demokratik, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan, JAKKER, pengusaha, mahasiswa, dan pelajar yang mengilang terhitung sejak bulan April hingga Mei 1998.
Sejak bulan Juli 1996, Thukul sudah berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk bersembunyi dari kejaran aparat. Dalam pelariannya dari kejaran aparat itu Thukul tetap menulis puisi-puisi pro-demokrasi yang salah satu di antaranya berjudul Para Jendral Marah-Marah.
Pada tahun 2000, Sipon melaporkan hilangnya Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), namun Thukul belum ditemukan hingga kini.
Sesudah peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Thukul. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Thukul masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000.
Sumber : Tirto
(*)