Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.740.000
Beli Rp2.605.000
IHSG 6.220,740
LQ45 625,233
Srikehati 305,996
JII 376,405
USD/IDR 17.748

Laporan IMF: Kenaikan Nilai Tukar Dolar AS Berdampak Buruk Pada Negara Berkembang

M Nurhadi

Kamis, 20 Juli 2023 | 09:34 WIB
Laporan IMF: Kenaikan Nilai Tukar Dolar AS Berdampak Buruk Pada Negara Berkembang
Petugas menunjukkan mata uang Dolar AS di tempat penukaran uang Dolar Indo, Jakarta, Kamis (20/10/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Kenaikan nilai tukar dolar AS yang terjadi tahun lalu, akibat risiko keuangan global, menyebabkan dampak negatif yang lebih berat terhadap ekonomi pasar negara berkembang daripada negara maju, menurut laporan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Rabu (19/7/2023).

IMF mencatat bahwa nilai tukar riil efektif dolar meningkat 8,3 persen pada tahun 2022, mencapai level terkuat dalam dua dekade, yang dipicu oleh kenaikan suku bunga Federal Reserve guna mengendalikan inflasi serta harga-harga komoditas global yang lebih tinggi karena konflik Ukraina.

Dampak negatif apresiasi dolar terhadap sektor riil terasa lebih kuat pada ekonomi pasar negara berkembang, sementara ekonomi maju hanya mengalami dampak yang kecil dan berumur pendek, kata IMF.

Untuk ekonomi pasar negara berkembang, apresiasi dolar sebesar 10 persen, terkait dengan situasi pasar keuangan global, menyebabkan penurunan produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,9 persen dalam setahun, dan dampak ini diperkirakan berlangsung selama dua setengah tahun, menurut IMF.

Namun, efek negatif pada ekonomi negara maju lebih rendah, dengan penurunan output mencapai puncaknya sebesar 0,6 persen setelah satu kuartal dan sebagian besar pulih dalam setahun, kata IMF.

Banyak ekonomi pasar negara berkembang juga mengalami masalah ketersediaan kredit yang buruk, penurunan arus masuk modal, dampak kebijakan moneter yang ketat, dan penurunan pasar saham yang lebih besar, kata IMF.

IMF menekankan bahwa negara-negara pasar berkembang dengan kerentanannya, seperti inflasi tinggi dan posisi eksternal yang tidak seimbang, menghadapi tekanan depresiasi yang lebih besar, sementara ekonomi yang mengekspor komoditas mendapat manfaat dari kenaikan harga komoditas.

Laporan IMF juga menunjukkan bahwa apresiasi dolar memiliki dampak nyata pada pertumbuhan ekonomi global, yang tercermin dalam neraca transaksi berjalan global, indikator utama untuk mengukur saldo transaksi berjalan di seluruh negara.

Menurut penilaian IMF, apresiasi dolar sebesar 10 persen berhubungan dengan penurunan saldo transaksi berjalan global sebesar 0,4 persen dari PDB dunia setelah satu tahun.

Penurunan sebesar itu "signifikan secara ekonomi," kata IMF, mengingat rata-rata saldo transaksi global selama dua dekade terakhir adalah sekitar 3,5 persen dari PDB dunia, dengan standar deviasi 0,7 persen.

Menurut IMF, penurunan saldo transaksi global mencerminkan kontraksi luas dalam perdagangan yang dipengaruhi oleh harga mata uang yang dominan, yang terjadi karena penyempitan neraca perdagangan komoditas, terutama akibat penurunan harga komoditas yang biasanya terjadi bersamaan dengan apresiasi dolar.

IMF merekomendasikan agar negara-negara pasar berkembang beralih ke nilai tukar yang lebih fleksibel dengan mengembangkan pasar keuangan domestik yang mengurangi sensitivitas pinjaman terhadap nilai tukar, dan berkomitmen untuk meningkatkan kerangka fiskal dan moneter, termasuk kemandirian bank sentral, guna membantu menjaga ekspektasi inflasi.

Bagi ekonomi pasar negara berkembang yang mengalami tekanan keuangan yang berat dan kerentanannya pada neraca transaksi, langkah-langkah manajemen makroprudensial dan aliran modal dapat membantu mengurangi dampak negatif lintas batas, menurut IMF.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Komplotan Pengedar Uang Palsu Rp15 Triliun Ditangkap, Bank Indonesia Turun Tangan

Komplotan Pengedar Uang Palsu Rp15 Triliun Ditangkap, Bank Indonesia Turun Tangan

Bisnis | Rabu, 19 Juli 2023 | 16:40 WIB

Penjualan Ritel AS Picu Nilai Tukar Dolar Menguat Signifikan

Penjualan Ritel AS Picu Nilai Tukar Dolar Menguat Signifikan

Bisnis | Rabu, 19 Juli 2023 | 07:39 WIB

CEK FAKTA: Tersangka Kasus Gratifikasi Rafael Alun Trisambodo Menimbun Uang Dolar di Bawah Tanah?

CEK FAKTA: Tersangka Kasus Gratifikasi Rafael Alun Trisambodo Menimbun Uang Dolar di Bawah Tanah?

Metro | Rabu, 19 Juli 2023 | 06:56 WIB

CEK FAKTA: IMF dan Uni Eropa Bakal Gagalkan Indonesia Masuk BRICS, Presiden Vladimir Putin Siap Beking Negara Kita?

CEK FAKTA: IMF dan Uni Eropa Bakal Gagalkan Indonesia Masuk BRICS, Presiden Vladimir Putin Siap Beking Negara Kita?

Metro | Selasa, 18 Juli 2023 | 17:23 WIB

Sosok Don Adam, Viral Foto Bareng Tumpukan Uang Dolar Diduga Terkait Korupsi BTS

Sosok Don Adam, Viral Foto Bareng Tumpukan Uang Dolar Diduga Terkait Korupsi BTS

News | Jum'at, 14 Juli 2023 | 14:32 WIB

Siaga 98 Dukung Kebijakan Hilirisasi Produk Pertambangan Presiden Jokowi dan Menentang Campur Tangan Uni Eropa dan IMF

Siaga 98 Dukung Kebijakan Hilirisasi Produk Pertambangan Presiden Jokowi dan Menentang Campur Tangan Uni Eropa dan IMF

Garut | Kamis, 13 Juli 2023 | 22:13 WIB

Terkini

Lingkar Dalam Prabowo Bikin Investor Waswas, Rupiah dan IHSG Kena Tekanan

Lingkar Dalam Prabowo Bikin Investor Waswas, Rupiah dan IHSG Kena Tekanan

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 08:29 WIB

Biaya Medis Jebol Rp200 Juta, Ini Pentingnya Proteksi Sejak Dini

Biaya Medis Jebol Rp200 Juta, Ini Pentingnya Proteksi Sejak Dini

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 08:19 WIB

Investor Asing Antre Beli Saham EMAS, 50 Persen Jatah IPO Hong Kong Langsung Ludes

Investor Asing Antre Beli Saham EMAS, 50 Persen Jatah IPO Hong Kong Langsung Ludes

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 08:09 WIB

Tak Hanya Listrik, Limbah Panas Bumi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Tak Hanya Listrik, Limbah Panas Bumi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 07:59 WIB

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50 Persen, Apa Pertimbangannya?

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50 Persen, Apa Pertimbangannya?

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 07:40 WIB

Jelang Pengumuman MSCI, Simak Saham-saham yang Layak Dilirik Hari Ini

Jelang Pengumuman MSCI, Simak Saham-saham yang Layak Dilirik Hari Ini

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 07:39 WIB

OJK Minta Investor Lakukan Ini Jelang Pengumuman Baru MSCI

OJK Minta Investor Lakukan Ini Jelang Pengumuman Baru MSCI

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 07:19 WIB

DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China

DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:34 WIB

Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?

Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:31 WIB

B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman

Bisnis | Rabu, 17 Juni 2026 | 18:21 WIB