facebook

Bos BI Sebut Kebijakan Normalisasi Bank Sentral AS Berdampak ke Keuangan RI

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Bos BI Sebut Kebijakan Normalisasi Bank Sentral AS Berdampak ke Keuangan RI
Gubernur BI, Perry Warjiyo. (Dokumentasi Humas Bank Indonesia)

Bank Indonesia (BI) melihat sinyal Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) untuk menormalisasi kebijakannya makin kencang.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) melihat sinyal Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) untuk menormalisasi kebijakannya makin kencang. Salah satunya, The Fed bakal mulai menaikkan suku bunga acuannya pada Maret mendatang.

Gubernur BI, Perry Warjiyo tidak menampik, kebijakan normalisasi tersebut akan berdampak pada keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun demikian, Ia melihat tetap ada peluang pemulihan ekonomi Indonesia berlanjut. Salah satunya, dengan mengeluarkan kebijakan untuk stabilitas pasar keuangan.

"Selalu ada peluang, dan peluang terbaik sedang kita cari untuk menumbuhkan ekonomi, dan pastinya untuk manajemen risiko suku bunga dan valuta asing, baik secara global maupun domestik," ujar Perry dalam Annual Investment Forum 2022, Kamis (27/1/2022).

Baca Juga: Bank Indonesia Diduga Tak Mau Bayar Tebusan, Semakin Banyak Data Diumbar Geng Ransomware Conti

Dalam hal ini, Ia memperkirakan The Fed mulai menaikkan suku bunga acuannya sebanyak empat kali. Kendati begitu, Perry akan memantau pergerakan The Fed untuk mengeluarkan kebijakan yang bisa menstabilkan pasar keuangan

"Kami mengasumsikan kemungkinan besar bahwa suku bunga (FFR) akan meningkat sebanyak empat kali(tahun ini) yang dimulai bulan Maret, tetapi berlanjut juga tahun-tahun berikutnya," ucap dia.

Di sisi lain, Perry juga melihat pertumbuhan ekonomi global akan merata pada tahun 2022 ini. Bukan hanya Amerika Serikat dan China saha yang ekonominya mulai pulih, tetapi ekonomi negara maju lainnya juga akan bergerak positif.

"Jadi juga dengan adanya pemulihan ekonomi di Eropa, Jepang dan India. Itu jelas akan meningkatkan volume perdagangan global dan harga komoditas," imbuh dia.

Baca Juga: Ratusan Komputer Bank Indonesia Diduga Kena Retas, Evaluasi Internal Harus Dilakukan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar