Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.092,467
LQ45 682,759
Srikehati 330,936
JII 470,691
USD/IDR 17.400

Nasib Kelas Menengah RI Makin Suram, Tahun Depan Penderitaan Belum Hilang

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Sabtu, 23 November 2024 | 11:46 WIB
Nasib Kelas Menengah RI Makin Suram, Tahun Depan Penderitaan Belum Hilang
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohamad Faisal (Foto Fadil_Suara.com)

Suara.com - Tekanan ekonomi global yang berimbas pada Indonesia, ditambah dengan sejumlah kebijakan domestik, telah membuat kelompok kelas menengah di Tanah Air semakin suram dan terhimpit. 

Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2025, mengancam daya beli dan kualitas hidup masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Hal tersebut dikatakan Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohamad Faisal dalam acara Core Economic Outlook 2025 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu (23/11/2024).

"Perlambatan konsumsi Indonesia akan terus berlanjut pada 2025 khususnya bagi kelompok kelas menengah," ungkap Faisal. 

Dari data yang disampaikan Faisal terlihat bahwa pada 2023 proporsi kelas menengah pada struktur penduduk Indonesia tercatat sebesar 17,44%, angka tersebut turun 4% poin bila dibandingkan dengan level pra pandemic yakni mencapai 21,45% pada 2019. 

Disisi lain masyarakat kelas aspiring middle class (AMC) pada tahun 2023 tercatat sebanyak 49,47% atau meningkat dari jumlah masyarakat AMC yang sebanyak 48,20% pada tahun 2019.

"Ini artinya apa kelompok kelas menengah makin mengkhawatirkan, pendapatan mereka turun, tabungan merka makin menipis. Kondisinya sekarang "mantap" (makan tabungan)," cetus Faisal.

Diakui Faisal penurunan kelas menengah telah terjadi sejak sebelum pandemi Covid-19 dan kondisinya makin suram pasca pandemi hingga saat ini.

Jika konsumsi melambat, maka sudah pasti akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sehingga, pertumbuhan ekonomi juga bisa terancam melambat akibat menyusutnya konsumsi masyarakat.

Menurut Faisal, kelas menengah, khususnya menengah-bawah, adalah motor utama pertumbuhan ekonomi yang menyumbang hingga separuh dari total konsumsi rumah tangga.

"Ingat kelompok ini (kelas menengah) hampir 90% sehingga akan memberikan tekanan terhadap daya beli," paparnya.

Guna mengatasi masalah ini, katanya, pemerintah perlu membuat kebijakan fiskal yang pro terhadap kelas menengah. Berbeda dengan bansos untuk masyarakat miskin, pemerintah dinilai perlu membagikan bansos produktif untuk masyarakat kelas menengah, seperti penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi.

Selain itu, subsidi untuk kalangan masyarakat kelas menengah ini juga perlu diperluas. Namun Faisal mengingatkan bahwa subsidi ini pun harus selalu tepat sasaran.

"Jangan justru membuat kebijakan yang justru menahan kenaikan daya beli, seperti PPN yang naik, harga BBM yang naik," pungkasnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menteri Bappenas Bingung, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mandek di 5% Selama 20 Tahun Terakhir

Menteri Bappenas Bingung, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mandek di 5% Selama 20 Tahun Terakhir

Bisnis | Sabtu, 23 November 2024 | 10:41 WIB

Bongkar Mitos SCBD: Realita Hidup Pekerja Kerah Putih Gaji Dua Digit

Bongkar Mitos SCBD: Realita Hidup Pekerja Kerah Putih Gaji Dua Digit

Liks | Jum'at, 22 November 2024 | 11:18 WIB

Tax Amnesty Dianggap Kebijakan Blunder, Berpotensi Picu Moral Hazard?

Tax Amnesty Dianggap Kebijakan Blunder, Berpotensi Picu Moral Hazard?

Bisnis | Jum'at, 22 November 2024 | 06:15 WIB

Terkini

Emas Antam Terus Meroket, Hari Ini Harganya Rp 2,84 Juta/Gram

Emas Antam Terus Meroket, Hari Ini Harganya Rp 2,84 Juta/Gram

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 08:55 WIB

Ngeri! Macet Jabodetabek Rugikan RI Rp 100 T, BUMN Ini Punya Solusinya

Ngeri! Macet Jabodetabek Rugikan RI Rp 100 T, BUMN Ini Punya Solusinya

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 08:08 WIB

BI dan ASEAN+3 Siaga! Ancaman Krisis Ekonomi Global Kian Nyata

BI dan ASEAN+3 Siaga! Ancaman Krisis Ekonomi Global Kian Nyata

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 08:02 WIB

Ruijie Luncurkan Cybrey di RI Biar UKM Bisa Pakai Jaringan Kelas Kakap

Ruijie Luncurkan Cybrey di RI Biar UKM Bisa Pakai Jaringan Kelas Kakap

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 08:01 WIB

Tekan Beban Klaim BPJS Kesehatan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Opsi Realistis?

Tekan Beban Klaim BPJS Kesehatan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Opsi Realistis?

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:52 WIB

Kredit Tembus Rp8.659 Triliun, OJK Pastikan Kondisi Perbankan Masih Kuat

Kredit Tembus Rp8.659 Triliun, OJK Pastikan Kondisi Perbankan Masih Kuat

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:48 WIB

Wall Street Kembali Melambung Tinggi Setelah Perang AS-Iran Akan Usai

Wall Street Kembali Melambung Tinggi Setelah Perang AS-Iran Akan Usai

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:45 WIB

Beda CNG dan LPG, Benarkah Lebih Murah dari Gas Melon 3 Kg?

Beda CNG dan LPG, Benarkah Lebih Murah dari Gas Melon 3 Kg?

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:24 WIB

Harga Minyak Dunia Turun Lagi Usai Iran Tinjau Proposal Damai Amerika Serikat

Harga Minyak Dunia Turun Lagi Usai Iran Tinjau Proposal Damai Amerika Serikat

Bisnis | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:24 WIB

Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah

Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:07 WIB