- Gempa 7,7 magnitudo di NTT pada 15 Agustus 2026 menyebabkan warga pengungsian membutuhkan air bersih, layanan kesehatan, dan komunikasi.
- Amartha Empower melalui kampanye Solidaritas untuk NTT menyalurkan bantuan darurat bagi sekitar 59 ribu mitra di sejumlah wilayah Flores.
- Tahap pemulihan ekonomi pascabencana difokuskan untuk menghidupkan kembali usaha kecil dan UMKM yang terdampak melalui asesmen lapangan lanjutan.
Suara.com - Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 meninggalkan dampak bagi masyarakat di sejumlah wilayah Flores dan sekitarnya.
Memasuki masa tanggap darurat, kebutuhan warga terdampak tidak hanya berkaitan dengan pangan dan tempat tinggal sementara. Akses air bersih, layanan kesehatan, sanitasi, komunikasi, hingga kebutuhan bayi dan anak-anak juga menjadi bagian penting yang perlu segera dipenuhi.
Di sejumlah lokasi pengungsian, ketersediaan air bersih dibutuhkan untuk kebutuhan minum maupun aktivitas sehari-hari. Penyediaan tandon atau toren dan distribusi air bersih menjadi salah satu bentuk dukungan yang dapat membantu warga selama masih berada di tempat pengungsian.
Kebutuhan kesehatan juga menjadi perhatian. Selain layanan dokter umum dan obat-obatan, warga membutuhkan perlengkapan kebersihan atau hygiene kit untuk menjaga kondisi kesehatan di tengah situasi pascabencana.
Sanitasi dan fasilitas mandi turut menjadi kebutuhan penting, terutama ketika warga harus tinggal sementara di lokasi pengungsian dengan fasilitas terbatas. Sementara bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak-anak, kebutuhan khusus seperti baby kit juga diperlukan.
Kebutuhan lain yang tak kalah penting adalah akses komunikasi. Kerusakan atau keterbatasan jaringan di sejumlah wilayah dapat menyulitkan warga untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun mengakses informasi. Karena itu, pemancar sinyal menjadi salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk membuka kembali akses komunikasi.
Selain kebutuhan darurat tersebut, pemulihan penghidupan masyarakat juga perlu mulai dipikirkan sejak masa tanggap darurat. Banyak warga di wilayah terdampak menggantungkan pendapatan dari usaha kecil dan aktivitas ekonomi lokal.
Data lapangan menunjukkan sebanyak 64 persen mitra masih memiliki usaha yang berpotensi pulih. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika kebutuhan dasar warga telah terpenuhi.
Salah satu upaya yang dilakukan Amartha Empower melalui kampanye “Solidaritas untuk NTT” mencakup pemenuhan kebutuhan darurat sekaligus persiapan dukungan untuk pemulihan penghidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat terdampak.
Berdasarkan data lapangan, terdapat sekitar 59 ribu mitra di NTT, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai, Ngada, dan Sikka. Jejaring tersebut memungkinkan tim melihat kondisi serta kebutuhan masyarakat secara lebih dekat setelah bencana.
Pemulihan Ekonomi Jadi Tahap Berikutnya
Setelah kebutuhan darurat tertangani, pemulihan akan berlanjut pada tahap recovery dan resilience. Asesmen bersama masyarakat diperlukan untuk menentukan dukungan yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Kebutuhan tersebut dapat mencakup upaya menghidupkan kembali usaha dan perdagangan, membuka akses pasar, memperbaiki transportasi, mendukung irigasi, hingga memulihkan rantai pasok yang terdampak bencana.
Gigih Septianto, Head of Amartha Empower menyampaikan, “Hasil asesmen akan menentukan dukungan berikutnya, mulai dari membantu usaha dan perdagangan kembali berjalan hingga mendukung kebutuhan yang berkaitan dengan akses pasar, transportasi, irigasi, dan rantai pasok. Kebutuhan modal bagi para UMKM yang juga terdampak untuk segera kembali menjalankan usahanya,”
Pemulihan ekonomi menjadi penting karena bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari usaha kecil, kondisi pascabencana dapat berdampak panjang terhadap pendapatan keluarga.
“Dalam situasi bencana, kebutuhan setiap wilayah dan kelompok masyarakat bisa berbeda. Karena itu, bagi kami penting untuk memahami apa yang paling dibutuhkan masyarakat di lapangan. Mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga bangkit melanjutkan penghidupan,” tutupnya.