Nasib Kelas Menengah RI Makin Suram, Tahun Depan Penderitaan Belum Hilang

Sabtu, 23 November 2024 | 11:46 WIB
Nasib Kelas Menengah RI Makin Suram, Tahun Depan Penderitaan Belum Hilang
Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohamad Faisal (Foto Fadil_Suara.com)

Suara.com - Tekanan ekonomi global yang berimbas pada Indonesia, ditambah dengan sejumlah kebijakan domestik, telah membuat kelompok kelas menengah di Tanah Air semakin suram dan terhimpit. 

Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2025, mengancam daya beli dan kualitas hidup masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Hal tersebut dikatakan Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohamad Faisal dalam acara Core Economic Outlook 2025 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Sabtu (23/11/2024).

"Perlambatan konsumsi Indonesia akan terus berlanjut pada 2025 khususnya bagi kelompok kelas menengah," ungkap Faisal. 

Dari data yang disampaikan Faisal terlihat bahwa pada 2023 proporsi kelas menengah pada struktur penduduk Indonesia tercatat sebesar 17,44%, angka tersebut turun 4% poin bila dibandingkan dengan level pra pandemic yakni mencapai 21,45% pada 2019. 

Disisi lain masyarakat kelas aspiring middle class (AMC) pada tahun 2023 tercatat sebanyak 49,47% atau meningkat dari jumlah masyarakat AMC yang sebanyak 48,20% pada tahun 2019.

"Ini artinya apa kelompok kelas menengah makin mengkhawatirkan, pendapatan mereka turun, tabungan merka makin menipis. Kondisinya sekarang "mantap" (makan tabungan)," cetus Faisal.

Diakui Faisal penurunan kelas menengah telah terjadi sejak sebelum pandemi Covid-19 dan kondisinya makin suram pasca pandemi hingga saat ini.

Jika konsumsi melambat, maka sudah pasti akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sehingga, pertumbuhan ekonomi juga bisa terancam melambat akibat menyusutnya konsumsi masyarakat.

Baca Juga: Menteri Bappenas Bingung, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mandek di 5% Selama 20 Tahun Terakhir

Menurut Faisal, kelas menengah, khususnya menengah-bawah, adalah motor utama pertumbuhan ekonomi yang menyumbang hingga separuh dari total konsumsi rumah tangga.

"Ingat kelompok ini (kelas menengah) hampir 90% sehingga akan memberikan tekanan terhadap daya beli," paparnya.

Guna mengatasi masalah ini, katanya, pemerintah perlu membuat kebijakan fiskal yang pro terhadap kelas menengah. Berbeda dengan bansos untuk masyarakat miskin, pemerintah dinilai perlu membagikan bansos produktif untuk masyarakat kelas menengah, seperti penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi.

Selain itu, subsidi untuk kalangan masyarakat kelas menengah ini juga perlu diperluas. Namun Faisal mengingatkan bahwa subsidi ini pun harus selalu tepat sasaran.

"Jangan justru membuat kebijakan yang justru menahan kenaikan daya beli, seperti PPN yang naik, harga BBM yang naik," pungkasnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI