Perang antara Israel dan Palestina jadi topik hangat di Indonesia. Tak sedikit orang Indonesia menjadi pro Israel maupun Palestina dan berkomentar di media sosial.
Seperti halnya aktor Fedi Nuril yang menceritakan kisahnya terkait kondisi di Palestina.
Ia pun membagikan cerita soal pengalaman berkunjung ke Palestina pada 2014.
Fedi Nuril mengaku sempat ditahan oleh tentara Israel saat salah Zuhur di masjid Al-Aqsa.
"Tahun 2014, gue ke Palestina untuk syuting sebuah program Ramadan. Sewaktu gue dan salah satu kru masuk Masjidil Aqsha untuk salat zuhur dan ambil gambar," cerita Fedi Nuril dalam unggahan di Instagram yang dikutip pada Jumat (13/10).
Ia mengaku ditahan di gerbang masuk oleh tentara Israel karena membawa tripod dan wireless mic.
"Gue ditahan di gerbang masuk oleh tentara Israel karena bawa tripod dan wireless mic. Anehnya, walaupun tentara itu bersenjata lengkap, gue nggak merasa takut," sambungnya.
Menurut Fedi Nuril, apa yang terjadi di Palestina adalah bentuk agresi militer dan perebutan wilayah secara paksa.
Ia pun mengaku bahwa agama hanya menjadi tameng bagi Israel dan negara sekutunya untuk mendapatkan wilayah Palestina.
Baca Juga: Kecup BCL di Backstage, Ariel Noah Sebut Hanya Begini
"Apa yang terjadi di Palestina bukan perang, tapi perebutan paksa. Tentara Israel didukung teknologi militer dari US dan negara maju lain, sedangkan rakyat Palestina bertahan dengan persenjataan seadanya," kata Fedi Nuril.
"Ideologi agama digunakan sebagai pembenaran atas pendudukan Israel di Palestina. Sedangkan faktanya, 20% dari jumlah penduduk Palestina beragama Katolik dan Protestan, dan mereka pun menjadi korban penyerangan tentara Israel," sambungnya.
Fedi Nuril menilai bahwa Israel seolah tak pernah mengindahkan kecaman dari dunia atas penjajahan terhadap Palestina.
Ia pun sedih karena banyak sekali pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Palestina, tapi seolah dibiarkan oleh dunia.
"Seolah buta dan tuli dari kecaman PBB dan masyarakat internasional, negara Israel terus merangsek dan memperluas wilayahnya. Sampai akhirnya, Amerika mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada tahun 2018 silam. Protes dari rakyat Arab-Palestina di Gaza dibalas dengan tembakan tentara Israel," kata Fedi Nuril.
"Gue sangat sedih melihat kejahatan pelanggaran HAM terhadap rakyat Arab-Palestina yang semakin menjadi-jadi. Rakyat Arab-Palestina tidak mendapatkan hak sipil untuk hidup di Palestina. Mereka harus menjadi penduduk Israel untuk mendapatkan akses rumah, pendidikan, dan kesehatan yang layak," sambungnya.