Pergerakan Ekonomi 6 Negara Ini Terpengaruh Kebijakan AS

Iwan Supriyatna, Achmad Fauzi

Senin, 10 September 2018 | 07:08 WIB
Pergerakan Ekonomi 6 Negara Ini Terpengaruh Kebijakan AS
Globalisasi. [Shutterstock]

Suara.com - Ketidakpastian ekonomi global membuat negara-negara berkembang kena imbasnya. Imbasnya, mulai dari nilai tukar mata uang yang terus menurun dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut, tetapi rata-rata disebabkan oleh kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS), seperti perang dagang antara AS dan Cina, serta kenaikan suku bunga bank sentral AS Fed Fund Rate.

Analis riset mata uang FXTM Lukman Otunuga mengatakan, ketidakpastian masih ada di pasar keuangan karena kekhawatiran penularan dari aksi jual pasar yang brutal bakal menghilangkan kepercayaan investor.

"Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi dan ketidakpastian pasar secara keseluruhan menghantui daya tarik investor," kata Lukman seperti dilansir dari The Guardian.

Namun siapa-siapa saja negara yang paling kena terdampak dari ketidakpastian ekonomi global ini. Berikut ini adalah negara-negara yang paling terdampak.

1. Indonesia

Sebagai negara berkembang, Indonesia masuk dalam jajaran negara yang paling terdampak ekonomi global. Bagaimana tidak, Bank Indonesia terus menaikkan suku bunga acuannya untuk menopang laju rupiah terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah berada pada titik terendah dalam 20 tahun, didorong oleh meningkatnya utang dan jumlah investor yang bertaruh terhadap pasar negara berkembang.

Karena inflasi sejauh ini masih terkendali, bank sentral mungkin akan lebih memilih untuk memangkas suku bunga untuk merangsang ekonomi yang sedang berjuang, tetapi kekhawatiran atas mata uang memaksa untuk menaikkan suku bunga sebagai gantinya.

2. Argentina

Bank sentral Argentina menaikkan suku bunga menjadi 60 persen bulan lalu dalam upaya untuk menopang mata uangnya yang jatuh. Hal ini tidak kemudian menenangkan kepercayaan para investor, sehingga pemerintah meluncurkan langkah-langkah penghematan besar-besaran untuk mencoba memulihkan kepercayaan.

Krisis mata uang cenderung mendorong ekonomi ke dalam resesi yang lebih dalam. Argentina telah meminta IMF untuk mempercepat pembayaran 50 miliar dolar AS dalam pendanaan darurat untuk meningkatkan keuangannya.

3. Afrika Selatan

Afrika Selatan secara tak terduga jatuh ke dalam resesi pada kuartal kedua 2018. Mata uang rand pun ke level terendah dalam dua tahun terakhir.

Presiden Cyril Ramaphosa, yang menggantikan Jacob Zuma awal tahun mengatakan resesi adalah masalah transisi. Tercatat, jumlah pengangguran meningkat 27,2 persen, membawa risiko protes nasional atas keadaan ekonomi.

4. Turki

Krisis yang sedang berlangsung di negara ini kemungkinan akan mendorongnya ke dalam resesi yang lebih dalam karena inflasi terus meningkat. Lira telah jatuh ke level terendah.

Presiden Recep Tayyip Erdogan tetap menentang, menuduh kepentingan asing melancarkan perang ekonomi di negara itu.

Di AS, Donald Trump telah menampar tarif pada ekspor baja negara itu dalam perselisihan sengit atas penahanan Andrew Brunson, seorang pendeta AS yang dituduh oleh Turki sebagai mata-mata.

Dukungan darurat dari IMF telah diperdebatkan, dan Turki juga di bawah tekanan untuk menaikkan suku bunga, meskipun Erdogan mungkin menolak ini.

5. Cina

Tingginya tingkat utang perusahaan telah memicu kekhawatiran global tentang ekonomi Cina dan kemampuannya untuk mengurangi ketergantungan pada utang serta mempertahankan pertumbuhan.

Gambaran ini dipersulit oleh ancaman Trump untuk mengenakan tarif 200 miliar dolar AS pada produk-produk ekspor Cina.

Investor khawatir eskalasi perang dagang dapat memperlambat pertumbuhan global, karena Cina adalah pendorong utama ekonomi dunia.

Nilai tukar Yuan tertekan terhadap dolar AS tahun ini. Hal ini dapat meringankan dampak dari tarif pada eksportir Cina, yang barangnya akan menjadi lebih kompetitif.

6. India

Rupee, nilai tukar mata uang India berada pada titik terendah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran atas dampak proteksionisme dan suku bunga AS yang lebih tinggi. Inflasi tinggi telah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak di India.

India adalah ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan pertumbuhan 8,2 persen dalam tiga bulan hingga Juni. Akan tetapi defisit perdagangannya menguat pada Juli menjadi 18 miliar dolar AS karena impor bahan bakar yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dampak Perang Dagang, Apple Diminta Bangun Pabrik di AS

Dampak Perang Dagang, Apple Diminta Bangun Pabrik di AS

Bisnis | Senin, 10 September 2018 | 06:26 WIB

Perang Dagang AS - Cina Semakin Memanas

Perang Dagang AS - Cina Semakin Memanas

Bisnis | Senin, 10 September 2018 | 06:16 WIB

Presiden Iran: Minta Berunding, AS Kirim Pesan Setiap Hari

Presiden Iran: Minta Berunding, AS Kirim Pesan Setiap Hari

News | Sabtu, 08 September 2018 | 21:36 WIB

Terkini

Beras SPHP Tak Akan Langka, Pasar Bakal Diguyur 1 Juta Ton

Beras SPHP Tak Akan Langka, Pasar Bakal Diguyur 1 Juta Ton

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 18:40 WIB

Jangan Terjebak Harga Murah, Tengok Strategi Investasi Setelah Aturan Rp1

Jangan Terjebak Harga Murah, Tengok Strategi Investasi Setelah Aturan Rp1

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 18:31 WIB

7 Sabun Muka Ekstrak Mawar untuk Cerahkan dan Lembapkan Kulit Kusam

7 Sabun Muka Ekstrak Mawar untuk Cerahkan dan Lembapkan Kulit Kusam

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 18:30 WIB

Direktur Pegadaian Bagikan Pengalaman Karier Dalam "Alumni Calling" Indonesia Punya Kamu 2026

Direktur Pegadaian Bagikan Pengalaman Karier Dalam "Alumni Calling" Indonesia Punya Kamu 2026

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 18:28 WIB

KPAI Minta Kasus Dugaan Bullying Siswa SMP di Serpong Tak Berhenti di Mediasi

KPAI Minta Kasus Dugaan Bullying Siswa SMP di Serpong Tak Berhenti di Mediasi

News | Rabu, 30 September 2026 | 18:27 WIB

Siap Bantu Gus Kikin, Gus Ipul: Jadi Waketum PBNU Pun Tak Masalah!

Siap Bantu Gus Kikin, Gus Ipul: Jadi Waketum PBNU Pun Tak Masalah!

News | Rabu, 30 September 2026 | 18:26 WIB

Dulu Buka Jalan Gibran Lewat MK, Kini Almas Tiba-tiba Dukung Denny Indrayana Usut Ijazah Wapres!

Dulu Buka Jalan Gibran Lewat MK, Kini Almas Tiba-tiba Dukung Denny Indrayana Usut Ijazah Wapres!

Surakarta | Rabu, 30 September 2026 | 18:24 WIB

Tekan Penggunaan LPG, 1 Juta Jargas Akan Dibangun

Tekan Penggunaan LPG, 1 Juta Jargas Akan Dibangun

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 18:23 WIB

Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Ikut Menjerit

Rupiah Melemah, Pedagang Tempe Ikut Menjerit

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 18:22 WIB

Alya Sometimes Hides Her Feelings in Russian 2 Rilis PV Baru, Tayang 2027

Alya Sometimes Hides Her Feelings in Russian 2 Rilis PV Baru, Tayang 2027

Your Say | Rabu, 30 September 2026 | 18:20 WIB

×