Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.615.000
Beli Rp2.470.000
IHSG 5.999,038
LQ45 587,746
Srikehati 290,482
JII 351,378
USD/IDR 17.937

Pergerakan Ekonomi 6 Negara Ini Terpengaruh Kebijakan AS

Iwan Supriyatna, Achmad Fauzi

Senin, 10 September 2018 | 07:08 WIB
Pergerakan Ekonomi 6 Negara Ini Terpengaruh Kebijakan AS
Globalisasi. [Shutterstock]

Suara.com - Ketidakpastian ekonomi global membuat negara-negara berkembang kena imbasnya. Imbasnya, mulai dari nilai tukar mata uang yang terus menurun dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut, tetapi rata-rata disebabkan oleh kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS), seperti perang dagang antara AS dan Cina, serta kenaikan suku bunga bank sentral AS Fed Fund Rate.

Analis riset mata uang FXTM Lukman Otunuga mengatakan, ketidakpastian masih ada di pasar keuangan karena kekhawatiran penularan dari aksi jual pasar yang brutal bakal menghilangkan kepercayaan investor.

"Prospek suku bunga AS yang lebih tinggi dan ketidakpastian pasar secara keseluruhan menghantui daya tarik investor," kata Lukman seperti dilansir dari The Guardian.

Namun siapa-siapa saja negara yang paling kena terdampak dari ketidakpastian ekonomi global ini. Berikut ini adalah negara-negara yang paling terdampak.

1. Indonesia

Sebagai negara berkembang, Indonesia masuk dalam jajaran negara yang paling terdampak ekonomi global. Bagaimana tidak, Bank Indonesia terus menaikkan suku bunga acuannya untuk menopang laju rupiah terhadap dolar AS.

Nilai tukar rupiah berada pada titik terendah dalam 20 tahun, didorong oleh meningkatnya utang dan jumlah investor yang bertaruh terhadap pasar negara berkembang.

Karena inflasi sejauh ini masih terkendali, bank sentral mungkin akan lebih memilih untuk memangkas suku bunga untuk merangsang ekonomi yang sedang berjuang, tetapi kekhawatiran atas mata uang memaksa untuk menaikkan suku bunga sebagai gantinya.

2. Argentina

Bank sentral Argentina menaikkan suku bunga menjadi 60 persen bulan lalu dalam upaya untuk menopang mata uangnya yang jatuh. Hal ini tidak kemudian menenangkan kepercayaan para investor, sehingga pemerintah meluncurkan langkah-langkah penghematan besar-besaran untuk mencoba memulihkan kepercayaan.

Krisis mata uang cenderung mendorong ekonomi ke dalam resesi yang lebih dalam. Argentina telah meminta IMF untuk mempercepat pembayaran 50 miliar dolar AS dalam pendanaan darurat untuk meningkatkan keuangannya.

3. Afrika Selatan

Afrika Selatan secara tak terduga jatuh ke dalam resesi pada kuartal kedua 2018. Mata uang rand pun ke level terendah dalam dua tahun terakhir.

Presiden Cyril Ramaphosa, yang menggantikan Jacob Zuma awal tahun mengatakan resesi adalah masalah transisi. Tercatat, jumlah pengangguran meningkat 27,2 persen, membawa risiko protes nasional atas keadaan ekonomi.

4. Turki

Krisis yang sedang berlangsung di negara ini kemungkinan akan mendorongnya ke dalam resesi yang lebih dalam karena inflasi terus meningkat. Lira telah jatuh ke level terendah.

Presiden Recep Tayyip Erdogan tetap menentang, menuduh kepentingan asing melancarkan perang ekonomi di negara itu.

Di AS, Donald Trump telah menampar tarif pada ekspor baja negara itu dalam perselisihan sengit atas penahanan Andrew Brunson, seorang pendeta AS yang dituduh oleh Turki sebagai mata-mata.

Dukungan darurat dari IMF telah diperdebatkan, dan Turki juga di bawah tekanan untuk menaikkan suku bunga, meskipun Erdogan mungkin menolak ini.

5. Cina

Tingginya tingkat utang perusahaan telah memicu kekhawatiran global tentang ekonomi Cina dan kemampuannya untuk mengurangi ketergantungan pada utang serta mempertahankan pertumbuhan.

Gambaran ini dipersulit oleh ancaman Trump untuk mengenakan tarif 200 miliar dolar AS pada produk-produk ekspor Cina.

Investor khawatir eskalasi perang dagang dapat memperlambat pertumbuhan global, karena Cina adalah pendorong utama ekonomi dunia.

Nilai tukar Yuan tertekan terhadap dolar AS tahun ini. Hal ini dapat meringankan dampak dari tarif pada eksportir Cina, yang barangnya akan menjadi lebih kompetitif.

6. India

Rupee, nilai tukar mata uang India berada pada titik terendah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran atas dampak proteksionisme dan suku bunga AS yang lebih tinggi. Inflasi tinggi telah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak di India.

India adalah ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan pertumbuhan 8,2 persen dalam tiga bulan hingga Juni. Akan tetapi defisit perdagangannya menguat pada Juli menjadi 18 miliar dolar AS karena impor bahan bakar yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dampak Perang Dagang, Apple Diminta Bangun Pabrik di AS

Dampak Perang Dagang, Apple Diminta Bangun Pabrik di AS

Bisnis | Senin, 10 September 2018 | 06:26 WIB

Perang Dagang AS - Cina Semakin Memanas

Perang Dagang AS - Cina Semakin Memanas

Bisnis | Senin, 10 September 2018 | 06:16 WIB

Presiden Iran: Minta Berunding, AS Kirim Pesan Setiap Hari

Presiden Iran: Minta Berunding, AS Kirim Pesan Setiap Hari

News | Sabtu, 08 September 2018 | 21:36 WIB

Terkini

Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal

Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:21 WIB

418 Ribu Penumpang Nikmati Diskon Kapal Feri, Kuota Masih Tersedia

418 Ribu Penumpang Nikmati Diskon Kapal Feri, Kuota Masih Tersedia

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:15 WIB

Ternyata Kemasan Rokok Polos Melanggar Aturan

Ternyata Kemasan Rokok Polos Melanggar Aturan

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:10 WIB

Prabowo Bakal Luncurkan BBM Baru, Segini Harganya

Prabowo Bakal Luncurkan BBM Baru, Segini Harganya

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:09 WIB

Begini Modus WNA Curi Emas di Wilayah Gunung Botak

Begini Modus WNA Curi Emas di Wilayah Gunung Botak

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 19:05 WIB

Kemasan Rokok Polos Berisiko Gerus Penerimaan Negara hingga Puluhan Triliun

Kemasan Rokok Polos Berisiko Gerus Penerimaan Negara hingga Puluhan Triliun

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:59 WIB

Patriot Bond Jadi Tempat Pencucian Uang, DPR: Insentif Menarik Investor

Patriot Bond Jadi Tempat Pencucian Uang, DPR: Insentif Menarik Investor

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:56 WIB

Berdampak ke Industri Kretek Lokal, Kemenperin Tolak Batas Tar dan Nikotin Rokok

Berdampak ke Industri Kretek Lokal, Kemenperin Tolak Batas Tar dan Nikotin Rokok

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:38 WIB

Komitmen Penegakan Hukum, BRI Bantul Dukung Pengusutan Korupsi Eks Mantri

Komitmen Penegakan Hukum, BRI Bantul Dukung Pengusutan Korupsi Eks Mantri

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:35 WIB

Kok Bisa ESDM Seenaknya Stop Sementara Ekspor Batu Bara, Ini Alasannya

Kok Bisa ESDM Seenaknya Stop Sementara Ekspor Batu Bara, Ini Alasannya

Bisnis | Jum'at, 26 Juni 2026 | 18:31 WIB

×