Kalimantan Timur terkenal dengan banyaknya keanekaragaman suku bangsa, salah satu sukunya adalah Suku Dayak.
Suku Dayak memiliki banyak senjata tradisional yang terkenal dan bersejarah, seperti contohnya adalah mandau.
Masyarakat Dayak di daerah Barito, Kalimantan Timur secara khusus menyebut mandau sebagai ambang birang bitang pono ayun kajau.
Dalam kehidupan sehari-hari, pemilik mandau tidak pernah melepas dan selalu membawanya kemanapun ia pergi.
Hal itu lantaran mandau ini selain digunakan untuk berperang tetapi juga berfungsi sebagai simbol kehormatan dan jati diri seseorang.
Asal Usul Mandau
Menurut cerita zaman dahulu, Mandau berasal dari asal kata "MAn-Da-U" yang merupakan nama seseorang.
Mandau yang datang ke Pulau Kalimantan berasal dari suku kuno china "Namman" atau Barbar Selatan.
Mandau kemudian menjadi seseorang yang pertama membuat bentuk senjata pedang yang menyerupai bentuk bilah pedang atau parang mandau.
Baca Juga: CEK FAKTA: Ibu Ida Dayak Roadshow Pengobatan, Di Yogya Dimulai 15-22 Mei
Mandau sendiri datang ke Kalimantan bersama para tawanan perang Bangsa Barbar Selatan, ada laki-laki dan perempuan kemudian mereka dipekerjakan menjadi budak dan mengabdi kepada Mandau.
Mandau sebenarnya datang ke Kalimantan untuk mencari hasil alam lalu berkeliling ke sungai-sungai dan membentuk kelompok-kelompok dari tempat satu dan tempat lainnya.
Tubuh-tubuh mereka ditandai dengan ukiran-ukiran tato agar mereka mengenal setiap kelompok klan yang mereka temui.
Sejarah Mandau
Di zaman dahulu, mandau dianggap memiliki unsur magis, harus dirawat dan disimpan dengan baik, karena memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya.
Dalam sejarahnya, saat ada peperangan, Suku Dayak umumnya akan menggunakan mandau yang dianggap menjadi benda keramat untuk menjadi senjata mereka.
Mandau digunakan untuk ritual tertentu, seperti pengayauan (pemburuan kepala) dan pelengkap upacara seperti tarian adat.
Tetapi masyarakat Suku Dayak juga menggunakan Mandau untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti memotong tumbuh-tumbuhan, daging, dan benda-benda lain.
Saat zaman penjajahan, Suku Dayak dan mandaunya juga terkenal sebagai ahli perang. Sebab, mereka berani melawan para penjajah yang masuk ke Pulau Kalimantan.