Sagu Jadi Yang Paling Dicari Saat Ini

Iwan Supriyatna

Senin, 31 Oktober 2022 | 08:49 WIB
Sagu Jadi Yang Paling Dicari Saat Ini
Ilustrasi mie sagu.

Suara.com - Mie sagu memiliki potensi dan peluang usaha yang besar saat ini, bahan baku mudah didapatkan karena kami produksi di daerah sendiri, Kab Meranti. Mie sagu ini, selain menjadi makanan khas kab meranti, juga sebagai oleh-oleh khas daerah.

"Ini menjadi alasan kami mengembangkan usaha mie sagu. Karena itu, butuh terus dukungan dari pemerintah, menggalakkan produk olahan sagu sebagai alternatif tepung terigu sehingga sagu bisa dimaksimalkan untuk sumber pangan nasional, dimana salah satu olahan sagu yang mudah dipasarkan adalah mie sagu," ungkap Henny, Pengusaha Mie Sagu KUBE Rumbia Lestari.

Henny mulai mengembangkan usaha sagu mie, KUBE Rumbia Lestari sejak tahun 2018 dengan beranggotakan 5 orang dan respon masyarakat sangat tinggi.

“Salah satu upaya yang kami lakukan untuk mengembangkan usaha mie sagu ini, promosi melalui media sosial dan mengikuti berbagai event atau pameran yang diadakan pemerintah ataupun swasta,” ungkapnya.

“Penjualan mie sagu (basah) kami saat ini masih di dalam daerah, dijual dengan harga Rp.3.500/bungkus dengan berat 350 gr,” katanya.

Henny menambahkan, Mengingat kesadaran masyarakat akan makanan sehat semakin tinggi kami ikut membantu menyediakan mie sehat berbahan baku sagu. Untuk generasi muda milenial agar semakin giat mensosialisasikan kesadaran makanan sehat dan meningkatkan semangat berwira usaha khususnya pengembangan dan pemasaran mie sagu yang saat ini belum banyak pemainnya. Ini peluang besar dan akan sangat menguntungkan.

“Harapan saya, mari bersama bersinergi, antara petani pengolah sagu, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, agar harga bahan baku bisa stabil dan sesuai, serta harga jual sagu mie bisa berkompetisi dengan mie instan lainnya,” harap henny.

Ia meminta, Peran aktif pemerintah untuk semakin gencar mempromosikan mie sagu yang sehat ini kepada seluruh lapisan masyarakat agar pasarnya semakin terbuka luas dan memberikan dukungan atau motivasi dengan berbagai fasilitas kemudahan seperti perizinan usaha dan lain-lain kepada para pengusaha mie sagu dari hulu sampai hilirnya.

Pengusaha Mie Sagu lainnya, Kelompok Tani Rimbo Bujang, beranggota 25 orang, sejak tahun 2016 hingga kini terus konsisten mengembangkan sagu. Ia juga menganggap kalau mie sagu lebih aman dikonsumsi dalam jangka panjang karena tidak menggunakan bahan pengawet dan kandungan glikemiknya cukup rendah ditambah lagi kesadaran masyarakat untuk lebih memilih makanan yang sehat semakin meningkat.

baca juga

"Kami gencar sosialisasi di media online maupun di toko-toko atau agen penjualan online, melakukan kerja sama dengan dinas pangan dan terkait setempat untuk ikut program-program promosi pangan sehat serta membagikan sample (tester) maupun leaflet atau brosur pada event-event tersebut. Saat ini pasar terbanyak baru untuk dalam negeri, tetapi beberapa waktu lalu juga sempat tembus ke pasar luar negeri diantaranya Jepang, Belanda, meski jumlahnya belum banyak karena baru taraf promosi pengenalan,” kata Praptini, Ketua Kelompok Tani Rimbo Bujang, dan pemilik Toko Sagu Kite.

Ia menjelaskan, Harga mie siap saji miliknya untuk dalam negeri rata-rata dibandrol harga sebesar Rp. 16.000,- hingga Rp. 18.000,- belum ongkir (Perangkau Meranti-Riau), sedangkan untuk ekspor diharga rata-rata Rp. 25.000,- sedangkan untuk mie sagu untuk diolah lagi seharga Rp. 8.000,- (500 gr) sampai Rp. 10.000,-, dimana baru untuk memenuhi pasar dalam negeri karena tidak menggunakan bahan pengawet.

Mie sagu setengah jadi (bukan mie instan siap seduh) rata-rata dibuat oleh kelompok tani dibawah pembinaan Dinas UMKM dan Dinas Pertanian.

Pada kesempatan yang berbeda, Andi Nur Alam Syah, Dirjen Perkebunan, Kementan mengatakan, Pemerintah tentunya hadir membantu petani dan pelaku usaha perkebunan, melakukan pembinaan dan terus mendorong peningkatan nilai tambah produk, dan berinovasi untuk pengembangannya.

Potensi sagu Indonesia yang besar ini dapat menjadi solusi atau menjawab tantangan krisis pangan dunia. Dalam pengembangan sagu harus memberdayakan petani lokal dan memperhatikan positioning serta memperbaiki kemasan produk agar dapat bersaing dipasar domestik dan internasional.

Tidak kalah penting, perlunya penguatan pasar melalui e-commerce serta pengembangan produk turunannya dengan varian rasa olahannya. Diharapkan sagu kedepannya dapat dikembangkan secara luas, dengan dukungan anggaran yang lebih memadai dan melibatkan banyak stakeholders agar produk sagu Indonesia semakin dikenal dunia dan petani Indonesia sejahtera.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mentan SYL Dorong Papua Barat Jadi Penghasil Sagu Berkualitas

Mentan SYL Dorong Papua Barat Jadi Penghasil Sagu Berkualitas

Bisnis | Rabu, 26 Oktober 2022 | 17:00 WIB

Mentan Yasin Limpo Dihujat Netizen Gegara Ajak Warga Makan Sagu

Mentan Yasin Limpo Dihujat Netizen Gegara Ajak Warga Makan Sagu

Video | Minggu, 09 Oktober 2022 | 14:15 WIB

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Menjadi Sorotan Netizen

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Menjadi Sorotan Netizen

Tangsel | Sabtu, 08 Oktober 2022 | 15:41 WIB

Terkini

25 Tahun Urus Izin, Pembangunan Gereja di Jakarta Timur Baru Capai 80 Persen

25 Tahun Urus Izin, Pembangunan Gereja di Jakarta Timur Baru Capai 80 Persen

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:38 WIB

Karhutla Sumsel Berdampak ke Panggung Hiburan, Bernadya hingga The Adams Batal Tampil di Palembang

Karhutla Sumsel Berdampak ke Panggung Hiburan, Bernadya hingga The Adams Batal Tampil di Palembang

Sumsel | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:36 WIB

Pelatih PSMS Bertekad Menang Lawan PSIS Semarang Malam Ini

Pelatih PSMS Bertekad Menang Lawan PSIS Semarang Malam Ini

Sumut | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:33 WIB

Apa Tema Hari Sumpah Pemuda 2026? Ini Ketentuan Resmi dan Makna di Baliknya

Apa Tema Hari Sumpah Pemuda 2026? Ini Ketentuan Resmi dan Makna di Baliknya

Lifestyle | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Bukan Tablet Biasa, Honor WIN Pad Punya Kipas Pendingin dan Layar OLED 240 Hz

Bukan Tablet Biasa, Honor WIN Pad Punya Kipas Pendingin dan Layar OLED 240 Hz

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Ada Kanye West hingga JRF, Pramono Anung: Ekonomi Jakarta Sedang Baik-baik Saja

Ada Kanye West hingga JRF, Pramono Anung: Ekonomi Jakarta Sedang Baik-baik Saja

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:25 WIB

Ledakan Keras Terdengar di Arab Saudi saat Bandara internasional Riyadh Baru Dibuka

Ledakan Keras Terdengar di Arab Saudi saat Bandara internasional Riyadh Baru Dibuka

News | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:15 WIB

Ketika Udara Bersih Harus Dibeli Mahal, Haruskah Hak Bernapas Dirampas?

Ketika Udara Bersih Harus Dibeli Mahal, Haruskah Hak Bernapas Dirampas?

Your Say | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:15 WIB

2 Remaja Hanyut Saat Mandi di Sungai Tadukan Deli Serdang Ditemukan Tewas

2 Remaja Hanyut Saat Mandi di Sungai Tadukan Deli Serdang Ditemukan Tewas

Sumut | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:12 WIB

UMKM Binaan Pertamina Hadirkan Manfaat Nyata, dari Pelestarian Budaya hingga Pemberdayaan Masyarakat

UMKM Binaan Pertamina Hadirkan Manfaat Nyata, dari Pelestarian Budaya hingga Pemberdayaan Masyarakat

Bisnis | Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:10 WIB

×