Rupiah Lesu, Pedagang Ponsel Sepi Pembeli

Rabu, 26 Agustus 2015 | 11:08 WIB
Rupiah Lesu, Pedagang Ponsel Sepi Pembeli
Gerai penukaran mata uang asing di Jakarta.[suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Para pedagang elektronik terpaksa harus menanggung kerugian akibat sepinya pembeli sebagai dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang tembus Rp14 ribu per dolar AS.

Berdasarkan pantauan suara.com di mal Roxy Mas, Jakarta Barat, yang menjadi pusat penjualan barang ekeltronik seperti telepon genggam, laptop dan komputer hari ini, Rabu (26/8/2015), terlihat sepi.

Rahma, salah seorang penjual telepon genggam yang terletak di lantai I Roxy Mas mengaku, sejak melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir, penjualan di tokonya sedikit-sedikit mulai menurun.  Bahkan dalam seminggu terakhir, pembeli ditokonya terus mengalami penurunan.

Dia mengatakan, penurunan pembeli mulai terjadi sejak nilai tukar rupiah di level 13 ribu.

“Kalau sebelum Lebaran sama rupiah melemah ini biasanya kita sehari itu bisa jual 15 sampai 20 handphone. Tapi dalam seminggu terakhir ini antara lima sampai 10 deh pembelinya,” kata Rahma.

Dia pun mengaku kebingungan melihat kondisi rupiah yang terus melemah. Rahma mengatakan, tokonya terpaksa harus mengurangi kuota impor ponsel lantaran tidak kuat lagi jika harus menanggung kerugian yang lebih besar.

“Kita ngurangin juga impornya. Enggak kuat mba, kalau ngambil banyak-banyak nanti enggak laku. Karena kan kita impor gini bayarnya mahal. Udah mahal, terus ngelempar-nya (menjual) susah,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rizal salah seorang penjual laptop toko yang tidak jauh dari Rahma.

Dia mengaku melemahnya nilai tukar rupiah membuat pendapatannya mengalami penurunan sekitar 20 hingga 25 persen pada dua bulan terakhir. Bahkan, modal untuk mengadaan barangnya juga semakin melejit akibat harga dari distributor mengalami kenaikan sejak Juli 2015.

“Waduh mba, saat ini yang namanya kecekek, kecekek deh. Pelemahan rupiah ini kerasa banget mba. Kita itu pemasukannya menurun sekitar 20 sampai 25 persen loh sejak dua bulan terakhir ini. makanya kita juga lagi mutar otak gimana biar nggak rugi. Moda kita juga makin tinggi, dari distributor kan juga naik,” kata Rizal.

Menurutnya, menaikkan harga pun tak mampu mengurangi kerugiannya. Hal tersebut lantaran sepinya peminat ditengah melemahnya nilai tukar rupiah saat ini.

“Ini kita sudah naikkan sekitar Rp50 ribuan lah per barang. Tetep aja sepi, wong enggak naik aja juga susah banget kita ngejualnya,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, pemerintah segera mencarikan solusi dan menerapkan solusi tersebut agar rupiah kembali menguat, sehingga para pedagang tidak terlalu banyak menanggung kerugian.

“Ini kan dolar menguat sudah tiga bulanan terakhir kan mba, itu rugi kita udah numpuk banget. Ya kita mohon sama pemerintah, gimana caranya biar rupiah balik lagi. Pusing mah, kerugian kita udah banyak. Kalau sampai dua bulan nggak turun-turun bisa pingsan saya tiap hari nggak kuat nanggung ruginya,” ungkap Rizal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI