Gegara Perubahan Iklim RI Bisa Tekor Rp544 Triliun, Bappenas: Kita Menghadapi Krisis Planet Ganda

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 08 September 2023 | 17:17 WIB
Gegara Perubahan Iklim RI Bisa Tekor Rp544 Triliun, Bappenas: Kita Menghadapi Krisis Planet Ganda
Ilustrasi kekeringan akibat krisis Iklim yang mengakibatkan inflasi pangan (Pixabay)

Suara.com - Data dari Transparansi Iklim 2021 menyebutkan kontributor utama emisi gas rumah kaca Indonesia adalah pembakaran bahan bakar, akibat penggunaan listrik (35 persen), industri (27 persen), dan transportasi (27 persen). 

Sementara sektor pertanian menyumbang 14 persen dari total emisi negara ini, sedangkan industri makanan dan minuman dianggap sebagai salah satu penyumbang terbesar limbah di Indonesia. 

Staf ahli Pakar Urusan Sosial dan Pengentasan Kemiskinan Kementerian PPN/Bappenas Vivi Yulaswati mengatakan dengan kondisi tersebut Indonesia kini menghadapi krisis planet ganda dengan polusi yang meningkat, pemanasan global, dan kehilangan biodiversitas. 

Dirinya pun mendesak Indonesia untuk melakukan transformasi ekonomi menuju ekonomi hijau untuk mengatasi krisis ini.

Vivi menjelaskan bahwa Bappenas telah menyelesaikan rencana pengembangan jangka panjangnya (RPJPN) yang akan dimulai pada tahun 2025 dan akan dilaksanakan hingga tahun 2045.

"Dalam RPJPN terdapat strategi dekarbonisasi BAPPENAS yang diprediksi akan mengarah pada rantai nilai berkelanjutan," kata Vivi dalam sebuah webinar bertajuk 'Jalan Menuju Rantai Nilai Berkelanjutan di Indonesia' dikutip Jumat (8/9/2023).

Menurut dia salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan melalui implementasi sertifikasi industri hijau.

"Sertifikasi ini menilai manajemen limbah, pengurangan emisi, efisiensi air, efisiensi energi, kualitas produk, dan manajemen sumber daya perusahaan, memberikan sertifikasi yang tepat jika mereka memenuhi kriteria tersebut dan mendorong tren dekarbonisasi yang berkembang," paparnya. 

Diacara yang sama Direktur Utama Nestlé Indonesia, Samer Chedid mengatakan peran pihak swasta untuk mensukseskan kebijakan tersebut menjadi sangat penting.

baca juga

Dia mengatakan di Nestle sendiri telah menjalankan prosedur ramah lingkungan dalam operasional.

"Kami di Nestlé berkomitmen mencapai emisi nol neto pada tahun 2050, dan kami memiliki peta jalan yang sangat jelas untuk mengurangi separuh emisi gas rumah kaca kami pada tahun 2030," kata Chedid.

Chedid menggambarkan bagaimana perjalanan berkelanjutan Nestlé Indonesia dalam dekarbonisasi melibatkan berbagai upaya di sepanjang rantai nilai dan juga berkontribusi pada kehidupan 36.000 petani susu dan kopi yang memproduksi untuk mereka.

Chedid mengungkapkan lima langkah Nestlé menuju dekarbonisasi sepanjang rantai nilai. Langkah pertama, katanya, adalah pengadaan melalui praktik pertanian regeneratif yang meningkatkan kesehatan tanah untuk kebun kopi negara ini dan manajemen pupuk kandang untuk peternakan susu; langkah kedua, manufaktur, di mana Nestlé Indonesia telah meningkatkan praktik manufaktur dengan menggunakan boiler biomassa sekam padi untuk mengurangi emisi GHG; langkah ketiga, pengemasan, dirancang agar dapat didaur ulang dan mengurangi plastik baru. 

Langkah keempat, ritel dan saluran bisnis: Nestlé Indonesia telah melakukan dua studi tentang kemasan isi ulang yang akan memungkinkan mereka memahami cara-cara baru dalam merancang produk mereka dan terakhir, langkah kelima, akhir siklus hidup, yang merupakan proses pasca konsumsi yang mendukung sistem pengelolaan limbah untuk mengurangi limbah dan mempromosikan ekonomi sirkular.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa memprediksi potensi kerugian negara akibat perubahan iklim sepanjang 2020 hingga 2024 mencapai Rp544 triliun.

"Potensi kerugian ini akan berasal dari penggenangan pesisir, kelangkaan air, kecelakaan kapal, penurunan produktivitas beras, peningkatan kasus penyakit sensitif, dan sebagainya," kata Suharso dalam acara Dialog Nasional Antisipasi Dampak Perubahan untuk Pembangunan Indonesia Emas 2045, Senin (21/8/2023).

Suharso mengatakan perubahan iklim akan mengganggu seluruh sistem kehidupan. Mulai dari berkurangnya ketersediaan air, kenaikan potensi kekeringan, dan munculnya wabah penyakit.

Kondisi-kondisi itu diperkirakan membuat lebih dari 100 juta penduduk dunia akan miskin. Selain itu, 4,8 miliar hingga 5,7 miliar penduduk global akan kekurangan air pada 2050.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kepala Bappenas Heran Kok Batam dan Singapura Beda Level Soal Polusi Udara

Kepala Bappenas Heran Kok Batam dan Singapura Beda Level Soal Polusi Udara

Bisnis | Senin, 21 Agustus 2023 | 11:55 WIB

Bersama Menteri Inggris, Brantas Energi Tangani Perubahan Iklim

Bersama Menteri Inggris, Brantas Energi Tangani Perubahan Iklim

Bisnis | Rabu, 09 Agustus 2023 | 21:57 WIB

Tak Hanya Sektor Kesehatan, Polusi Udara Bisa Sebabkan Ekonomi RI Rugi

Tak Hanya Sektor Kesehatan, Polusi Udara Bisa Sebabkan Ekonomi RI Rugi

Bisnis | Kamis, 27 Juli 2023 | 18:33 WIB

Terkini

Wastra Nusantara Jadi Identitas Modest Fashion Indonesia, Siap Tembus Pasar Global

Wastra Nusantara Jadi Identitas Modest Fashion Indonesia, Siap Tembus Pasar Global

Lifestyle | Rabu, 04 November 2026 | 19:32 WIB

Usai Penggerebekan Narkoba, Bangunan Liar di Kampung Bahari Dibongkar

Usai Penggerebekan Narkoba, Bangunan Liar di Kampung Bahari Dibongkar

Foto | Rabu, 04 November 2026 | 19:28 WIB

Pelindo Perkuat Transparansi dan Kemudahan Transaksi Kepelabuhanan melalui Dashboard ACS

Pelindo Perkuat Transparansi dan Kemudahan Transaksi Kepelabuhanan melalui Dashboard ACS

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 19:28 WIB

Soroti Retaknya Hubungan Elite Politik, Prabowo Didesak Bongkar Aktor Intelektual Kasus Penyadapan

Soroti Retaknya Hubungan Elite Politik, Prabowo Didesak Bongkar Aktor Intelektual Kasus Penyadapan

News | Rabu, 04 November 2026 | 19:26 WIB

Dugaan Penyadapan Ilegal Prabowo: Fakta, Pelaku, dan Misteri di Baliknya

Dugaan Penyadapan Ilegal Prabowo: Fakta, Pelaku, dan Misteri di Baliknya

Your Say | Rabu, 04 November 2026 | 19:25 WIB

Pesan Bos Freeport ke DSI: Jangan Perpanjang Birokrasi

Pesan Bos Freeport ke DSI: Jangan Perpanjang Birokrasi

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 19:24 WIB

Taj Yasin Siapkan Rorak untuk Pulihkan Ekologi Gunung Muria

Taj Yasin Siapkan Rorak untuk Pulihkan Ekologi Gunung Muria

News | Rabu, 04 November 2026 | 19:23 WIB

Perkuat Operasional Global, Pertamina Akuisisi Hak Partisipasi Moeve di Cekungan Berkine Aljazair

Perkuat Operasional Global, Pertamina Akuisisi Hak Partisipasi Moeve di Cekungan Berkine Aljazair

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 19:22 WIB

Freeport Targetkan Tambang Grasberg Pulih 100 Persen pada 2028

Freeport Targetkan Tambang Grasberg Pulih 100 Persen pada 2028

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 19:19 WIB

Bukan Cuma Gaji, Mental Karyawan Jadi Penentu Produktivitas Kerja

Bukan Cuma Gaji, Mental Karyawan Jadi Penentu Produktivitas Kerja

Bisnis | Rabu, 04 November 2026 | 19:10 WIB

×