Ritual Beluluh menjadi salah satu upacara adat yang masih sering dilakukan di Kalimantan Timur (Kaltim).
Beluluh atau Beluluh Sultan merupakan bagian dari ritual pada upacara adat Erau.
Beluluh berasal dari kata "buluh" yang berarti batang bambu dan "luluh" yang berarti musnah.
Dikutip dari laman Kutai Kartanegara, Beluluh biasanya dilakukan menjelang pembukaan Erau dengan tujuan untuk menyucikan Sultan Kutai.
Penyucian Sultan ini dilakukan untuk menghindari berbagai unsur kejahatan, baik yang terlihat maupun yang gaib.
Dalam pelaksanaannya, Sultan akan didudukkan di sebuah balai dan menjalani sejumlah prosesi.
Adapun prosesi Beluluh diawali dengan mendudukan Sultan Kutai sejenak di atas tilam kasturi.
Lalu Sultan akan menaiki balai bambu dengan berpijak pada pusaka batu tijakan.
Sultan kemudian duduk di atas singgasana dari balai bambu di bawah ikatan daun beringin (rendu).
Baca Juga: Cinta Laura Tersenyum Meski Dicuekin Agnez Mo, Netizen Beri Apresiasi
Saat itu, Sultan akan dipayungi selembar kain kuning yang disebut kirab tuhing yang dipegang oleh 4 orang pemuda.
Tuhing dalam bahasa Kutai bermakna pantangan. Sementara balai bambu tersebut diletakkan di atas lukisan sakral tambak karang.
Kaki balai bambu tersebut dihiasi dengan daun kelapa dan diletakkan peduduk atau sesajian.
Setelahnya dilakukan prosesi tepong tawar yang dipimpin oleh pemimpin ritual yang membacakan mantera dan memercikkan air bunga ke sekeliling Sultan.
Lalu pemimpin itu akan menyerahkan mangkuk berisi air bunga kepada Sultan dan Sultan mencelupkan tangan dalam mangkuk air bunga tersebut dan mengusapkan air bunga pada bagian wajah.
Berikutnya pemimpin ritual yang disebut dewa akan menaburkan beras kuning ke arah Sultan.