Baja Murah Impor Ancam Industri Dalam Negeri

Iwan Supriyatna

Senin, 03 Mei 2021 | 09:31 WIB
Baja Murah Impor Ancam Industri Dalam Negeri
Ilustrasi baja.

Suara.com - Dampak Covid-19 melanda, negara China sempat mengalami penurunan produktivitas. Hal itu terkait serta dengan menurunnya impor baja China ke Indonesia sebesar 40 persen di tahun 2020.

Faktor lain yang menyebabkan menurunnya impor baja China di Indonesia adanya PSBB, kelangkaan kontainer dan peran pemerintah. Walaupun industri dalam negeri akhirnya mendominasi di kondisi pasar lokal yang menurun 27 persen, maka produksi jadi lebih rendah dibanding 2019. Sehingga utilisasi tetap di kisaran 50 persen.

Kini, pasca sembuh dari Covid-19 industri baja China kembali menunjukan geliatnya. Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat adanya peningkatan angka impor pada di semester kedua, Juli 2020, dengan titik tertinggi di Desember 2020, mencapai 166 persen.

Hingga memasuki 2021 tepatnya di bulan Februari, angka kenaikan impor kian bertambah mencapai 36 persen, yang berasal dari China dan Vietnam. Kenaikan volume impor ini dipicu adanya dugaan praktik banting harga sehingga menyebabkan unfair trade.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bima Yudistira mengatakan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemerintah dan pengusaha industri baja dalam negeri untuk menekan angka impor.

“Perlu diselidiki apakah kenaikan impor baja lapis aluminium dari China mengandung praktik dumping atau persaingan usaha yang tidak sehat. Jika ditemukan praktik dumping misalnya pemerintah China mensubsidi ekspor baja ke Indonesia dengan berbagai fasilitas seperti insentif produksi hingga tax rebate untuk ekspor, maka bisa dikenakan bea masuk anti dumping. Penjagaan lain dalam bentuk non tarif juga bisa dilakukan misalnya mendorong sertifikasi wajib tertentu produk impor baja,” kata Bima ditulis Senin (3/5/2021).

Menurut Bima, terkait penggunaan baja impor, cara membatasi bisa dimulai dari proyek konstruksi pemerintah pusat maupun daerah. Porsi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) harus diperbesar.

“Cara ini efektif untuk mendorong produsen lokal masuk ke pengadaan barang jasa proyek pemerintah. Misalnya di sektor konstruksi perumahan bisa didorong porsi lokal baja lapis aluminium seng. Atau bisa juga di proyek BUMN” terang Bima.

Anggota Komisi VI DPR Achmad Baidowi mengatakan banjir baja impor murah, terutama asal China dapat mengancam industri baja nasional. Sebab, menurut Achmad Baidowi, hal itu akan berdampak pada nasib ribuan karyawan yang dapat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

baca juga

Pemerintah, masih kata Achmad Baidowi, harus bertindak memberi perlindungan bagi industri baja nasional, sekaligus menyelamatkan puluhan ribu karyawannya.

"Ini yang harus diperhatikan pemerintah, karena tenaga kerja di industri baja nasional tidak sedikit. Jangan sampai mereka mati di lumbung sendiri," ujar Achmad Baidowi.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian bersama Perdagangan harus melindungi produksi baja nasional dan juga turunannya. Sebab, Baidowi menilai, jika banjir impor baja murah asal China terus terjadi, maka akan memunculkan efek domino cukup besar.

Tidak hanya ancaman PHK masal, tambahnya, lebih dari itu, juga membuat roda perekonomian semakin terpuruk. "Proteksi tersebut menjadi salah satu opsi yang harus dipertimbangkan pemerintah, baik dalam hal penerapan antidumping maupun safeguard. Tentu saja, dengan memperhatikan ketentuan global WTO," ujarnya.

Baidowi menambahkan sebagaimana sektor industri lain, industri baja merupakan penopang ekonomi nasional, untuk itu, pemerintah harus mengefektifkan produksi dan menekan laju PHK.

"Jangan sampai di saat sulit karena pandemi ini, ditambah PHK yang masif karena baja impor. Kalau itu terjadi, makin remuk ekonomi kita,"katanya.

Kapasitas industri BJLAS dalam negeri yang bertambah hampir 250 ribu ton di akhir tahun 2019, dinilai sudah mencukupi kebutuhan pasar tahun 2020, bahkan over-supply. Namun impor tetap berkontribusi 39%.

Kondisi ini dianggap belum sehatnya industri BJLAS dalam negeri sejak dominasi impor memuncak di tahun 2018, dan membawa kepada tingkat utilisasi stagnant, yaitu di kisaran 50%.

Investasi industri BJLAS dalam negeri telah ada saat ini dengan nilai hampir 1 milyar dollar Amerika. Setidaknya hal ini dapat menjadi konsiderasi pemerintah untuk dapat disembuhkan, dilindungi dan diberikan kesempatan untuk mampu merencanakan bisnis jangka panjang yang berpotensi kepada penambahan investasi dalam negeri serta meningkatkan neraca perdagangan Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tata Metal Lestari Dukung Industri Baja Berkelanjutan

Tata Metal Lestari Dukung Industri Baja Berkelanjutan

Bisnis | Senin, 26 April 2021 | 09:42 WIB

Cara Mendapatkan Pakaian Lapis Baja Batman Zero Fortnite

Cara Mendapatkan Pakaian Lapis Baja Batman Zero Fortnite

Tekno | Jum'at, 23 April 2021 | 14:30 WIB

Mobil Tempur Ini Dijual di Facebook, Harganya Setara Lima Toyota Alphard

Mobil Tempur Ini Dijual di Facebook, Harganya Setara Lima Toyota Alphard

Otomotif | Selasa, 13 April 2021 | 14:51 WIB

Terkini

Tiga Daerah di Sumbar Perpanjang PJJ Akibat Kabut Asap

Tiga Daerah di Sumbar Perpanjang PJJ Akibat Kabut Asap

Sumbar | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:25 WIB

3 Rekomendasi Skincare Vegan Lokal, Tampil Cantik Sekaligus Peduli Lingkungan

3 Rekomendasi Skincare Vegan Lokal, Tampil Cantik Sekaligus Peduli Lingkungan

Lifestyle | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:24 WIB

6 HP Infinix Memori Besar dan Kamera OIS Termurah 2026, Foto Stabil Bebas Blur

6 HP Infinix Memori Besar dan Kamera OIS Termurah 2026, Foto Stabil Bebas Blur

Tekno | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:22 WIB

ISPA Meningkat di Padang, Kunjungan Pasien Tembus Seribu per Hari

ISPA Meningkat di Padang, Kunjungan Pasien Tembus Seribu per Hari

Sumbar | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:21 WIB

Mau Ketemu MSCI Sore Ini, Bos BEI Yakin Pasar Modal RI Layak Masuk Emerging Market

Mau Ketemu MSCI Sore Ini, Bos BEI Yakin Pasar Modal RI Layak Masuk Emerging Market

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Pengorbanan Seorang Kakak untuk Mimpi Adik Tulinya di Hear Me: Our Summer

Pengorbanan Seorang Kakak untuk Mimpi Adik Tulinya di Hear Me: Our Summer

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Pakai Helm Tanpa Kaca Bisa Kena Tilang Polisi? Ini Aturan yang Wajib Riders Tahu!

Pakai Helm Tanpa Kaca Bisa Kena Tilang Polisi? Ini Aturan yang Wajib Riders Tahu!

Otomotif | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:20 WIB

Benda Misterius Jatuh di Kalimantan, Awalnya Terlihat Seperti Meteor Jatuh dari Luar Angkasa

Benda Misterius Jatuh di Kalimantan, Awalnya Terlihat Seperti Meteor Jatuh dari Luar Angkasa

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:17 WIB

Soal Polisi Bunuh Polisi Karena Dugaan Bully, DPR Desak Pengusutan Tuntas dan Evaluasi Internal

Soal Polisi Bunuh Polisi Karena Dugaan Bully, DPR Desak Pengusutan Tuntas dan Evaluasi Internal

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:16 WIB

IDAI Ungkap Alasan Anak Lebih Rentan Terdampak Asap Karhutla Dibanding Orang Dewasa

IDAI Ungkap Alasan Anak Lebih Rentan Terdampak Asap Karhutla Dibanding Orang Dewasa

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 13:15 WIB

×