facebook

IHSG Dibuka Menguat Jelang Akhir Pekan, Saham-saham 'Minyak Goreng' Ngegas To The Moon!

M Nurhadi
IHSG Dibuka Menguat Jelang Akhir Pekan, Saham-saham 'Minyak Goreng' Ngegas To The Moon!
Tanda buah segar perkebunan sawit di Sumsel [Suara.com/Tasmalinda]

Saham emiten CPO, secara kompak tercatat menguat pada Jumat (20/5/2022) pagi.

Suara.com - Pada pembukaan hari ini Jumat (20/5/2022), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau menguat di kisaran 6871 terdorong penguatan saham-saham dari emiten industri sawit.

Sejumlah saham penguasa industri minyak goreng, seperti Provident Agro Tbk (PALM), Astra Agro Lestasi Tbk (AALI), PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk (SMRT), Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) secara kompak menguat signifikan.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia meyakini,masih akan menarik di tengah tren koreksi tahunan ‘Sell in May and Go Away’ serta tekanan dari kenaikan suku bunga acuan AS karena kuatnya fundamental pasar Indonesia.

Kuatnya faktor fundamental tercermin dari tingginya minat investor asing yang terlihat dari besarnya aliran masuk dana investor asing (foreign fund flow).

Baca Juga: BREAKING NEWS! Mulai Senin Depan, Jokowi Resmi Cabut Larangan Ekspor CPO

"Dengan kondisi tersebut, maka secara teknikal IHSG diprediksi akan terkonsolidasi dengan support-resistance pada kisaran 6.506-6.904," kata Martha Christina selaku Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia pada Kamis (19/5/2022) lalu.

Dengan demikian, Martha dan tim menyarankan investor untuk fokus bertransaksi aktif jangka pendek pada tiga sektor yaitu sektor keuangan, energi, dan industri.

Di sektor keuangan, empat saham yang dipilih adalah BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Saham-saham pilihan Martha dan tim di sektor energi yaitu ADRO, ITMG, PTBA, ADMR, dan PGAS. Di sektor industri, ada dua pilihan yaitu ASII dan UNTR.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa faktor tren ‘Sell in May and Go Away’ serta kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Rate) sudah diantisipasi pelaku pasar sehingga koreksi memang diprediksi terjadi tetapi akan terbatas.

Pada Mei, foreign fund flow memang negatif Rp8,36 triliun, tetapi sejak awal tahun masih surplus cukup besar yaitu Rp51,27 triliun per 13 Mei.

Baca Juga: Asing Lepas Saham Rp266 Miliar, IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.823

"Foreign fund flow sejak awal tahun menjadi faktor utama yang akan menahan koreksi dan menunjukkan bahwa investor asing menilai fundamental dalam negeri Indonesia masih menarik," ujar Nafan.

Komentar