Kuartal III 2018, Laba Bersih TBIG Turun 4,1 Persen

Pebriansyah Ariefana | Achmad Fauzi
Kuartal III 2018, Laba Bersih TBIG Turun 4,1 Persen
Pembukaa perdagangan saham 2018 di BEI, Jakarta, Selasa (2/1).

Kenaikan beban pokok ini disebebkan oleh kenaikan amortisasi sewa lahan dan perizinan dari Rp 171,2 miliar pada kuartal III 2017.

Suara.com - PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) mencatat laba bersih pada kuartal III 2018 sebesar Rp 623,4 miliar. Nilai itu turun 4,1 persen pada periode yang sama tahun lalu Rp 650,1 miliar.

Penurunan laba bersih anak usaha Saratoga Group dan Provident Capital ini disebabkan oleh beban pokok pendapatan yang naik 18,2 persen dari Rp 489,7 miliar pada kuartal III 2017 menjadi Rp 579,2 miliar pada periode yang sama tahun ini.

Kenaikan beban pokok ini disebebkan oleh kenaikan amortisasi sewa lahan dan perizinan dari Rp 171,2 miliar pada kuartal III 2017 menjadi Rp 220,2 miliar pada periode yang sama tahun ini. Selain itu, biaya penyusutan menara juga mengalami kenaikan pada kuartal III 2018 sebesar Rp 162,9 miliar dari Rp 148,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara, kewajiban atau liabilitas perseroan juga naik dari Rp 22,4 triliun pada akhir Desember 2017 menjadi Rp 25,5 triliun pada kuartal III 2018. Ekuitas perseroan juga naik dari Rp 25,5 triliun pada akhir Desember 2017 menjadi Rp 28,9 triliun pada kuartal III 2018.

Akan tetapi, pendapatan perseroan pada kuartal III 2018 naik 6,4 persen menjadi Rp 3,16 triliun. Kenaikan pendapayn ini disumbang setengahnya dari penyewaan Base Transceivert Station (BTS) oleh PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) sebesar Rp 1,42 triliun.

"Kuartal ini, kami melihat peningkatan permintaan yang signifikan dari pelanggan kami untuk menara dan kolokasi. Kami menambahkan 1.133 penyewaan yang terdiri dari 652 site telekomunikasi dan 481 kolokasi secara perhitungan kotor di kuartal ketiga 2018," ujar CEO TBIG Hardi Wijaya Liong, dalam keteranganya, Senin (12/11/2018).

Per 30 September 2018, TBIG memiliki 24.886 penyewaan dan 14.450 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 14.391 menara telekomunikasi dan 59 jaringan DAS. Dengan angka total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 24.827, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) Perseroan menjadi 1,73.

"Kuartal ini adalah kuartal terbaik untuk TBIG di tahun 2018 dalam hal pertumbuhan dan penambahan penyewaan tersebut membuat penambahan organik kotor kami sebanyak 2.350 penyewaan untuk sembilan bulan pertama tahun 2018. Kami berharap to melebihi target kami untuk tahun 2018 yang sebesar 2.500 penyewaan," pungkas dia.

Untuk diketahui, TBIG adalah perusahaan penyedia infrastruktur telekomunikasi bagi penempatan BTS oleh para operator telekomunikasi di Indonesia. TBIG dimiliki oleh Saratoga Group dan Provident Capital, salah satu perusahaan Sandiaga Uno.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS